Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Kembalilah Padaku



Sudah seminggu James dan Darla berada di Moskow. Keduanya nampak menikmati waktu senggangnya saat ini. Di tambah lagi hubungan keluarga Joseph sudah mulai membaik sekarang, tak ada perseteruan lagi di antara keluarga besar tersebut. Mereka sudah saling memaafkan satu sama lain.


Kini James dan Michael sudah seperti kakak dan adik pada umumnya. Begitupula Jane dan Joseph, pasangan paruh baya itu sangat gembira ketika mengetahui latar belakang menantunya yang ternyata mendiang papa Darla adalah teman bisnis Joseph dahulu.


Kehadiran Darla benar-benat membuat hidup James lebih berwarna sekarang. James sangat senang dan bersyukur, berkat Darla, ia dan keluarganya harmonis seperti dahulu kala. Hari ini, keduanya akan kembali ke LA.


Saat ini Jane dan Joseph berada di bandara, melepas kepergian James dan Darla. Sementara Michael tak sempat mengantar mereka karena harus berkerja di perusahaan milik papanya.


"Berhati-hati lah kalian, kalau sudah di LA, kabari mama dan papa." Jane memeluk menantunya dengan erat.


"Oke, ma, bermain-main lah ke LA, ma," ucap Darla seraya mengurai pelukan.


Jane tersenyum simpul. "Tentu saja, beberapa bulan lagi kami akan ke sana, mau melihat cucu-cucu kami. Jaga kandunganmu Darla, jangan terlalu capek."


"Iya, ma." Darla mengalihkan pandangan ke Joseph. "Jaga kesehatan juga pa." Ia memeluk sejenak papa mertuanya itu.


"Tentu saja, kau juga ya, makan lah yang sehat-sehat," balas Joseph.


"James, jaga istrimu jangan sampai dia stres." Jane memperingati James seketika.


James mengangguk. "Iya, tenang saja, ma," ucapnya seraya menuntun Darla masuk ke dalam pesawat.


*


*


*


"Hoek, hoek, hoek." Darla memuntahkan semua makanannya di kantong saat merasakan getaran di atas langit cukup kuat.


"Dear, apakah pusing?" tanya James, khawatir saat melihat istrinya sedari tadi muntah dan mual-mual. Dia sangat tak tega melihat istrinya nampak lemas.


Darla menggeleng, lemah. Lalu menyenderkan kepala di pundak James.


"Aku mau cepat tidur, sepertinya anak-anakku suka sekali membuat mamanya sakit," kelakar Darla sejenak.


"Baik lah kalau pusing katakan padaku, dear. Tenang saja, kalau mereka sudah lahir, aku akan membuat perhitungan pada mereka." James membalas guyonan istrinya juga. Darla mengangguk pelan dengan mengembangkan senyuman mendengar perkataan suaminya itu.


Setelah pesawat pribadi milik James landing di bandara Internasional LA. Keduanya bergegas keluar dan pulang ke mansion dengan menaiki mobil yang dikemudi oleh Dominic.


Mendengar hal itu, Darla merasa lega setidaknya tak ada lagi musuh James yang akan menyakiti, meskipun begitu dia harus tetap selalu waspada mengingat James seorang mafia.


"James, berarti sekarang musuhmu tidak ada lagi, Kan?" tanya Darla, harap-harap cemas.


James menoleh lalu mengulas senyum. "Dear apa kau takut?"


Darla mengganguk cepat.


"Musuhku akan selalu ada dear, tenang lah aku akan menjaga kalian," ucapnya seraya mencium Darla sekilas.


"James! Ada dominic di depan!" Darla mengerlingkan mata ke atas.


"Biarkan saja! Anggap saja dia patung," celetuk James dengan mengelus pelan rambut Darla.


Darla mendengus lalu mengerucutkan bibirnya dengan sangat tajam ke depan. James yang melihat muka Darla, nampak menggemaskan, menurutnya.


"Dear, kau harus dihukum!" seru James kemudian merengkuh Darla tiba-tiba. Darla tersentak namun membalas pula pelukan suaminya itu dengan tersenyum lebar.


*


*


Sesampainya di mansion. James segera keluar sembari menggendong Darla ala bridal style sebab beberapa menit yang lalu istrinya tertidur pulas.


Setelah merebahkan Darla di atas kasur. James bergegas keluar dari kamar hendak menemui seseorang, tadi Grey mengatakan ada seorang yang ingin bertemu James.


Belum sampai sepuluh menit, Darla terbangun dari tidurnya tiba-tiba. "Di mana aku?" Darla mengucek-ucek matanya sesaat. Lalu mengedarkan pandangan di ruangan.


"Ternyata aku sudah di LA huh, di mana James?" Darla mengerutkan dahi karena tak melihat keberadaan suaminya itu. Secepat kilat ia beranjak dan keluar dari kamar, kemudia berjalan-jalan di lorong sembari menelisik James.


"James! Maafkan lah aku, aku minta maaf, jangan seperti ini! Pasti Darla sudah meracuni pikiranmu!"


Darla menghentikan kakinya seketika tatkala mendengar suara yang sangat dia kenal. Dengan cepat dia berjalan mendekati sumber suara. Dia menyembulkan sedikit kepalanya di balik pilar. Kedua mata terbelalak saat melihat James dan Esme sedang berdiri saling memandangi satu sama lain.


Mendidih hati Darla sekarang apalagi dia dapat melihat dengan jelas, Esme tengah menatap James dengan penuh damba. Sementara dia tak dapat melihat mimik muka James, karena suaminya itu tengah membelakangi dirinya.


"James, kembali lah padaku! Aku tahu kau tidak mencintai Darla dan hanya menginginkan keturunan darinya. Aku masih mencintaimu, James!" Secepat kilat Esme berlari menghampiri James kemudian memeluknya dengan begitu erat.