
Nafas Darla tercekat mendengar perkataan James barusan. Apa dia tidak salah mendengar? Anniversary Eslin? Darla seketika ling-lung, mendengar nama seseorang yang sangat ia cintai di sebut. Walaupun Darla sudah menyerah dengan cintanya. Meski saat ini ia sudah memiliki seorang suami. Darla belum bisa menyingkirkan nama Eslin dihatinya
James mulai tersulut emosi ketika melihat respon Darla di luar ekspetasinya. Jantungnya berdenyut nyeri, menyadari ternyata Darla masih mencintai Eslin. Tak mau membuang banyak waktu. James memilih pergi meninggalkan Darla yang masih terpaku di tempat.
Sesampainya di depan pintu utama mansion. James melirik Grey yang berdiri tegap di depan pintu mobil.
"Grey, katakan pada Darla, suruh dia masuk ke dalam mobil!" perintah James.
Grey mengangguk. "Baik Tuan," katanya dengan membuka pintu mobil.
Setelah menutup pintu mobil. Grey bergegas masuk ke dalam mansion. "Nyonya, anda di suruh Tuan James masuk ke dalam mobil sekarang."
Darla segera tersadar, kemudian menoleh. "Loh sejak kapan James pergi." Darla kebingungan mengapa James tak mengajaknya masuk bersama-sama ke dalam mobil.
Enggan menyahut. Grey malah memberikan kode kepada Darla agar menuruti perintah James sebelum pria itu marah. Grey menebak bahwa mood James sedang tak baik-baik saja. Ia mengira ada yang terjadi di antara James dan Darla tadi.
*
*
*
Kendaraan roda empat milik James melesat pelan menuju tempat tujuan. Darla mengerutkan dahi, melihat perubahan sikap James berubah 180 derajat. Terkesan cuek dan mengacuhkannya dari tadi.
'Hm, mencurigakan, apa dia gugup mau bertemu Esme, ah sudah lah, lebih baik kau pikirkan dirimu sendiri Darla. Kau harus bersikap dewasa, hilangkan nama Eslin di hatimu sepenuhnya. Benar itu? Ayo semangat Darla!' Darla berbicara pada diri sendiri dengan mengepalkan kedua tangannya ke udara.
Tanpa sengaja ekor mata James, melihat gerak-gerik Darla. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba James menarik tangan Darla, dan membawa wanita itu ke dalam dekapannya.
"James! Dandanan ku nanti berantakan!" Darla terlonjak kaget ketika James tiba-tiba memeluknya erat.
"Shfft, diam lah Darla!" James mengendus-endus aroma tubuh Darla yang sekarang telah menjadi candunya. Sedari tadi James menahan diri untuk tidak mengajak Darla berbicara. Akan tetapi saat melihat gelagat Darla yang nampak menggemaskan dimatanya, ia sangat tak tahan, dan akhirnya sekarang ia pun relfek memeluk Darla.
"James, pakaian ku..." Darla berucap lirih merasakan kenyamanan saat James memeluknya erat. Pria itu seakan enggan melepas dirinya.
"Hmm." James mengindahkan perkataan Darla.
Akhirnya Darla pasrah, membiarkan James memeluknya. Darla menebak jika James gelisah karena harus bertemu mantan pacarnya, mungkin saja James mencari ketenangan dengan memeluknya.
Tak butuh waktu yang lama. Mobil James telah tiba di hotel berbintang lima, yang menjadi tempat acara anniversary Eslin dan Esme berlangsung. Nampak kendaraan-kendaraan mewah berjejer rapi di depan pelataran hotel.
Grey membuka pintu utama mobil James. Kemudian mempersilahkan James dan Darla untuk keluar dari dalam mobil.
"Silah kan Tuan." Grey membungkuk sedikit.
James menyembul keluar, lalu menoleh ke arah Darla, melihat Darla kesusahan mengangkat dress panjangnya itu. Tiba-tiba James mengulur tangannya pada Darla. Darla pun menerima uluran tangan James seraya satu tangannya mengangkat gaun.
"Wow, meriah sekali, apa bibi dan pamanku ada di sini." Darla bergumam kecil seraya mengedarkan pandangan ke segala arah.
James melirik Darla, kemudian berkata,"Mungkin, ayo kita ke dalam." James menuntun Darla agar melingkarkan tangan di lengannya. Secepat kilat Darla menautkan tangannya seraya melangkah perlahan menuju ballroom pesta.
"Hei James!" Melihat kedatangan James dan Darla di ujung sana. Esme melambaikan tangan dengan merekahkan senyuman.
James dan Darla menolehkan mata ke arah Esme. Darla melemparkan pandangan kepada James seketika. Entah mengapa dia sangat penasaran dengan reaksi James saat ini. James melayangkan tatapan datar, melihat Darla menatap lekat padanya.
'Dia kenapa?' James menarik tangan Darla kemudian menghampiri Esmeralda yang terlihat sendirian tanpa ditemani Eslin sekarang.
"Hai James!" Esmeralda hendak menempelkan pipinya ke pipi James. Namun dari arah belakang Eslin menarik tubuhnya membuat wanita itu sedikit terkejut.
"Eslin! Kau mengagetkan ku sayang," kata Esme dengan tertawa kecil.
"Jangan mencium pria lain di depanku, ingat!" kata Eslin kemudian mengecup sekilas bibir istrinya itu. Detik selanjutnya ia baru menyadari Darla ada dihadapannya.
"Kenapa kau di sini?!" tanya Eslin dengan nada yang dingin.
