
Edward harus kembali ke London karena harus mengurus perusahaannya yang terpaksa ditinggal gegara mengejar Yuna apalagi Phil durjana itu merengek agar bossnya terbang ke Manchester menahan chef pastry incarannya.
Yuna yang mendengar keluhan Edward tertawa terbahak-bahak mendengar voice message dari Phil.
"Apa kamu yakin dia nggak belok?" kekeh Yuna.
"Entah! Aku juga pusing mendengar rengekan si Phil brengsek itu."
Yuna tersenyum. Keduanya kini berada di ruang kerja Yuna dan Edward dengan setia menemani gadis itu menyelesaikan pekerjaannya yang sempat terbengkalai. Dibantu Karen, Yuna segera menyelesaikan semua administrasi dan hasil penjualan lelang untuk segera diserahkan kepada yang berhak.
"Kamu ikut aku saja ke Manchester. Bukannya Vivienne disana?" usul Edward.
"Hah?" Yuna dan Karen sama-sama memandang pria tampan itu.
"Iya ikut saja biar aku nggak pusing sendirian menghadapi si Phil."
"Mr Edward, aku masih harus ada laporan pertanggungjawaban ke papa dan para pemegang saham."
"Kapan?"
"Minggu depan jadwalnya."
"Kelamaan! Suruh besok saja supaya kita segera terbang ke Inggris!"
Karen tertawa.
"Nggak semudah itu Férgusoooo!" desis Yuna kesal.
Edward kemudian berdiri dan berjalan keluar ruangan Yuna.
"Lho? Mr Edward mau kemana?"
"Bicara dengan Oom Aryanto supaya acara laporan pertanggungjawaban dipindah lusa!" ucap Edward sambil menutup pintu.
"Astaga! Edward!" teriak Yuna tapi ruangnya yang kedap suara ditambah pintunya sudah tertutup, tentu saja pria itu tidak mendengarnya.
***
Manchester, Inggris
Usai perdebatan dengan papa Aryanto, akhirnya Edward memenangkan perdebatan itu dan berhasil mengumpulkan semua pemegang saham untuk mendengarkan laporan pertanggungjawaban dari Yuna dalam waktu dua hari.
Dan kini Yuna dan Edward sudah sampai di Manchester dan langsung menuju ke restauran milik MB Enterprise.
Untuk pertama kalinya Yuna melihat yang namanya Phil Lawson, manajer semua restauran MB yang ada di Manchester.
"Halo nona kesayangannya Boss. Perkenalkan nama saya Phil Lawson, asisten kesayangan boss Edward yang meskipun galak tapi tetap sayang padaku" ucap Phil tanpa malu.
Yuna terbahak mendengar cara perkenalan yang diluar nalar itu.
"Phil! Jangan ngawur!" hardik Edward jengah.
"Kayaknya cocok nih sama Vivienne. Aku telpon ah!" Yuna mengambil ponselnya.
"JANGAN!" teriak Edward panik.
"Kenapa?" tanya Yuna bingung padahal menurutnya seru jika adiknya bertemu dengan Phil. Bakalan ramai dunia perwayangan.
"Kamu apa nggak ingat betapa rusuhnya adikmu?" Edward memandang Yuna dengan memelas.
"Justru yang rusuh itu yang asik" kekeh Yuna. "Halo Vet." Yuna berjalan menjauh dari Edward dan Phil yang masih dalam mode bingung.
"Siapa Vivienne boss?" tanya Phil.
"Biang kerok!" sahut Edward.
***
Vivienne sampai di restauran milik MB Enterprise dengan perasaan senang bertemu dengan kakak sepupunya plus kesempatan untuk menghajar Edward karena sudah membuat Yuna menangis.
Gadis berusia 14 tahun itu datang dengan blus putih, jaket Hoodie warna biru dan celana jeans plus sepatu boot. Karena badannya bongsor, orang mengira dia sudah berumur 17-18 tahun.
"Selamat datang di MB restauran. Mau pesan buat berapa orang?" sapa pelayan dengan ramah.
"Oh saya mau bertemu dengan Mr Edward Blair. Saya Vivienne Neville."
"Nona silahkan ke ruang sebelah kanan yang ada aksen batu bata merah disana, sudah ditunggu oleh tuan Blair."
"Terimakasih." Vivienne pun berjalan ke tempat yang diberitahukan oleh pelayan tadi.
Di dalam ruangan itu sudah ada Yuna, Edward dan seorang pria cupu dengan kacamata.
"Mbak Yunaaaa!" seru Vivienne heboh.
