
"Apa kamu bilang?" tanya Mike tidak percaya.
"Aku ikut ke Jakarta" jawab Edward kalem.
"Whoah! Ada apa nih petinggi MB turun gunung?" ledek Brandon.
"Iya lho. Cukup aku sama bang Brandon saja yang ke Jakarta untuk acara amal itu. Ya nggak bang?" Vivienne mengedipkan sebelah matanya.
"Ho oh. Biar aku saja ma Vivet nemenin Nana pulang. Kamu kan banyak kerjaan di London?" timpal Brandon.
"Aku kok merinding ya" celetuk Yuna.
"Eh kenapa?" tanya Vivienne.
"Melihat kamu dengan Brandon akur tuh kok kayak gimana gitu. Matahari masih terbit dari timur kan?" tanya Yuna serius.
"Astaga! Kukira apaan!" komentar Sean. "Sialan lu Na!" umpatnya sambil mengacak-acak rambut gadis yang duduk di sebelahnya.
"Bang, kayaknya kalau kita akur, bakalan kiamat deh!" sahut Vivienne.
"Kayaknya begitu. Mending kita berantem saja terus ya Vet?" timpal Brandon.
Semuanya tertawa tapi tidak dengan Edward. Matanya menatap Yuna yang bisa lepas dan tertawa jika kumpul dengan keluarganya.
"Bang Mike, nanti bayarin ya" rayu Vivienne.
"Lho, aku terus yang bayarin? Kartumu kemana?"
"Ditahan papa" ucapnya sendu.
"Kapok!" gelak Mike.
"Aaahhh, bang Mike mah gitu. Adiknya lagi galau ini malah diledekin!" Vivienne mengerucutkan bibirnya.
"Udah, aku saja yang bayarin. Hitung-hitung dah lama nggak traktir kalian" kata Yuna setelah mereka selesai makan siang.
"Terimakasih cantik!" ucap Brandon sambil mencium pipi Yuna. "Besok gantian kita yang traktir."
"Kamu masih lama di Edinburgh? Maksudku berangkat ke Jakarta dari sini kan?" tanya Sean.
"Iya, rencananya gitu. Tapi nunggu Vivienne dikasih ijin sama Oom Alex boleh apa nggak tuh dia ke Jakarta." Yuna mengedikkan dagunya ke adiknya.
"Pasti dikasih. Kan untuk amal." Vivienne yakin akan diberi ijin oleh papanya. "Eh mbak, besok kita ke Manchester saja ketemu papa sekalian trio BCD."
"Tante Adinda?"
"Mama masih ada proyek disini. Ya kan bang?" tanya Vivienne ke Brandon.
"Besok memang ada urusan ke pejabat kota sih" jawab Brandon.
"Ya udah. Besok kita ke Manchester dik sekalian ketemu Oom Alex" ucap Yuna.
"Tar mbak Yuna bantu rayu papa ya?" cengir Vivienne.
"Jangan bilang kamu masih dihukum" keluh Yuna.
"Emaaannggg!"
"Dihukum kok bangga sih?" rutuk Sean dan Brandon.
***
"Aku saja yang bayar."
Yuna menoleh ketika sebuah suara berada di belakangnya.
"Nggak usah, beneran. Kan saya sudah bilang kalau saya yang bakalan traktir" sahut Yuna.
"Harusnya yang bayar itu pria bukan wanita."
"Hello, santai saja Mr. Edward." Yuna mengeluarkan kartu platinumnya.
Edward melirik dompet Yuna yang terdapat beberapa kartu dan salah satunya black card, tetapi yang membuatnya berdesir foto dirinya dengan seorang pria tampan dan keduanya tampak bahagia.
Katanya belum pernah pacaran, kok ada fotonya bersama seorang pria?
"Thank you" ucap Yuna setelah selesai melakukan pembayaran.
"Udah mbak?" tanya Vivienne di tempat mereka duduk ketika Yuna kembali.
"Udah."
"Yuk pulang. Ed, mobilmu masih di rumah sakit lho!" Mike mengingatkan Edward.
"Iya."
Ke-enam nya berpisah, para pria naik Range Rover milik Mike, sedangkan Vivienne dan Yuna pulang menuju rumah keluarga Neville.
***
"Tampaknya ada yang bakalan kehilangan Porsche nya deh" goda Sean ketika mereka ada di dalam mobil Mike.
"Siapa kehilangan Porsche?" tanya Brandon.
"Tuh mafia depan!" jawab Sean sembari tertawa.