Enggan menyahut. Darla memilih diam. Hatinya berdenyut nyeri karena Eslin melayangkan tatapan hina padanya. Sekuat tenaga Darla menahan diri untuk tidak menangis dan melontarkan kata-kata kasar. Apalagi dia tak mau membuat James sampai malu saat ini.
James mendengus. "Apa begini cara kalian memperlakukan tamu undangan?" tanyanya dengan semakin mengenggam erat tangan Darla.
"Eslin, kau jangan seperti itu, aku yang meminta James, mengajak istrinya datang ke pesta aniversary kita."
"Oh my God, aku lupa memberitahumu, sayang. Sejak kejadian malam itu, James langsung menikahi Darla."
Mendengar hal itu. Eslin terkejut. Tak menyangka secepat itu Darla melupakannya padahal dahulu Darla selalu mengejar dirinya.
"Oh." Eslin membalas dengan beroh ria kemudian menatap Darla dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Merasa diperhatikan Darla enggan menolehkan matanya, memilih mengedarkan pandangan ke segala arah, mengamati interior pesta. James terbakar cemburu ketika Eslin menatap Darla begitu lekat. Sebisa mungkin ia meredam amarahnya saat ini.
"Selamat untuk kalian!" James menjabat tangan Eslin sembari melayangkan tatapan tajam.
"Terimakasih." Eslin menatap balik mata James, lalu melirik sekilas Darla yang cantik dan terlihat dewasa malam ini.
"Hmmmm." Dehaman kuat James membuat Eslin mengalihkan pandangan.
"Hei Darla ayo bergabung denganku, aku akan memperkenalkan mu pada teman-temanku, kita tinggalkan para pria ini mengobrol-obrol dulu."
Esme menarik tangan Darla seketika, menjauhi James dan Eslin yang masih bersitegang. Entah mengapa perasaan benci kepada Darla semakin bertambah di relung hati Esme.
Darla terkejut, melihat Esme untuk pertama kalinya mau bersentuhan tangan dengannya.
"Hai semua, perkenalkan ini Darla Vardy!" Begitu sampai di dekat teman-teman Esme yang sedang bercengkrama di meja bulat. Ia segera memperkenalkan Darla dihadapan teman-temannya.
Sebanyak lima orang teman Esme menoleh ke sumber suara.
"Vardy? Bukan kah itu mantanmu Esme?" kata salah seorang teman Esme berambut pendek model bob.
"Iya, kau benar. Vardy nama belakang mantanmu Kan? Memangnya dia memiliki seorang adik?" tanya temannya yang lain.
"Seingat ku Esme mengatakan James memiliki adik laki-laki bukan perempuan."
Mendengar perkataan salah satu temannya itu. Membuat teman-teman Esme yang lainnya semakin penasaran.
Esme terkekeh sejenak. "Oh my God! Kalian masih saja ingat kalau James mantan terindah ku itu, memiliki seorang adik laki-laki. Ini bukan adiknya melainkan istrinya."
Mendengar hal itu mereka terkejut sekaligus berdecak kagum.
"Tunggu dulu, tadi kau bilang namanya Darla?"
Esme mengangguk dengan merekahkan senyuman penuh arti.
"Oh my GOD! Guys, kalian masih ingat tidak Esme dulu pernah bercerita pada kita bahwa ada pelakor yang berusaha menggoda suaminya, dan aku ingat betul nama wanita itu Darla Marques, apakah dia Darla yang sama?" tanya temannya lagi. Gurat penasaran tergambar jelas diraut wajahnya.
"Iya, benar aku Darla Marques." Akhirnya Darla membuka suara sebab dia tahu sekarang apa tujuan Esmeralda memperkenalkan dirinya pada teman-temannya.
Semua teman Esme tercengang kemudian tanpa banyak kata beranjak dari tempat duduknya. Melayangkan tatapan permusuhan pada Darla.
"Esme, mengapa kau mengundang pelakor kecil ini kesini. Lihat pakaiannya itu, pasti palsu!"
"Esme mengapa kau terlalu baik, jangan karena James mantan pacarmu, kau malah menggundangnya kemari."
"Aku tidak habis pikir, wanita ini sangat murahan sekali! Selalu saja mengambil barang bekas darimu, Esme." Teman Esme berambut blonde memasang wajah angkuh sembari menyilangkan tangan di dada.
"Diam kalian!" seru Darla. Sudah habis kesabaran Darla sekarang, sebab Esme dan teman-temannya mempermalukannya di depan semua orang tanpa tahu alasan yang jelas mengapa dia ingin sekali memisahkan Eslin dan Esme.
"Wow lihat dia! Berani sekali melawan kita!"
"Hei, sudah lah teman-teman, walau bagaimana pun Darla juga anak majikan Eslin sewaktu dulu. Tentu saja aku berbaik hati mengundangnya kemari, pasti dia tak tahan kan dikurung di mansion James. Apalagi aku sangat tahu James itu sangat galak dan mudah marah kalau aku melakukan kesalahan kecil." Esme menautkan tangannya ke lengan Darla tiba-tiba.
"Mengapa kau sangat baik Esme."
"Eslin sangat beruntung memiliki istri sempurna seperti dirimu, daripada wanita ular ini!"
"Cukup!" Darla menyentak kasar tangan Esme. Membuat Esme mengaduh kesakitan sejenak.
"Awh!" desis Esme. Melihat hal itu secepat kilat teman Esme yang berambut pendek mendekati Darla.
Plak!!!