
'Tuan, ini jengkolnya aku taruh di mana?" tanya Dominic
James membalas perkataan tangan kanannya itu dengan mengarahkan mata ke atas meja di dekat jendela.
Secepat kilat Dominic meletakan pesanan bosnya itu. Satu jam yang lalu dia mendapatkan perintah dari James untuk membawa perlengkapan memasak ke rumah sakit.
Dominic sangat terkejut saat James mengatakan dia akan memasak di sana. Namun yang membuat Dominic lebih terkejut lagi, James meminta padanya untuk mencari resep semur jengkol. Sebagai kaki tangan James, Dominic segera menyanggupi permintaan Tuannya itu.
Saat ini di hadapan Darla, ruangan sudah di sulap menjadi dapur. Wanita itu tersenyum lebar, melihat James memakai celemek sekarang. Jiwa jahilnya meronta-ronta melihat mimik muka James nampak tak bersahabat sekarang. Harus Darla akui, dia ingin menyantap semur jengkol sebelum peristiwa penculikan terjadi. Akan tetapi tak kesampaian pula hingga tepat hari ini, akhirnya dia bisa makan semur jengkol kesukaannya itu.
Darla sangat menyukai raut muka suaminya saat ini. Tak menyangka demi mendapatkan sebuah ciuman James mau menuruti perkataannya tadi.
Kini Darla sedang menunggu James memasak semur jengkol. Dahi Darla berkerut kuat manakala mengamati James hanya terdiam saja dan tak bergerak sama sekali dari tadi.
Sementara itu, James tengah kebingungan apa yang harus dia lakukan, kedua netra itu memandang bumbu-bumbu di depan dengan seksama seraya melirik secarik kertas di atas meja tertera resep semur jengkol.
"Kenapa hanya diam, memasak lah James?" Darla sangat tak sabaran.
James tergelak, menatap sendu pada istrinya itu.
'Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?' James menggaruk kepalanya sejenak.
"James, rebus jengkolnya dulu!" Seakan mengerti kegundahan sang suami, Darla memberikan perintah pada James seketika.
James tergugu, masalahnya dia tidak tahu cara merebus jengkol. Dominic yang melihat kepanikan James, memberikan arahan dengan bahasa isyarat.
Pria bernetra abu-abu itu segera mengambil panci lalu merebus jengkol sesuai perintah Dominic. Lima belas menit berlalu, James masih disibukkan, memasak makanan kesukaan Darla.
*
*
*
"Hmmm sepertinya enak." Aroma semur jengkol menyeruak ke indera penciuman Darla. Dia sangat tak sabaran mencicipi semur jengkol buatan suaminya itu.
James mengelap peluh keringat di keningnya sejenak, lalu menaruh semur jengkol ke mangkok. Seulas senyum tipis terukir di wajah sangar James saat melihat Darla tersenyum padanya sekarang.
James ragu dengan hasil masakannya, mengingat dia memasukan penyedap rasa lumayan banyak tadi. Dia pun berinisiatif meminta Dominic mencicipi sedikit masakannya terlebih dahulu.
James mengamati ekspresi Dominic yang sedang mengunyah pelan semur jengkol. "Bagaimana?" tanyanya penasaran.
'Makanan apa ini, mengapa rasanya aneh, apa aku harus berkata jujur?' Dominic membekap mulut tiba-tiba karena perutnya bergejolak menerima makanan asing, dia tak mampu menahan diri sebab semur jengkol sangat tak enak. Bergegas pria bertubuh kekar itu keluar dari ruangan, meninggalkan James yang masih mematung di tempat, menunggu jawaban dari tangan kanannya itu.
"Dear, cepat lah kemari, tunggu apa lagi!" Lamunan James buyar ketika Darla membuka suara lagi. James segera tersadar, kemudian menghampiri Darla sambil membawa nasi dan semur jengkol.
James melihat Darla mulai mengambil semur jengkol dan mengarahkan sendok ke mulutnya.
"Tunggu dulu!" James menahan tangan Darla, membuat sendok tak sampai ke mulut Darla.
"Kenapa James? Aku sudah lapar tahu!" ucap Darla dengan nada kesal.
"Aku harus mencicipinya terlebih dahulu." James segera mengambil alih sendok kemudian mengunyah pelan masakannya tersebut.
'Oh my God! Aku mau muntah!' James menutup mulutnya hendak mengeluarkan semur jengkol yang ia makan barusan. Demi apa pun masakannya sangat tak enak, rasa asin dan pahit begitu kentara dilidahnya.
James memberikan kode, meminta pada Darla jangan memakan masakannya dan izin keluar ruangan. Darla tak mengerti namun dia membalas dengan menganggukkan kepala.
Selepas kepergian James. Darla mengambil lagi semur jengkol kemudian memakan masakan James. Mata Darla melebar seketika saat mengunyah perlahan jengkol dimulutnya.
*
*
*
"Hoek, hoek, hoek! D@mn! Masakan ku benar-benar tidak enak!" James memuntahkan semua makanan di mulutnya. Dia begitu kesal karena masakan yang dia masak dengan sepenuh hati tadi ternyata sangat tak enak.
Lima menit kemudian James kembali ke ruangan. Sepasang mata itu terbelalak, ketika melihat Darla menyantap semur jengkol dengan lahap sekarang.
"Dear! Kenapa di makan?" James mengambil cepat piring Darla.
"James! Apa yang kau lakukan! Aku lapar tahu!"
"Tap–"
"Ada apa? Sudah lah James, kemarikan semur jengkol ku, kau tahu James, masakanmu sangat lah enak, aku sangat menyukainya."
James melonggo. "Ha?"
Melihat James mematung di tempat, secepat kilat Darla mengambil piring kembali kemudian makan semur jengkol sampai habis. James bingung, apa lidahnya yang salah, atau lidah Darla. Sebab apa yang dirasakan dirinya dan Darla berbanding terbalik mengenai masakan semur jengkolnya.
"Terimakasih James," ucap Darla seraya mencium pipi James tanpa sadar. "Besok masakan aku lagi semur jengkol ya." Sambungnya seraya meletakkan piring di meja.
James tersenyum tipis, meski dia masih keheranan dengan tanggapan Darla mengenai masakannya.
"Tentu saja, aku akan memasak untuk anakku ini." James mengelus pelan perut Darla yang nampak masih datar.
'Pada kenyatannyaa James hanya menginginkan anak dariku. Kenapa aku jadi sedih sih? Apa James akan menceraikan ku setelah anak ini lahir nanti.' Darla tersenyum miris teringat James hanya menginginkan pewaris darinya.