
Warning! 18++
James membungkam cepat bibir Darla yang terlihat mengigil. Lidahnya berselancar ria di rongga mulut Darla. Sembari mengecup dan memanggut Darla. Pria itu meloloskan semua pakaian Darla hingga Darla tak sadar bahwa ia sekarang benar-benar polos. Tangan James bergerilya kemana-mana membuat Darla mendesah pelan. Saat mendengar suara Darla, James semakin bersemangat meraba-raba tubuh Darla.
Semula Darla ingin menolak James akan tetapi otak dan keinginannya tak terkoneksi dengan baik. Alhasil dia pun terbuai dengan perlakuan James. Ia binggung pada dirinya sendiri mengapa mudah terhanyut dalam permainan James. Seketika entah malaikat atau setan yang melintas dibenaknya menyadarkan Darla. Ia pun mendorong dada James.
"James, stop! Jangan di sini! Aku mohon...." Dada Darla nampak naik dan turun. Ia menatap lekat mata James. Di saat ada kesempatan Darla berencana akan kabur sebab ia tak mau memiliki hubungan lagi bersama James. Apalagi mengetahui keluarga James sangat toxic, menurut Darla.
James menahan dirinya, melihat dengan seksama wajah wanita yang berhasil meluluhlantahkan hatinya. Sekarang James baru menyadari bahwa nama Darla sudah terukir di benak dan hatinya.
James menangkup kedua pipi Darla. "Kau tidak nyaman di sini? Oke, kita ke hotel."
Darla mengulas senyum karena berhasil memperdayai James.
"Kau dengar itu, kita ke hotel sekarang!" perintah James kepada supir di depan.
Kendaraan roda empat James melesat laju di jalan raya. Sedari tadi hujan dan guntur bersahut-sahut menemani mobil melaju ke tempat tujuan. Tak butuh waktu yang lama. Mobil merk limosin berwarna hitam itu berhenti di bassement hotel milik James. Mengetahui sang pemilik hotel tiba. Karyawan-karyawan bergegas melakukan tugasnya.
Saat ini, James berjalan di koridor menuju kamarnya. Ia sedang menggendong Darla ala bridal style. Darla berdecak kesal karena rencananya untuk kabur terdeteksi oleh James. Nampak seluruh tubuh Darla ditutupi selimut. James mengulas senyum melihat Darla cemberut.
Sesampainya di kamar. James segera melempar tubuh Darla di atas kasur. Membuat Darla berteriak histeris.
"James, aku bukan boneka!" Darla menendang-nendang sejenak membuat kain yang menempel ditubuhnya terbuka lebar.
"Wow, kau menggoda ku ya?" James melepas kemeja hitam dan celana hitamnya yang basah dengan cepat.
"Tidak!" Darla hendak beranjak dari tempat tidur akan tetapi dengan gesit James menarik kaki sebelah kanan Darla.
"Argh! Lepaskan aku! Dasar mesum! Kau sama saja seperti Michael!"
James mulai tersulut emosi. "Aku berbeda dengannya, dia memang seperti itu, bahkan barang bekas milikku saja dia pungut," kata James membuat Darla mengerutkan dahi.
"Maksudnya?" Darla memundurkan tubuhnya hingga sekarang ia mentok di penyangga tempat tidur.
"Kau tidak perlu tahu, sekarang kita harus sering-sering bercocok tanam agar penerus ku cepat lahir ke dunia." James mencengkal kedua tangan Darla dan mengurung Darla di bawah tubuhnya seketika.
"Tidak mau! Aku membenci mu James!" Darla memalingkan muka kala merasakan lekukan tubuh atletis James menempel di tubuh polosnya. Jujur Darla tak mampu melihat tubuh James yang benar-benar menggoda iman.
"Benarkah?" James dapat melihat rona merah di kedua pipi Darla. Dia menyeringai tipis kemudian mengecup pipi kanan Darla.
Darla enggan menyahut. Sebab sekarang ia merasakan tubuhnya panas dan jantungnya berdetak cepat seakan mau melompat keluar.
Hening sejenak!
Detik selanjutnya James menarik wajah Darla agar dapat melihatnya.
Deg.
"Mengapa kau sangat naif?" tanya James.
