Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Kabur



Siang menjelang sore. Darla tertidur sejenak di atas kursi sembari memutar otak, mencari celah untuk bisa kabur dari mansion Orlando. Walaupun matanya terpejam, kedua telinganya mendengar dengan seksama perbincangan dua bodyguard di dalam ruangan. Keduanya sedang membicarakan hal-hal random, dari makanan hingga pertandingan bola.


Darla menarik nafas pelan dikala ikatan di belakang tangannya terlalu kuat. Ia mendengar suara hentakan kaki mendekatinya. Karena penasaran, ia pun membuka perlahan kelopak matanya, melihat Orlando tersenyum penuh arti padanya.


"Kau sangat cantik Darla, mengapa kau tidak meninggalkan James, hidup lah bersamaku." Orlando memegang dagu Darla seketika, menatap wanita itu dengan penuh nafsu.


Darla memalingkan mukanya, secara bersamaan pula tangan Orlando terlepas.


"Cih! Menjijikan! Lebih baik aku mati daripada tinggal bersamamu!" Darla berseru cukup lantang hingga membuat Orlando mulai tersulut emosi, saat melihat pancaran mata Darla tersirat penghinaan padanya.


Grep!


Orlando menjambak rambut Darla hingga Darla mendongkakan kepalanya ke atas. Darla menggeram rendah, ketika rambutnya di tarik sangat kuat.


"Pria pengecut! Kau hanya berani pada wanita! James lebih baik darimu!" Darla menyeringai tipis kemudian menyentak kasar dagunya.


Plak!


Tamparan kuat mendarat di pipi sebelah kanan Darla. Orlando membungkuk, menatap Darla dengan intens, seketika ia memajukan wajahnya ingin mencium Darla, akan tetapi Darla menyundul wajah Orlando dengan cepat.


Bugh!


Orlando mengaduh kesakitan, tubuhnya terhuyung ke belakang sesaat. Ia memegang wajahnya seketika. Sedangkan Darla menyeringai tipis melihat Orlando mengumpat kasar sekarang.


"Bitc*!" Orlando mendekat hendak menampar Darla lagi.


"Tuan, seseorang ingin bertemu dengan anda." Julian menyelonong masuk ke dalam membuat Orlando menghentikan gerakan tangannya. Pria itu menoleh ke arah Julian.


"Siapa?" tanyanya.


Julian membalas dengan menggunakan bahasa isyarat. Melihat hal itu Orlando mengerti, bergegas ia pergi keluar dari ruangan. Sementara itu, Julian masih di dalam ruangan tengah memandangi Darla dengan melayangkan tatapan hina.


Darla menatap balik Julian. Saat ini keduanya saling bersitatap satu sama lain.


"Pencundang," desis Darla pelan namun bisa di dengar Julian. Julian membalas dengan menyeringai tipis, kemudian dia melenggang pergi dari hadapan Darla.


'Bingo!' Darla sudah menemukan tak tik untuk kabur. Dia melihat para bodyguard sembari menggerak-gerakkan ikatan tali di belakang tubuhnya.


'Aku harus kabur malam ini, semoga saja berhasil.'


*


*


*


Malam pun tiba. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Saat ini suasana kediaman Orlando tampak sunyi. Hanya terdengar suara cicitan binatang kecil di dalam hutan belantara, rembulan di atas sana terlihat terang benderang, menyinari mansion milik Orlando hingga menembus ke jendela kecil di bawah tanah, tempat di mana Darla di kurung.


Darla melihat pantulan cahaya itu dari dalam, sembari melirik sesekali dua bodyguard yang sedang menahan kantuk. Karena dari tadi mereka tak bergerak sedikitpun.


'Ini waktunya.' Darla menyeringai tipis kemudian menegakkan tubuhnya.


"Shftt, hei," panggil Darla pada seorang bodyguard yang masih terjaga sedikit.


Pria itu menggelengkan kepala, segera tersadar kemudian beralih melihat Darla. Darla tersenyum tipis, lalu membuka pahanya lebar seakan menggoda bodyguard itu.


"Kenapa kau tak bermain sebentar denganku, ayo lah Tuanmu tidak akan tahu." Darla mengigit bibir bawahnya seketika. Melihat kaki jenjang dan paha Darla terekspos, bodyguard itu menelan ludahnya berulang kali, secara bersamaan pula ularnya di bawah sana berdiri di balik celana.


"Kau sangat seksi Nona." Pria itu tersenyum tipis, menatap Darla dengan tatapan lapar sembari membuka ikat pinggangnya.


"Of course." Darla tersenyum tipis sembari menggerakan sedikit tangannya di belakang yang sekarang ikatannya sudah terlepas.


Bugh!


"Argh!" Seketika pria iti mengaduh kesakitan dikala Darla menendang burungnya, secepat kilat Darla menyundul pria itu hingga terkapar ke lantai dan berlari ke bodyguard yang lainnya.


***


Dor!!!


Terdengar suara tembakan menggelegar dan suara sirine berbunyi di seluruh mansion membuat Orlando terbangun dari tidurnya. Bergegas dia keluar dari kamar menuju lantai satu.


"Tuan! Darla kabur!" Julian berseru. Tampak para bodyguard dan anak buah Orlando berada di belakangnya.


"Si@l! Di mana dia sekarang?!" Orlando mengepalkan kedua tangannya seketika.


"Dari rekaman CCTV dia menuju hutan, Tuan!" sahut Julian berjalan cepat ke ruangan lain.


"Damn!! Bagaimana bisa?! Kalian semua tidak becus berkerja! Sekarang kita tangkap dia!" Orlando mencari pistol di laci meja.


"Tapi Tuan?" Julian menahan tubuh Orlando.


"Apa lagi?!" murka Orlando sebab Julian mengulur-ulur waktu.


"James sudah mengetahui tempat persembunyian kita. Sekarang dia berada di gerbang di sebelah barat."


"Argh!" Orlando meradang sebab James telah mengetahui posisi markas tempat penyimpanan narkotika miliknya.


"Tim A dan tim B, ikut aku ke markas sekarang. Dan kau Julian temukan Darla, lepaskan Sitka," sahut Orlando cepat dengan tersenyum tipis.


"Tapi Tuan Sitka belum diberi makan," ucap Julian.


"Maka dari itu kita akan memberinya makan," sahutnya dengan menyeringai tipis. Julian bergedik ngeri melihat wajah sangar Orlando sekarang. Tanpa banyak kata ia berlalu pergi hendak melakukan tugasnya.


*


*


*


Saat ini Darla tengah berlari kencang di tengah-tengah hutan, nafas Darla tersengal-sengal, dia bingung harus ke arah mana saat ini, dengan bantuan sinar rembulan dia melihat jalan setapak di hutan. Darla terus berlari tanpa tahu ke mana tujuannya pergi.


"Auuuummmmmmmmm!" Terdengar suara binatang buas di ujung sana membuat Darla panik seketika. Ia berlari lebih kuat dari sebelumnya, sesekali dia melihat ke belakang sejenak.


"Awh!" Kaki Darla tiba-tiba tersangkut di lilitan akar pohon dan tanpa dia ketahui di depannya ada jurang yang sangat curam. Ia pun berguling-guling cepat ke bawah sana.


"James..." ucap Darla pelan, tampak darah mengalir di keningnya ketika batu besar mengenai kepalanya barusan.


...****************...


Maafkan author gak rajin update 😫😥 hari ini author usahakan up beberapa bab ya 🙏. Terimakasih yang masih setia membaca dan kasi komentarnya, uda seminggu ini author masih sakit, batuk masih belum sembuh sampai sekarang.