Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Nama Yang Tak Asing



Bugh!


Tengkuk James dihantam oleh anak buah Orlando, penglihatannya seketika kabur. Orlando dan anak buahnya bergegas meninggalkan James terkapar di jalanan.


Sementara itu, kini Grey tengah berusaha untuk keluar dari mobil. Karena dirinya terjepit di antara kursi mobil. Dengan sisa-sisa tenaga ia berhasil keluar. Grey melebarkan matanya, melihat tetesan minyak dari kendaraan roda empat milik James. Takut terjadi hal yang tak inginkan, ia pun beranjak, menjauhi puing-puing kecelakaan seraya menyeret tubuh James yang berada di dekat mobil.


Bledar!


Mobil James meledak di tempat. Tampak kobaran api meraup habis kendaraan tersebut. Seketika dari arah barat bunyi sirine mobil polisi terdengar nyaring. Grey menghela nafas kasar, melihat mobil polisi mendekati mereka.


*


*


*


Di sisi lain. Orlando menatap Darla dengan begitu intens. Ia tak menyangka wanita itu mengalami benturan cukup kuat di kepalanya tadi. Perasaan aneh tiba-tiba menyeruak di palung hatinya ketika melihat wajah muram Darla yang tengah tertidur pulas disebelahnya.


"Julian, siapkan kamar pribadi untuk wanita ini," kata Orlando melalui wirelles bluetooth.


Di ujung sana. Anak buah Orlando atau bisa dipanggil Julian, mengiyakan permintaan Tuannya. Pria berambut blonde dan berhidung mancung itu adalah orang kepercayaan Orlando Smith. Dia sudah mendedikasikan dirinya kepada Orlando selama sepuluh tahun lamanya.


Setelah mendapatkan perintah dari Orlando. Julian semakin mempercepat laju kendaraan. Ingin mendahului mobil Orlando di belakang sana.


Berjarak tempuh sekitar dua jam. Akhirnya Orlando tiba di kediaman bergaya eropa kuno itu. Dia memasuki pelataran mansion dengan perlahan sambil sesekali melirik Darla yang belum tersadar sedari tadi.


"Malang sekali nasibmu, karena harus menjadi istri James!" Orlando menekan pedal mobil dengan pelan kemudian memberikan kode pada anak buahnya untuk berjaga-jaga di depan mansion.


Setelah memarkirkan mobil. Lantas Orlando keluar dari mobil, kemudian mengangkat tubuh Darla.


"Tuan, biarkan saya saja yang membawanya," sahut Julian tiba-tiba dari samping.


Orlando menaikan sebelah alis mata. Kemudian berkata," Tidak usah biar aku saja, kau hubungi dokter sekarang datang ke sini."


"Tapi Tuan!" Julian ingin memprotes. Karena untuk pertama kalinya Tuannya mau mengangkat tubuh seorang wanita. Apalagi dia tahu jelas bahwa Orlando sangat membenci makhluk hidup bernama wanita. Jadi ia tak mau membuat Orlando berteriak di tengah malam dan memarahinya nanti.


"Kau mulai berani membantahku, Julian?" tanya Orlando dengan melayangkan tatapan tajam dan dingin kepada Julian yang sedang menunduk.


Julian tergugu, menatap lantai porselen di bawah sana dengan menarik nafas pelan.


"Maaf Tuan." Julian tak berani menatap mata Orlando sebab dia dapat merasakan aura yang berada di sekitar tubuhnya sangat tak nyaman.


"Hmmm." Orlando berdeham rendah kemudian melirik para maid memberikan kode agar menuntunnya ke kamar yang diperuntukkan khusus untuk Darla.


"Cepat bersihkan semua badannya dan obati lukanya juga," sahut James. Setelah merebahkan Darla di tempat tidur. Ia memundurkan langkah seketika, lalu melihat para maid melakukan tugasnya. Orlando memalingkan muka, ketika salah satu maid membuka pakaian atas Darla. Ia memutar badannya ke belakang.


Orlando meraba-raba dadanya yang sekarang cenat-cenut karena tadi tak sengaja melihat kulit mulus Darla.


"Ada apa denganku?" Guman Orlando pelan tanpa menurunkan tangannya.


Sepuluh menit kemudian. Darla nampak bersih dan sudah di perban lukanya. Orlando mendekat, melihat dengan intens wajah damai Darla yang menenangkan jiwanya sekarang.