James mengamati bibir munggil Darla yang sekarang menjadi candunya. Mengabaikan pertanyaan James. Darla tengah melamun merasa dejavu dengan tatapan itu. Karena tak mendapatkan respon dari Darla. Tanpa banyak kata James mengecup bibir Darla kemudian mengec@p dan meny3s@p pelan bibir wanita itu. Sementara Darla pasrah dengan situasi saat ini. Bohong, jika ia tak mau berhubungan badan dengan James. Sebagai seorang wanita dewasa, ia mempunyai nafsu juga, dahulu Darla selalu penasaran bagaimana rasanya making love. Ketika bertemu James, pria yang tampan dan mempesona. Membuat Darla seketika lupa dengan rasa bencinya terhadap James.
Cukup lama James mem@gut bibir Darla. Kemudian dia beralih mencium leher jenjang Darla dan tak lupa meninggalkan jejak-jejak kecil di seluruh lehernya. Darla mendesah kuat membuat James semakin bersemangat. Apalagi sekarang James berpindah menyes@p choco chip Darla yang berwarna pink. Menjadikan tubuh Darla bergerak-gerak ke sembarang arah.
"Ah, James..." ucap Darla dengan memejamkan mata.
"James!" jerit Darla kala merasakan intinya di masuki jari James.
"James, please! Stop!" Darla meminta berhenti kala James semakin mempercepat gerakan jari-jemarinya di bawah sana. Mengindahkan perkataan Darla, James semakin mengerakan tangannya sembari menyesap choco chip milik Darla.
Tampak tubuh Darla melengkung ke atas. Seketika di bawah sana cairan putih mengalir keluar. Darla dapat merasakan inti tubuhnya berkedut. Wanita itu terkulai lemas setelah mendapatkan org@sme pertamanya barusan. James menjauhkan sedikit wajahnya, ingin melihat Darla yang sudah lemas karena ulahnya.
"Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan, meski ini bukan yang pertama bagi kita. Tapi yang pertama bagimu merasakan kenikmatan rudal ku ini, karena kemarin kau mabuk berat." James melepaskan cepat kain segitiga miliknya.
Darla memalingkan muka melihat keperkasaan James menyembul keluar. Ia menjerit di dalam hatinya, kala membayangkan bagaimana rasanya benda tumpul dan padat itu mengobrak-abrik dirinya. Pasalnya ukuran ular sanca milik James sangat besar dan panjang.
Dengan sisa tenaga Darla hendak memundurkan tubuhnya. Melihat pergerakan Darla, James memeluk Darla kemudian mengecup kening wanita itu.
"Tenanglah ini tidak akan sakit, percaya padaku!" katanya seraya menuntun rudalnya masuk ke dalam liang kenikmatan.
Jleb!
"Ah! James, sakit..." ucap Darla dengan lirih kala benda asing melesak masuk ke dalam tubuhnya.
James tak langsung menggerakan tubuhnya. Ia menunggu Darla untuk tenang dulu. Pria itu mengecup sekilas bibir ranum Darla yang nampak menitihkan air matanya.
"Apakah sudah?" Pertanyaan bodoh meluncur bebas dari mulut Darla membuat James terkekeh sejenak.
"Kenapa kau tertawa ha?!" Darla menangis sembari memayunkan bibirnya.
"Karena kau sangat lucu!" Melihat Darla sudah tak meringis kesakitan. James mulai menggerakan tubuhnya dengan pelan sembari menyatukan jarinya ke jemari Darla.
Sekarang suara er@ngan dan des@han memenuhi ruangan kamar. Darla mendesah nyaring sembari memanggil nama James berulang-ulang. Sedangkan James begitu bersemangat ketika mendengar suara mendayu Darla yang terkesan seksi menurutnya. Semula hentakan terdengar pelan namun lama-kelamaan terdengar cepat. Membuat tempat tidur itu ikut berdecit bersahut-sahut dengan suara Darla.
"James... Aku lelah..." sahut Darla setelah merasakan James menabur benih di tubuhnya.
James menyeka jejak keringat di dahi Darla kemudian tersenyum tipis.
"Ini baru satu ronde Darla dan belum subuh..." kata James membuat Darla membuka matanya.
"Ha? Satu ronde? Maksudnya? Aku tidak– ahhh, James...."
Tak mau mendengar penolakan Darla. James kembali memaju mundurkan pinggulnya membuat Darla berteriak lagi untuk kesekian kalinya. Hingga pukul empat subuh James terpaksa menyudahi pergulatan ketika melihat Darla nampak keletihan. Dia tak tega melihat wanitanya kecapean karena ulahnya.