Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Sisi Lain James



Melihat kedekatan Darla dan James, Laura meradang, secepat kilat ia berjalan menghampiri Darla.


Plak!


Sebuah tamparan kuat melayangkan tepat di pipi kanan Darla membuat Darla terkejut sekaligus murka.


Plak!!!


Terdengar suara tamparan lagi bergema di ruangan itu membuat James, Jane, Michael dan Grey tercengang, melihat Darla menampar balik pipi kiri Laura. Mereka terlonjak kaget karena melihat setetes darah mengalir pelan di sudut bibir Laura.


Laura meringis kesakitan. Seketika air matanya jatuh di pipi. Dia mengusap darah dibibirnya seraya menatap ke arah James dan Jane secara bergantian.


"Darla!!!" pekik Jane. Wanita paruh baya itu beranjak dari tempat duduknya. Tanpa banyak kata melangkah ke arah Darla hendak melayangkan tamparan juga, akan tetapi Darla dengan gesit menangkis serangan lalu mencengkram kuat pergelangan tangan Jane.


"Awh! Lepaskan aku!" teriak Jane dengan melebarkan mata sebab cekalan tangan Darla sangat kuat membuatnya meringis kesakitan.


"Tidak akan! Sebelum kau mengatakan pada calon menantu mu ini untuk meminta maaf padaku!" Darla berseru membuat Jane mendengus kasar.


"Cih! Minta maaf katamu?! Memangnya dia salah apa?" tanya Jane dengan tersenyum sinis.


Darla menoleh pada James yang sedari tadi terdiam membisu menyaksikan perseteruan antara dirinya dan Laura. "James, apa begini orang kaya seperti kalian bersikap?" tanya Darla sembari mempererat cengkaraman tangannya.


James hanya terdiam. Pria itu sepertinya malas melihat aksi yang dilakukan Laura dan Jane barusan.


"Kenapa dengan sikap kami ha?!" Melihat putranya tak membalas ucapan Darla, Jane bertanya kembali kepada Darla.


"Aku tidak bertanya pada mu, Nyonya!" Darla menyentak kasar tangan Jane membuat wanita paruh baya itu terhuyung sesaat ke belakang.


"Dasar j@lang! Dia sangat tidak sopan, Mama!" Tangis Laura sudah mereda, melihat keberanian Darla. Dia hendak menyerang lagi, namun seketika pergerakan tangannya terhenti kala James menghalangi dirinya. Pria itu berdiri di depan Darla tiba-tiba.


"James! Aku harus memberikannya pelajaran! Dia sudah lancang menggodamu di depan aku!" Laura melototkan mata seraya menyentuh tubuh James.


"Diam kau! Darla tidak menggodaku! Aku yang menyuruhnya menyuapi ku tadi! Lebih kau keluar dari rumah ku!" bentak James dengan melebarkan mata.


"James, kau berbohong Kan?! Ayo cepat jawab! Dia itu wanita j@lang!!!" teriak Laura lagi bagai orang kesetanan.


Plak!!!


Plak!!!


Dua kali tamparan mendarat di pipi kanan dan kiri Laura. Semua orang yang berada di ruangan kembali terkejut melihat James menampar Laura begitu kuat hingga pipi Laura memerah dan berdarah lagi. Terkecuali Grey dan Michael, keduanya sudah mengetahui sifat asli James.


"James! Mengapa kau menamparku?! Kau membela wanita jal@ng itu ha?!" ucap Laura dengan nafas yang memburu.


"Diam!!! Sekali lagi kau mengatakannya j@lang! Kau akan aku beri perhitungan!"


"Tapi dia memang jal@ng!!!" protes Laura cepat.


Tanpa banyak kata, James mencekik Laura membuat kaki wanita itu terangkat sedikit. Jane dan Darla menjerit meminta James melepaskan Laura ketika melihat muka Laura sudah memerah dan nafasnya tersengal-sengal.


Mata James sudah diselimuti kabut hitam pekat. Seakan tuli ia tak memperdulikan teriakan Jane dan Darla. James sangat tak suka mendengar perkataan Laura barusan' saat mengatakan Darla jal@ng, hanya dia yang boleh. Camkan itu.


"James! Lepaskan Laura, Nak! Mama mohon!" Jane nampak panik melihat kedua tangan Laura bergetar kuat.


"Kakak! Hentikan! Laura akan mati Kak, lepaskan dia!!" teriak Michael juga.


"James, lepaskan dia," kata Darla pelan, mendengar suara Darla, amarah James seketika mulai mereda.