"Tuan?" Julian menyelenong masuk ke dalam dengan membawa pria berstelan jas putih ke dalam kamar. Orlando menoleh kemudian memicingkan matanya, melihat kedatangan dokter muda bersama Julian.


"Tuan, aku membawa dokter untuk memeriksa Darla," sahut Julian melirik Darla sekilas di tempat pembaringan. Julian berdecak kesal, wanita itu membuatnya kewalahan sebab harus mencari dokter di tengah malam.


"Hm, lakukan tugasmu," perintah Orlando pada dokter muda itu. Sang dokter pun mengangguk lalu melakukan tugasnya.


Setelah memeriksa Darla. Dokter mengatakan tidak ada luka yang serius. Hanya saja sepertinya Darla mengalami keracunan makanan. Dia pun memberikan resep vitamin dan obatan kepada Julian, meminta pria itu besok pagi untuk menebus obat di apotik.


Selepas kepergian dokter. Orlando menatap Darla lagi, bertanya-tanya apa yang membuat Darla dapat keracunan.


"Tuan! Ada yang menelepon!" sahut Julian tiba-tiba membuyarkan lamunan Orlando.


Orlando tersadar, kemudian mengulurkan tangan, meminta ponsel miliknya pada Julian.


"Hallo," sapa Orlando terlebih dahulu.


"Bagaimana apa kau sudah melakukan tugasmu." Tanpa menyapa balik, seseorang di ujung sana berkata cepat.


Alis sebelah mata Orlando terangkat sedikit. "Kau tidak perlu tahu. Lebih baik kau mengikuti skenario awal."


"Tapi–"


Tak mau mendengar balasan dari ujung sana. Orlando segera memutus sambungan teleponnya. Kemudian menyodorkan benda mini itu kembali pada Julian.


"Jika dia menelepon lagi, matikan saja." Orlando mengusir Julian dari kamar. Julian mengangguk lalu melenggang pergi keluar.


Orlando beralih menatap Darla yang masih bergeming di tempat tidur tanpa sedikitpun terusik dengan suara-suara di dalam ruangan.


"James sangat beruntung memilikimu Nona." Orlando menarik nafas panjang. Kemudian memasukan tangan ke saku celana tanpa melepaskan pandangan matanya dari Darla.


Sementara itu di sisi lain. Grey menyugar rambutnya ke atas, melihat James sedang terbaring lemah di atas brangkar. Pria tua itu menyalahkan dirinya sendiri karena telah lalai melindungi James dan Darla. Ia penasaran dengan musuh James tadi, mengapa begitu bern@fsu sekali ingin mengalahkan James. Dan mengapa pula musuh James bisa tahu kelemahan James saat ini.


Grey menghembuskan nafas kasar, saat Dominic dan anak buah James sedang sibuk melacak keberadaan Darla sekarang. Pria tua itu berharap Darla baik-baik saja dan dapat segera ditemukan.


"Bagaimana keadaannya?" Dominic menghampiri Grey yang tengah berdiri menghadap ruangan James.


"Dokter mengatakan dia baik-baik saja. Esok hari Tuan James akan segera pulih," jawab Grey dengan mengamati grafik mesin di sisi kanan brangkar James. "Di mana keberadaan Nyonya Darla, apa dia sudah ditemukan?"


Dominic menarik nafas panjang sebelum membuka bibirnya. "Belum, pantauan terakhir mereka hilang di tengah hutan. Musuh Tuan James bukan orang sembrangan," katanya cepat.


"Semoga saja kau cepat menemukan Darla. Kau tahu sendiri kan akibatnya jika sampai Darla kenapa-kenapa. Kita yang akan kehilangan nyawa."


Mendengar hal itu. Dominic ketar-ketir karena perkataan Grey memang benar adanya. Dia berharap Darla dapat segera di temukan dan dalam keadaan yang baik-baik saja. Cukup lama keduanya menatap James dari luar ruangan. Baik Grey dan Dominic enggan membuka suara. Sedang menerka-nerka sesuatu.


"Siapa nama musuh Tuan James?" tanya Grey seketika membuat Dominic beralih menatap pria tua itu.


"Orlando Smith!" sahut Dominic.


"Smith?" Gurat kebingungan nampak jelas di wajah Grey sekarang. Sebuah nama yang tak asing ditelinganya.