
Dada Darla bergemuruh kuat saat melihat James dipeluk oleh wanita yang selalu mencuri pria yang ia cintai. Secepat kilat Darla menggerakkan kakinya hendak menghampiri mereka. Ia ingin menjambal rambut Esme. Namun langkahnya terhenti kala melihat James mendorong Esme hingga membuat wanita tersungkur ke lantai. Darla mematung di tempat.
Bruk!
"Jangan sentuh aku, Esme. Apakah kau tuli?! Aku sudah mengatakan padamu kalau aku mencintai Darla!"
Esme mengaduh kesakitan sejenak sambil bangkit berdiri dengan tertatih-tatih.
"Tapi–"
"Diam!!!Kau pikir aku tidak tahu sifat aslimu! Cih! Aku sangat bersyukur, kau meninggalkan aku waktu itu dan menikahi Eslin!"
Deg
Esme meneguk ludah berulang kali, ketika melihat James melayangkan tatapan tajam padanya sekarang.
"Kau wanita yang sangat licik, Esme. Lebih baik kau pulang, tidak usah kau menjelaskan keterlibatanmu dengan Orlando tempo lalu! Aku muak!" cecar James beruntun.
Esme tergugu. Beberapa hari yang lalu dia mendapatkan kabar kalau Orlando sudah masuk penjara. Esme dilanda kegelisahan, takut, jika Orlando membeberkan siapa dalang di balik penculikan Darla. Kemarin dia hendak menemui James, akan tetapi dia malah mendapatkan kabar jika James dan Darla berada di Moskow. Mendengar hal itu Esme sangat kesal karena Darla mulai dekat dengan keluarga James.
Esme sudah meminta bantuan Jane agar mengizinkannya memisahkan Darla dan James, akan tetapi tanggapan Jane di luar dugaan. Mantan calon mertuanya itu memblokir nomor-nya tiba-tiba dan membuatnya semakin resah dan gelisah.
Setelah mendapatkan kabar James akan kembali ke LA. Bergegas Esme ke mansion mantannya itu.
Ketika Esme datang tadi. Dia langsung mengatakan pada James kalau Darla yang terlebih dahulu menabuh genderang perang padanya. Esme memutar balikkan fakta, bercerita tentang. Esme terlihat gusar saat tak menanggapi penjelasannya, James diam seribu bahasa.
"James! Aku licik juga karena Darla, kalau saja dia tidak menganggu Eslin maka aku tidak akan menyakitinya!" Esme tengah membela diri.
"Berhenti menyalahkan oranglain! Apa kau mau aku mengatakan pada Eslin tentang kebusukanmu selama ini, tentang siapa ayah kandung anak pertamamu!" James menyeringai tipis.
Mendengar hal itu Esme tersentak. Lagi dan lagi James berhasil membuatnya terdiam.
"Grey! Usir wanita ini!" ucap James seraya memutar tubuhnya.
James terkejut melihat Darla berada di belakang tubuhnya berjarak dua meter darinya. Sementara itu Grey yang ternyata di dalam ruang, bergegas menyeret paksa Esme keluar dari mansion.
Setelah Esme keluar dari ruangan. James berjalan, mendekati Darla.
"Dear, sejak kapan kau di sini?"
James nampak cemas, melihat Darla memandanginya tanpa berkedip. Apa istrinya melihat dan mendengar semua pembicaraan mereka barusan, pikir James sejenak. James terlihat gelisah, karena tak mau Darla sampai stres. Sebab dia masih teringat perkataan dokter tempo lalu kalau wanita hamil sangat lah sensitif.
"Emm sejak kau dipeluk Esme." Darla ingin memarahi James namun hatinya senang tatkala mendengar James mengatakan cintai padanya tadi.
"Kau cemburu?" James menarik pinggang Darla lalu menatapnya dengan intens.
Darla mengangguk cepat seraya menampilkan mimik muka sedih. "Iya, aku sangat cemburu!"
"Maafkan aku, dear, aku kurang cepat bergerak, dia seperti ikan belut."
"Baik lah, aku maafkan," ucapnya, merajuk.
James merengkuh Darla seketika lalu memeluk istrinya dengan sangat erat. "Maafkan aku dear, aku tidak akan mengulanginya lagi," ujarnya sembari mengelus punggung Darla.
Darla mengurai pelukan lalu menatap James. "James, apa kau benar-benar mencintaiku?" Darla ingin mendengarkan langsung dari James, ungkapan cintanya.
James mengulas senyum. "Tentu saja, aku sangat mencintaimu, lebih dari nyawaku, apa kau perlu bukti? Harus kah aku bertekuk lutut dihadapanmu, atau aku harus menggarungi samudra dan mendaki gunung demimu," kelakarnya.
Darla tersipu malu sejenak. Ia memukul pelan lengan James lalu menundukkan kepalanya. Semburat merah nampak jelas dikedua pipinya saat ini.
"Aku mencintaimu, Darla,"ucapnya seraya menangkup pipi Darla lalu menatap dua bola mata Darla begitu dalam.
Darla tersenyum simpul. "Aku juga mencintaimu," ucapnya, lembut.