Melihat perubahan ekspresi putranya, Jane menebak jika James menyukai Darla. Dia begitu marah jikalau tebakannya benar.


James menurunkan tangannya, melihat Laura merosot ke bawah. Wanita itu memegang lehernya yang memerah dengan terbatuk-batuk.


"Ough, ough, ough!" Laura melihat ke arah Darla melayangkan tatapan tajam dan dingin. Begitu dendam gara-gara Darla ia diperlakukan kasar oleh seorang pria yang selama ini ia cintai dalam diam. Bukannya merasa bersalah dan merenungi kesalahannya, secepat kilat ia bangkit berdiri, begitu ada celah Laura langsung menjambak rambut Darla.


Darla terkejut mendapatkan serangan mendadak. James naik pitam, satu tangannya terulur menarik kuat rambut Laura. Kemudian menyentak kasar Laura hingga wanita itu terjatuh ke lantai, secepat kilat ia menyeret Laura.


Jane dan Michel merutuki kebodohan Laura sejenak. Sedangkan Darla tak bisa berkata apa-apa mendengar raungan Laura bergema di ruangan. Darla bingung harus bagaimana lagi. Sebab Laura tidak jera sedikitpun walaupun sudah di cekik tadi.


"James! Apa yang mau kau lakukan padanya?!" tanya Jane ketakutan melihat James menyeret Laura ke koridor yang menuju ke salah satu ruangan eksekusi.


James menoleh, seringai licik terpatri jelas diwajahnya.


"Menurut Mama apa yang akan aku lakukan?" tanyanya tanpa menurunkan tangan dari kepala Laura. Sedari tadi Laura menjerit histeris karena tarikan James begitu kuat membuat rambutnya berguguran di lantai.


"James! Jangan! Mama mohon, Nak, kasihani lah Laura,." Bergegas Jane mendekat, kemudian berlutut di hadapan James, meminta James melepaskan Laura.


"Nak, Mama mohon!" Jane menyatukan kedua tangannya di dada seraya mendongakkan kepalanya ke atas.


Seakan tuli James semakin menarik rambut Laura. Ia berjalan cepat seraya menyeret wanita itu.


"James!!" Jane tak tega mendengar teriakan dan isakan tangis Laura yang meminta James melepaskannya sedari tadi.


"Diam!!!" pekik James membuat Jane terpaku di tempat mendengar suara anaknya menggelegar di lantai satu.


Sementara itu, Darla dan Grey saling melemparkan pandangan. Berbeda dengan Michael, pria itu berdecak kesal sejenak karena ulah Laura sendiri membuat wanita itu masuk ke sarang buaya.


*


*


*


Ruang eksekusi.


"Lepaskan aku, James! Aku mohon..." Laura berucap dengan lirih. Saat ini ia merasa tubuhnya begitu remuk.


James tersenyum sinis, lalu melirik sekilas body guardnya yang berada di ruangan.


"Ikat wanita ini di kursi, hari ini kita akan memberikannya pelajaran biologi," ucap James membuat sang bodyguard merekahkan senyuman.


"Baik, Mister. Pakai alat yang mana, Mister? Tang atau besi?" tanyanya dengan semangat.


"Terserah kau, lakukan tugasmu dengan cepat, aku mau beristirahat sebentar" James menghempas kasar kepala Laura, kemudian berjalan cepat mendekati sofa berwarna hitam.


Sang bodyguard mengangguk seraya memilih-milih senjata di dalam lemari besi.


"Cepat lah, aku tidak punya banyak waktu." Saat ini James, menatap lurus ke depan, melihat Laura sudah di ikat di kursi kayu. James tengah duduk tenang di sofa sembari menghirup sepuntung rokok.


Mendengar hal itu, bodyguard bergegas mengambil pisau berukiran gerigi kecil. Laura melebarkan matanya kala melihat penampakan pisau itu yang menurutnya sangat tajam.


"James! Jangan, lepaskan aku, aku minta maaf James, sungguh aku minta maaf." Laura panik sekaligus takut melihat sorot mata James begitu menyeramkan. Dia baru menyadari telah melakukan kesalahan besar.


"Jangan!!!" Raungan Laura terdengar pilu kala pisau mengiris sedikit pipi sebelah kanannya.


James iba? Oh tidak? Yang ada dia malah menikmati jeritan tangisan Laura. Bagi seorang mafia seperti James, hal itu sudah biasa baginya. Detik selanjutnya ruangan eksekusi dipenuhi suara tangisan Laura.


"Jangan, hentikan, tolong aku..." ucap Laura dengan lirih ketika rasa sakit mendera di sekujur tubuhnya.