
"Diego!"
Darla mengangkat tangan ke depan. Memberikan perintah kepada Diego agar berhenti. Secara ajaib Diego menghentikan pergerakan kakinya.
"Rawr!" Diego mengaum sejenak kemudian duduk di lantai, menatap lekat wanita dihadapannya. Tatapan tajam itu berubah menjadi tatapan memelas kala melihat Darla tersenyum padanya.
"Good! Kau ini nakal sekali, mengapa badanmu bau?" tanya Darla kepada binatang yang mungkin tak mengerti dengan perkataannya. Namun balasan Diego di luar nalar, dia malah mengaum-aum seperti seekor kucing yang bertemu pawangnya.
Sementara itu, James dan Grey tercengang, melihat pemandangan di depan. Darla begitu berani dan tenang menghadapi Diego. Baru kali ini Diego mau diperintah, selain James. Dan hebatnya Diego langsung mau mengikuti titah Darla, orang yang baru pertama kali dia temui. Sedangkan James dahulu butuh waktu berbulan-bulan untuk dekat dengan James.
"Tuan, sepertinya Diego sangat menyukai Nona Darla." Grey melihat Darla tengah mengelus perut Diego yang bertingkah seperti seekor kucing. Pria tua itu berdecak kagum di dalam hatinya karena untuk pertama kalinya Diego mau bersosialisasi dengan manusia selain James dan dirinya. Sebulan lalu, Diego pernah menyerang seorang maid yang mau memberinya makan. Grey pun kebingungan mengapa Darla begitu mudah meluluhkan hati Diego yang keras itu.
"Hmm," James membalas dengan berdeham rendah. Ia tak melepaskan pandangan mata dari Darla dan Diego yang sedang asik dengan dunianya.
"James!" Darla mendekat, Diego pun mengikuti langkah kaki Darla dari belakang.
"Ada apa?" tanya James.
"Mengapa Diego tidak dimandikan?"
"Dia tidak mau dimandikan, maka dari itu tugasmu sekarang adalah memandikannya." James menjentikkan tangan kepada Diego yang sedang menempelkan tubuhnya di kaki Darla sedari tadi.
Darla menyeringai tipis."Tapi ada imbalannya?"
James memicingkan mata, melihat gelagat Darla yang tampak mencurigakan. "Apa imbalannya?"
"Aku mau makan dulu, setelah selesai makan aku akan memandikan Diego dan memberinya makan, bagaimana?"
Alis sebelah kiri James terangkat sedikit. Mendengar permintaan Darla barusan. "Hanya itu?"
"Tidak." Darla tersenyum penuh arti.
"Sudah ku duga, apa yang kau mau?" Kali ini suara James terdengar dingin dan tajam membuat Diego menatap sang tuannya, heran. Seperti seekor kucing, Diego menjilati tangan Darla seketika.
"Hihi, geli Diego, hentikan." Darla mengelus kepala Diego. Kemudian beralih menatap James. "Akan aku katakan nanti, cepat lah, aku sudah lapar."
"Katakan sekarang!"
"Tidak mau!"
"Sekarang! Mengapa kau sangat keras kepala?! Aku adalah Tuanmu di sini!"
"Suka-suka aku! Sadarlah kau juga keras kepala! Bukannya kau suamiku, ups maksudku suami yang tidak tau diri!"
"Kau! Benar-benar harus di hukum Darla!"
"Hukum saja! Aku tidak takut!"
Darla dan James kembali berdebat membuat Grey yang dari tadi terdiam menutup telinganya. Diego pun yang mendengar dan melihat perseteruan menatap keduanya secara bergantian. Hewan berbulu putih itu nampak kebingungan.
"Rawrr!!!" Diego mengaum nyaring membuat James dan Darla menghentikan perdebatan.
"Ada apa Diego?" tanya Darla.
"Rarrrr!" Diego menarik-narik pakaian Darla. Hendak menuntun Darla menuju kandangnya. Tanpa banyak kata Darla mengikuti Diego. Sesampainya di dalam kandang, Darla menutup hidungnya karena aroma di kandang sangat tak sedap.
"Diego, kenapa?" Diego segera melepaskan gigitan kemudian mengambil sesuatu di dalam sana.
"Ini bonekamu?" tanya Darla melihat Diego menyodorkan sebuah boneka beruang kecil yang kotor dan kumuh.
Diego mengaum rendah.
Darla tersenyum. "Apa kau memintaku, membersihkan boneka kesayanganmu ini?" Menebak jika Diego menginginkan bonekanya dimandikan juga.
Diego membalas dengan mengaum lagi. Darla sekali lagi merekahkan senyumannya, melihat Diego sangat lucu dan semanis ini. Kemudian ia beralih menatap James.
"James! Karena pekerjaanku sangat banyak hari ini, kabulkan permintaanku," kata Darla membuat James mendengus.
"Terserah! Jangan meminta yang aneh-aneh!" James ingin sekali lagi bertanya apa yang diinginkan Darla, akan tetapi mengingat Darla begitu keras kepala, ia mengurungkan niatnya.
Darla mengangguk.
