
Orlando menatap Darla dengan seksama. Mengapa wanita berparas cantik ini sangat unik dan berbeda. Harus Orlando akui Darla bukan lah wanita yang mudah diperdaya. Orlando penasaran dengan latar belakang Darla. Ia pun melirik Julian sekilas, memberikan kode pada tangan kanannya itu untuk mencari identitas Darla.
Julian mengerti, ia mengangguk cepat, kemudian keluar dari ruangan dengan perlahan, gara-gara tendangan Darla tadi Julian kesusahan berjalan. Sebelum menghilang di pintu, Julian menatap sinis Darla.
Sedangkan Darla membalas tatapan Julian, dengan mengerlingkan bola mata malasnya. Ia berdecak kesal sejenak karena tingkah Julian sangat menyebalkan, menurutnya. Selepas kepergian Julian. Suasana di dalam ruangan hening. Baik Darla dan Orlando sama-sama terdiam, keduanya sedang menerka-nerka sesuatu.
Darla memandang sinis Orlando, ia menebak jika Orlando adalah musuh James. Hal itu dapat ia lihat dari cara Orlando mengatakan kematian James dengan mimik muka senang.
Insting kuat Darla menebak bisnis antara James dan Orlando tak menguntungkan jadi Orlando dendam pada James. Mengapa Darla bisa menebak semua itu dengan benar? Itu semua karena dia memiliki keluarga seorang mafia, yaps, pamannya, Leon adalah ketua mafia di Los Angeles. Salah satu kelompok mafia bernama Montero. Yang terkenal di negeri paman sam ini. Jadi dia sedikit mengetahui seluk-beluk kehidupan para mafia.
Darla berdecih sesaat, kemudian berjalan menuju ranjang, lalu duduk di tepi ranjang.
"Sampai kapan kau seperti patung? Kau ingin mengurungku kan? Biar aku tebak, pasti kau mau menjadikan aku umpan?" ucap Darla. Membuat Orlando mengedipkan mata dengan cepat.
"Mengapa kau kaget? Tidak usah kau pikirkan, ternyata permainan mu sangat licik Orlando Smith, James lebih gentle-man daripada dirimu!" sahut Darla lagi.
"Jangan lancang kau Nona!!!" pekik Orlando menggelegar membuat Darla tanpa sadar mengelus dadanya seketika.
"Lancang?" Darla menggeleng pelan. "Itu terbalik Mister Smith, aku yang seharusnya mengatakan, jangan lancang kau, Orlando Smith, berani sekali kau, menculik ku!!" sahutnya sembari melayangkan tatapan merendah.
"Diam kau!!!" Orlando menahan sabar, karena sikap Darla membuat kepalanya sakit.
"Oke, aku akan diam!" Darla menggerakan tangan dengan mengunci bibirnya seketika.
"Sekarang kau harus menjadi budak s3k5 ku!" sahut Orlando tiba-tiba dengan berjalan, mendekati Darla.
Darla mengepalkan kedua tangannya, tanpa ba bi bu, dia berlarian ke sisi kanan ruangan, mengambil tongkat baseball di dinding, kemudian melayangkan pukulan di tubuh Orlando.
Dugh! Dugh!
Terdengar hantaman kuat di tubuh Orlando. Darla menyerang Orlando tanpa memberi pria itu jeda untuk bernafas dan beristirahat.
Crek!
Terdengar bunyi tongkat baseball patah. Darla melebarkan mata ketika Orlando mengambil paksa tongkat basebal dari tangannya. Pria itu menarik tangan Darla seketika kemudian menyilangkan tangan di leher Darla. Sinyal marahabaya segera aktif, tanpa banyak kata Darla menyikut rahang dan perut Orlando.
Dugh! Dugh! Bugh
"Argh! Berhenti kau Darla! Hentikan!" pekik Orlando untuk kesekian kalinya. Dia terkejut bukan main, gerakan Darla begitu terlatih seperti orang yang sering bertarung. Orlando memundurkan langkahnya, menatap Darla dengan tatapan yang sulit diartikan. Orlando berdecak kesal sejenak, tanpa banyak kata keluar dari kamar Darla.
Selepas punggung Orlando menghilang. Darla berteriak histeris.
"Argh! Ini semua gara-gara James, dasar mafia mesum! Seandainya saja aku tidak menikah dengannya, mungkin saja aku sekarang sedang memasak semur jengkol di tempat kerjaku!" umpat Darla dengan nafas yang memburu, menahan gejolak amarah dipalung hatinya. Dia tak menyangka menjadi istri mafia sangat lah berbahaya dan bisa membuat nyawanya melayang seketika.
