
"Beberapa kilometer dari sini Tuan. Sepertinya dia bersama Diego sekarang."
Tanpa banyak kata James berjalan mendekati pria itu. Dan menepuk pundak sang mata-mata. Kemudian berkata,"Awas saja kau berbohong, nyawamu akan ku cabut." Mendengar hal itu sang mata-mata mematung di tempat dengan degup jantung berdetak kencang.
"James! Kau mau ke mana?" Jane beranjak dari tempat tidur, menghampiri James yang tengah membelakanginya.
"Kau tidak perlu tahu!" James mendengus kemudian menyentak kasar tangan Mamanya. Lalu melirik Grey yang masih di posisi semula.
"Grey, aku masih memiliki hati, untuk kali ini' aku memaafkan mu, bereskan semua kekacauan ini!" James berlalu pergi meninggalkan Grey dan Jane di ruangan.
Saat ini James berada di dalam mobil hendak menjemput Darla yang katanya berada di hutan XXX. Supir yang bertugas menyetir mobil melirik-lirik James sedari tadi di kaca spion tengah mobil. Ia dapat melihat James begitu resah dan gelisah. Suasana di dalam mobil begitu hening.
"Tuan sepertinya akan hujan?" Sang supir membuka suara kala melihat prediksi BMKG di layar lcd dashboard menampilkan keterangan akan turun hujan.
"Kalau begitu, percepat laju mobil ini!" sahut James membuat sang supir otomatis mempercepat laju kendaraannya.
*
*
Sementara itu Darla dan Diego berteduh di salah satu pohon besar di sisi jalan. Keduanya nampak keletihan karena harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh dari mansion. Darla merutuki kebodohannya sejenak karena keluar mansion tanpa memikirkan jarak tempuh mansion dan pusat kota. Ia merasa beruntung tadi Diego menyusulnya ketika melihat Darla keluar dari gerbang.
"Fiuh, mengapa Tuanmu itu membuat rumah di dekat hutan, Diego?" Darla menyenderkan kepalanya ke pohon sembari melihat ke arah jalanan apakah ada mobil lewat atau tidak. Sebab sedari tadi tak ada kendaraan lalu lalang yang melintas.
Seketika terdengar suara guntur bersahut-sahut di atas sana. Darla sungguh berharap ada kendaraan yang lewat sekarang.
"Rawrr!" Diego mengaum rendah. Entah binatang itu mengerti atau tidak tapi yang pasti dia mulai mendekatkan diri pada Darla yang kedinginan saat angin malam menerpa kulit tipisnya.
"Terimakasih, Diego!" sahut Darla dengan mengelus pelan punggung Diego. Tiba-tiba apa yang tak diinginkan Darla pun terjadi, hujan pun turun membasahi pepohonan. Membuat Darla dan Diego semakin menempelkan tubuhnya. Keduanya meringkuk di bawah pohon sembari menunggu hujan berhenti. Namun harapan mereka pupus kala hujan semakin bertambah deras. Darla mendesah kasar. Begitu tak tega melihat tubuh Diego mengigil sekarang karena berusaha melindungi dirinya.
Dalam kegelapan malam dan derasnya hujan. Tampak cahaya lampu mobil bersinar di ujung sana. Darla tersenyum tipis kemudian tanpa banyak kata berjalan cepat ke tengah-tengah jalan raya.
Suara decitan mobil melengking beradu dengan jalanan aspal. Membuat Darla menutup telinga dan matanya tanpa sadar.
"Diego! Masuk ke dalam!" sahut James cepat membuat Darla yang masih berdiri di depan mobil membuka mata dan menurunkan tangannya.
"James..." ucap Darla lirih. Pria yang ia sangat hindari saat ini menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan. James berjalan cepat menghampiri Darla yang masih bergeming di tempat. Wanita itu mode jaringan lelet.
"Kenapa kau pergi dari?!" tanya James dengan menyentuh kedua pundak Darla. Darla segera tersadar kemudian hendak berlari dari James akan tetapi James dengan gesit mengangkat tubuh Darla seperti karung beras.
"James! Lepaskan aku! James!!!" Darla memukul kuat punggung belakang James.
"Tuan!" panggil sang supir ketika melihat James dan Darla di belakang kemudi. Pria itu nampak ketakutan melihat Diego berada di sampingnya.
"Apa?!"
"Makhluk ini..." Sang supir ketakutan melihat Diego duduk di sampingnya dengan tenang.
James tengah menahan tangan Darla agar wanita itu tak keluar. "Kau tidak perlu takut, dia sudah terlatih, sekarang cepar kau jalankan mobil ini dan tutup kaca pembatas! Kalau kau mendengar sesuatu, abaikan!" sela James cepat membuat Darla melebarkan matanya.
"James, lepaskan aku!" jerit Darla kala kaca pembatas berwarna hitam tertutup rapat.
"Tidak! Kau nakal sekali ya!" James mencengkal kedua tangan Darla hingga wanita itu seketika panik.
"Kau mau apa?!" Darla menelan ludah berkali-kali melihat jakun James naik dan turun menandakan pria itu sedang menahan gairah. Apalagi sorot mata James seperti kemarin membuat dia semakin waspada.
Enggan menyahut. James malah merobek paksa pakaian Darla.
"James! Hen-"