"Aku nggak paham. Jelaskan padaku" pinta Brandon.
Sean dan Mike pun saling bercerita tentang taruhan itu. Brandon pun tertawa.
"Kalau aku jadi kau, Ed. Aku lebih ikhlas kalau aku kehilangan Porsche ku daripada aku kehilangan Yuna."
"Aku setuju dengan Brandon. Yuna itu tidak tergantikan. Sudah, ikhlaskan saja Porsche mu. Toh kamu bisa beli lagi" kekeh Mike.
"Apa kamu lupa Mike? Edward itu tipe gampang bosan." Sean tetap menggoda Edward.
"Kamu kalau mau ngejar Yuna, jangan perlakukan dia seperti mantan-mantanmu!" tegur Mike. "Dia adik Nabila dan jika dia tahu kamu menyakitinya, aku tidak jamin kamu akan selamat."
Edward diam saja mendengarkan komentar para teman-temannya. Sebenarnya dia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Yuna bukanlah tipenya sama sekali. Dia tidak suka cewek kurus meskipun pant**nya benar-benar seksih dan dadanya berisi tapi entah kenapa gadis itu membuatnya bisa menoleh dua kali.
"Ed, saranku pastikan dulu hatimu." Mike menatap Edward serius.
Edward tidak menjawab hanya wajahnya saja yang menjadi datar.
***
Yuna dan Vivienne pagi-pagi sudah berangkat menuju kota Manchester untuk bertemu dengan Oom Alex dan ketiga kakak Vivienne, Brett - Darren yang merupakan saudara kembar, dan Chris.
Alex Neville adalah orang asli Manchester kelahiran Bury. Profesinya sebelum menjadi pengusaha adalah seorang atlit sepakbola profesional. Sekarang kedua putra kembarnya mengikuti jejak ayahnya, sedangkan Chris lebih memilih menjadi atlet tenis profesional yang baru saja meraih juara Australia Terbuka.
Perjalanan dari Edinburgh menuju Manchester membutuhkan waktu sekitar empat jam. Vivienne dan Yuna sudah mempersiapkan banyak makanan untuk bekal sepanjang jalan.
"Oom Alex sudah kamu kabari?" tanya Yuna sembari menyesap kopinya.
"Sudah tapi mbak Yuna nggak bakalan ketemu kak Brett dan Darren. Mereka ada pertandingan liga Champions ke Spanyol."
"Masih betah jadi atlet sepakbola mereka?" kekeh Yuna.
"Masih lah. Ohya, kak Chris juga ada pertandingan di Paris. Jadi kita berdua lagi deh!"
Ponsel Yuna tetiba berbunyi. Dilihatnya nomor tidak dikenal. Siapa ini? Tapi melihat kode negaranya sih Inggris. Digesernya tombol hijau.
"Halo?"
"Sudah berangkat ke Manchester?"
"Mr Edward? Tapi kenapa nomornya berbeda dari yang kemarin?"
"Aku memakai ponsel John. Ponselku lupa aku charge."
"Oh."
"Sudah berangkat?"
"Sudah."
"Oke. Sampai bertemu disana."
Edward pun mematikan panggilannya.
"Apa kata bang Edward?" tanya Vivienne sembari memasukkan kimbab ke dalam mulutnya.
Jam tiga subuh tadi, Yuna dan Vivienne membuat kimbab dan beberapa makanan lainnya. Kemarin sepulang dari Dishoom, mereka membeli banyak camilan ringan.
"Katanya sampai bertemu disana."
"Maksudnya bang Edward mau nyusul ke Manchester gitu?"
"Entahlah."
"Pria itu memang membingungkan. Itulah aku belum mau memikirkan pria dulu" ucap Vivienne asal.
"Kamu itu masih 13 tahun, Viv. Mbak seusia kamu sudah bekerja menjadi tour guide di museum Jakarta."
"Besok kita jalan-jalan ke museum ya" seru Vivienne semangat.
"Boleh!"
***
Edward sendiri sedang berada di mobilnya menuju Manchester dari London. Kemarin dia langsung pulang ke London dan berisitirahat. Pagi ini dia mengajak John mengawalnya ke Manchester sekalian mengecek restaurannya disana.
John sendiri tidak paham kenapa tiba-tiba mereka harus ke Manchester padahal tidak ada jadwal kesana.
Terserah boss saja lah! Yang penting sampai sana aku dapat makan enak!
***
Yuhuuu
Up pagi dulu Yaaaa
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️