"Halo sayang" balas Yuna sambil memeluk adiknya.
"Bang Edward" sapa Vivienne dingin.
"Vivet" balas Edward sama dinginnya.
"Kenalkan ini Phil Lawson manajer restauran Mr Edward." Yuna mengenalkan adiknya ke Phil.
"Halo cantik" sapa Phil.
"Hai cupu."
"Tampaknya kita berjodoh karena sama-sama dapat serangan musim dingin dari boss Edward" kekeh Phil yang membuat Vivienne terperangah.
"Astaga bang Edward. Nemu dimana makhluk yang pedenya melebihi aku?" tanya Vivienne kepada Edward.
"Tong sampah" balas Edward sarkasme.
Vivienne tergelak. "Beneran kamu ditemukan di tong sampah?"
"Kalau kata boss begitu, berarti bener lah!" balas Phil.
Vivienne lalu duduk di sebelah Phil. "Ceritakan padaku, bagaimana kau bisa terdampar."
Edward berbisik kepada Yuna. "Kamu berhutang membuat aku pusing, Yuna dan kamu harus mengobatiku."
"Gampang. Nanti aku akan menelpon mbak Nabila meminta obat yang paling bagus untukmu Mr Edward." Yuna menepuk pipi Edward pelan.
"Astaga Yuna, bukan obat itu maksudku!"
Yuna menatap mata biru Edward. "Aku tahu modusmu Mr Edward jadi it won't work for me" cengirnya.
Edward menghela nafas frustasi.
***
"Jadi kamu incar chef cantik itu tapi kamu bikin perkara terus sekarang dia pengen berhenti karena nggak tahan sama kamu?" Edward menatap Phil tajam.
"Iyes boss! Aku sudah tahu pasti boss paham!" kekeh Phil dengan pedenya.
"Dimana chef itu sekarang?" tanya Edward sembari memegang pelipisnya.
"Di dapur lah boss, masa di ruangan saya" gelak Phil.
"Pantas dia ilfill sama kamu, keterlaluan gesreknya" komentar Vivienne.
"Kalau aku ditolak, kamu mau jadi pasanganku Vi?"
"Jauhi adikku! Dia masih 14 tahun!" ancam Yuna dengan tatapan tajam.
"Astagaaaaa! Kamu terlalu bongsor Vi!" keluh Phil sedih.
"Gen ku bagus kan?" cengir Vivienne pede.
***
Edward dan Yuna melongo melihat chef cantik itu terampil membuat pastry cantik-cantik. Ketika mengetahui big boss nya datang, chef bernama Clara itu pun membuat pastry yang istimewa.
"Silahkan dicoba Mr Blair, Miss Pratomo, Miss Neville."
Chef Clara Morris
"Kalau lihat begini, aku tidak tega memakannya" keluh Vivienne dramatis.
Clara tertawa kecil. "Kan saya membuat untuk dimakan, nona Neville bukan untuk dipandang."
"Aku coba yang merah strawberry ah." Vivienne mencobanya dan wajahnya langsung ceria. "Oh my God! This is the most delicious cake I've ever eat!"
Yuna dan Edward mencicipi yang lainnya dan keduanya sepakat dengan Vivienne bahwa cake buatan Clara memang enak.
***
"So, Clara. Kamu betah nggak bekerja disini?" tanya Edward setelah acara cicip mencicipi selesai.
"Jujur saya suka kerja disini, suasananya nyaman, para pelanggan juga menyukai pastry buatan saya bahkan sering sold out."
"Tapi?"
"Tapi saya agak kurang nyaman dengan tuan Phil, sang manajer."
"Dia mengganggu saya." Clara melirik takut-takut ke arah Phil yang menatapnya tajam.
"Mengganggunya gimana?"
"Dia melamar saya."
Edward, Yuna dan Vivienne melongo.
"Padahal saya sudah bilang kalau saya sudah menikah tapi dia tidak percaya karena tidak ada cincin kawin di jari saya. Padahal saya sengaja melepaskan cincin kawin saya setiap membyat adonan pastry agar tidak masuk ke dalam adonan."
...JEDERRR!!!...
"Kamu sudah menikah?" tanya Edward.
Clara mengangguk. "Kalau tidak percaya, di dompet saya ini ada foto suami dan anak saya."
Phil memucat.
"Phil Lawson! Fix! Kamu saya kirim ke Antartika supaya kawin sama penguin !" bentak Edward kesal.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaa
Maapkeun kalau episode ini melenceng dari biasanya.
Thank you for reading and support
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️