***
Setelah selesai makan di dapur. Darla pergi ke ruangan Diego, memandikan dan memberinya makan. Tak lupa juga dia mencuci boneka mini milik Diego. Dan menjemur boneka tersebut agar cepat kering. Selagi menunggu, dia kembali lagi ke ruangan Diego ingin melihat apa yang dilakukan Diego di dalam sana.
"James!" Darla menyelenong masuk tanpa mengetuk pintu membuat James yang tengah menghirup rokok berdecak kesal.
"Apa?" James menghembuskan asap ke udara.
"Aku mau bertanya tentang Diego?" Darla menghempaskan bokong di sofa yang berhadapan dengan James.
James menahan sabar melihat Darla bertindak semau hati, dia malas berdebat, memilih diam. Dia mengangkat alisnya,lalu berkata,"Kau punya waktu dua menit."
Darla berdercih. "Berapa umur Diego? Lalu di mana keluarganya, dan aku memintamu melepaskan Diego di taman saja, kasihan, dia sendirian di ruangan itu."
James menarik nafas panjang, satu tangannya menyugar rambut depannya.
"Dia masih kecil, sanak saudaranya sudah mati di buru pemburu, apa kau bilang? Di lepaskan di taman? Kau mau melihat para maid dan bodyguard di bunuh olehnya?"
Darla tak langsung membalas perkataan James, dia sedih karena nasib ia dan Diego kurang lebih sama tak memiliki orangtua lagi.
"Tenang lah aku akan melatihnya, agar dia tak menyerang orang-orangmu." Pinta Darla tulus.
"Mengapa kau sangat peduli dengan Diego?"
"Entahlah, mungkin karena aku dan dia memiliki nasib yang sama."
"Maksudmu?" James mengerutkan dahi. Jujur saja dia tak mencari latar belakang Darla.
"Aku tidak memiliki orangtua lagi," kata Darla datar.
James terkejut dengan perkataan Darla barusan. Darla memutar bola mata malas, ketika sorot mata James yang nampak iba.
"Sudah! Tidak usah kau kasihani aku, sekarang aku hanya mau Diego tidak berada di ruangan itu." Darla beranjak, sebelum James mengiyakan permintaannya.
"Mengapa wanita itu selalu saja pergi sebelum aku suruh?!" Selepas kepergian Darla. James memijit pangkal hidungnya. Bingung apakah menuruti perkataan Darla atau tidak. Karena dia tahu Diego lumayan agresif jika sudah berada di luar.
James pun memutuskan menyusul Darla ingin bernegosiasi, membicarakan perihal tentang Diego.
Sementara itu. Kini Darla bersama Diego di ruangan. Darla sedang mengelus-elus badan Diego. Diego nampak senang dengan kehadiran Darla.
"Diego, kalau kau menuruti perintahku, kau bisa keluar dari sini." Darla menggaruk pelan kepala Diego.
Seakan mengerti, Diego mengaum rendah menanggapi ucapan Darla.
"Darla! Kita perlu bicara." James masuk ke dalam seraya menatap tajam Darla.
Darla mengangguk. Kemudian pamit kepada Diego dahulu sebelum keluar ruangan.
"Ada apa?" tanya Darla.
"Dengar, leb–"
Perkataan James terhenti ketika seorang maid tak sengaja menumpahkan minuman panas di tubuh Darla. Entah sengaja atau tidak, maid tersebut bukannya meminta maaf pada Darla tapi malah minta maaf kepada James.
"Awh!" teriak Darla tatkala minuman itu membuat kulit tangan dan dadanya melepuh.
"Maafkan saya Tuan." Maid itu menundukkan kepala.
"Hm, pergi kau dari sini!" bentak James seketika membuat maid itu nampak ketakutan.
"Ish, maid mu itu tidak becus berkerja, pasti dia sengaja! Ini semua gara-gara dirimu!" Darla kesal karena maid itu tak mengucapkan maaf padanya. Ia menebak jika para maid memusuhinya karena ulah James yang selalu menyuruhnya melakukan tugas.
"Sudah lah, kau ganti bajumu itu di ruangan pribadiku. Setelah selesai ada yang perlu kita bicarakan."
"Mengapa harus di ruanganmu, aku bisa ganti di kamarku!"
"Harus, kamarmu di lantai bawah, dan yang pastinya membuang banyak waktuku. Ke ruanganku sekarang!"
Darla menghentakkan kaki ke lantai sesaat kemudian terpaksa menuruti perkataan James.
"Lama sekali dia." James bergumam sembari melirik daun pintu ruangan. Pria itu harus menahan sebal karena sudah lima menit berlalu, Darla tak kunjung keluar. James terpaksa masuk ke dalam ruang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Deg.
James meneguk ludah berulang kali ketika melihat Darla tak memakai sehelai benangpun ditubuhnya. Secara bersamaan pula dedek James bangkit berdiri, melihat kulit mulus Darla terpampang jelas dihadapannya. Sementara itu, Darla tak mengetahui keberadaan James, dia tengah asik mengelap dadanya yang memerah.
"Ish, dasar maid gila! Untung saja asetku ini memakai bra anti badai!"cerocos Darla tanpa tahu bahwa dirinya tengah diperhatikan James saat ini.