Darla mendengus kasar, kemudian melirik pintu kamar. Melihat para maid masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa lagi ini?" tanya Darla jenggah kepada dua maid muda dihadapannya.
Para maid membungkuk sedikit. "Maaf, Nona. Tuan Orlando memerintahkan kami untuk menyiapkan air mandi anda," sahut salah satu maid berwajah oval.
Ada kerutan di dahi Darla, mendengar ucapan maid barusan. "Apa semua sandera selalu diperlakukan istimewa?" tanya Darla kepada dua maid.
"Cepat jawab," ucap Darla lalu mendengus kasar.
"Maaf Nona, kami bingung, sandera yang dimaksud Nona siapa," balas maid berwajah ovak itu lagi.
"Ah sudah lah ternyata kalian tidak mengerti!" Darla memberengut kesal. "Siapkan lah air untukku." Suara Darla terdengar bossy.
Keduanya mengangguk patuh kemudian berjalan menuju kamar mandi.
'Ha sampai kapan aku di sini, aku harus cari cara keluar dari mansion ini, apa James mencariku?' Darla bermonolog di dalam hati sejenak, menerka-nerka apa kah James mencari keberadaannya saat ini. Benak Darla dipenuhi bayangan wajah James sekarang. Entah mengapa Darla begitu merana ketika menyadari sekarang dia jauh dari James.
"Hmm, ayo lah Darla malam ini kau harus mencari cara." Darla bergumam pelan, menatap dua maid berjalan mendekatinya kini.
Kedua maid itu mengatakan air mandi sudah siap. Darla pun langsung masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri dengan berendam di bathtub. Darla menarik nafas panjang, seraya menyenderkan kepalanya, menatap langit-langit kamar mandi yang nampak mewah dan megah. Setelah selesai mandi, Darla bergegas kembali ke kamar, memakai pakaian yang sudah disiapkan para maid.
"Percuma memakai pakaian bagus, tapi nyatanya hidupku bagai di penjara," sahut Darla dengan memutar-mutar tubuhnya sejenak. Melihat gaun rumahan yang di bawah kakinya mengembang sedikit.
"Nona, sarapan anda." Salah seorang maid bertubuh tambun menyodorkan nampan yang di dalamnya berisi segelas susu dan sandwich daging.
Darla mengambil minuman berwarna putih itu, dan meneguknya hingga tandas. Lalu ia beralih menyambar sandwich berlapis daging sapi, memasukan makanan itu ke mulutnya.
"Hoek!" Belum juga ia mengunyah makanan itu. Darla merasa mual kala aroma sandwich begitu menyengat. Secepat kilat ia meletakkan sandwich itu, lalu berlari menuju kamar mandi.
"Nona!!!" teriak dua maid serempak. Melihat Darla berlari sangat cepat ke dalam ruangan.
"Hoek, hoek, hoek, hoek!" Darla memuntahkan susu yang baru saja ia minum tadi. Maid pun segera memijit tengkuk leher Darla. Saat memandangi wajah Darla yang ternyata pucat.
"Nona, anda beristirahat saja dulu," sahut maid berwajah oval. Gurat kecemasan tergambar jelas diwajahnya saat ini.
"Hoek, hoek, hoek." Darla masih duduk berjongkok di depan closet dengan memegang dadanya.
"Aduh bagaimana ini?" Kedua maid itu saling melemparkan pandangan, takut jika Darla sakit karena susu atau makanan yang mereka buat tadi.
Sepuluh menit kemudian. Sekarang Darla tengah merebahkan diri di atas ranjang dengan memakai selimutnya. Bingung, mengapa dia tiba-tiba tak mampu mencium bau daging tadi. Dengan mata terpejam, Darla memberikan kode pada maid untuk mengambilkannya air putih.
"Terimakasih!" sahut Darla setelah selesai meneguk minuman transparan itu.
"Anda seperti orang hamil saja, Nona. Dulu bibi saya ketika hamil anak pertamanya. Dia muntah-muntah, karena tidak mampu mencium bau daging," cerocos maid berwajah oval itu seraya mengambil gelas dari tangan Darla.
Deg.
Jantung Darla berdetak cepat mendengar perkataan maid barusan. Ia meneguk ludahnya berkali-kali, lalu mengelus perutnya yang rata itu dengan perlahan.
"Hamil?" gumam Darla pelan. Teringat jika tanggal menstruasinya sudah lewat alias telat.
Di sisi lain. Saat ini James memuntahkan seluruh sarapan di rumah sakitnya. Ia tak berselera menyantap makanan di rumah sakit yang menurutnya hambar dan tak enak.
"Hoek, hoek, hoek, hoek!" James memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. Grey terlihat cemas, melihat keadaan James yang tampak lemah sekarang.