Love In Bet

Love In Bet
Terungkap



Stephen dan Diana tertawa terbahak-bahak melihat wajah Edward sekali lagi memar akibat pukulan Yuna. Adik iparnya lalu mengoleskan salep sekali lagi di tempat yang sama.


"Bro, lama-lama kamu bakalan ga simetris sebelah tuh muka kena tonjok melulu!" gelak Stephen tanpa beban.


"Gara-gara kamu juga little bro!" Edward meringis ketika salep itu mengenai wajahnya.


"Kau tahu, tuan muda mengucapkan terimakasih atas videonya. Dan sekarang namamu di klan jadi tercoreng akibat jotosan gadis Pratomo" kekeh Stephen.


"Kamu pikir Mike apa tidak pernah kena jotos Nabila? Terimakasih Diana" ucap Edward kepada adik iparnya.


"Apa yang kau lakukan mas?" tanya Diana sembari menyenderkan tubuhnya ke badan kekar suaminya.


"Well, aku dibantingnya lagi." Stephen dan Diana melongo. "Lalu aku bilang kalau mau woman on top kenapa nggak minta. Ya, ditonjok lagi lah aku."


Pasangan suami istri itu pun tergelak lagi.


"Astaga bro! Ya jelas lah kamu dihajar sama Yuna. Mulutmu itu lemes bangets!" Stephen benar-benar tidak habis pikir atas sikap kakaknya.


"Aku akan kembali ke London besok. Si Voldemort punya acara sendiri sama menantu kesayangannya."


"Soal apa?" tanya Diana.


"Entah, aku tidak tahu."


***


Lima Hari Sebelum Natal...


Yuna masih membantu pekerjaan sang papa mengurus semua pekerjaan di PRC group yang berhubungan dengan acara lelang amal tahun depan karena menurut rencana, mereka sekeluarga akan menghabiskan waktu di London atas undangan Duncan McGregor.


Tentu saja semua anggota keluarga Pratomo menerima undangan mantan mafia itu yang sudah dianggap bagian keluarga.


"Pa, apa papa nggak curiga kita semua diundang ke London sama Mr McGregor?" tanya Yuna sembari memasukkan nama-nama kolega PRC group ke daftar tamu undangan untuk acara lelang.


"Jangan-jangan si Mike disuruh nikah lagi sama Nabila disana" ucap papa Aryanto.


"Wah benar-benar tuh keluarga sama saja sama keluarga kita yang Gesrek" kekeh Yuna.


"Papa hanya bisa mengelus dada saja kalau terjadi kerusuhan disana. Mengingat sifat mereka sama kacaunya dengan keluarga kita."


Yuna tertawa. Mau gimana lagi? Kita kan memang kacau gen nya.


Suara notifikasi di ponsel papa Aryanto berbunyi. Papa Aryanto tersenyum simpul membaca pesan itu.


"Bener kan Na, kakakmu akan dinikahkan di London oleh mertuanya yang Gesrek itu" kekeh pria berusia pertengahan 40an.


"Haaaahhhh?"


***


London, Natal


Semua keluarga besar saling berbaur dalam acara pesta pernikahan Nabila dan Mike Cahill. Seperti biasa Vivienne adalah mood booster di antara dua keluarga yang sering tidak lihat tempat dimana dia harus berkomentar.


"Kamu tuh bisa nggak manut sama mama sekali saja Vi! Mbok jangan bikin ulah!" omel Adinda, mama Vivienne.


"Nggak ma, soalnya mulut Vi kalau diem saja gatal!" ucap Vivienne polos.


"Gatal ya digaruk!" komentar Brandon.


"Maaaa, kak Brandon nakal" rengeknya. Adinda hanya menghela nafas panjang.


"B, uruslah adikmu! Aunty pusing!" Adinda meninggalkan Vivienne dan Brandon berdua yang lalu dihampiri oleh Sean.


"Blue, cari cowok yuk !" ajak Sean jahil yang langsung mendapat tatapan horor Brandon.


"Ayo! Cariin buat aku ya!" cengir gadis ABG itu.


"Iyalah, emang buat siapa lagi. Aku kan dah ada Brandon" kekeh Sean.


"Yuk lah!"


***


Edward mencari-cari gadis yang sudah lama tidak ia temui apalagi mengurus semua acara serba dadakan sesuai dengan permintaan tuan besar Voldemort.


Ramainya para tamu undangan membuat Edward agak kesulitan mencari gadis itu bahkan beberapa koleganya yang menyapa, hanya dibalas seperlunya.


"Mau kemana boss?" tanya Jack yang sedang bersama seorang gadis manis di sebelahnya.


"Cari udara segar" jawab Edward.


"Kalau boss cari cewek yang nonjok boss, dia ada di halaman belakang di rumah kaca" bisik Jack.


Edward melirik Jack dan setelahnya tersenyum.


"Thanks Jack. Segera menikah dengan Dian."


Jack tersenyum. "Setelah wisuda, aku akan melamarnya boss. Sekarang aku masih belajar agamanya dulu."


Edward tertegun. "Apakah sulit mempelajari agamanya?"


"Selama kita yakin bahwa kita melakukan ini karena Allah dan jodoh yang diberikan, tidak sulit boss meskipun awalnya aku sering lupa bacaannya" kekeh Jack. "Dian sangat membantuku untuk belajar agamanya."


"Kalian berdua, berbahagialah" ucap Edward tulus.


"Thanks Boss."


"Terimakasih tuan Blair."


***


Edward berjalan menuju rumah kaca yang berada di halaman belakang rumah. Duncan McGregor adalah pecinta anggrek dan mawar sama seperti almarhum istrinya. Apalagi setelah dia mundur dari dunia mafia, kesibukannya jika di waktu senggang adalah mengurus tanamannya.


Ada beberapa tamu di halaman belakang dan London mulai bersalju sehingga hawa semakin dingin. Edward menaikkan mantelnya dan mulai membuka pintu rumah kaca yang sudah disetel suhunya oleh Duncan agar tanamannya tetap tumbuh subur dengan suhu apapun di London.


Dilihatnya sebuah siluet seorang gadis yang sedang berjalan di jejeran meja tanaman anggrek yang tertata rapi.



Gadis itu mengenakan gaun berwarna broken white dengan panjang hingga ke betis, sepatu dari Christian Louboutin bewarna hitam dan tas kecil dengan santainya melihat bunga anggrek satu persatu serta sesekali mengambil foto bunga-bunga tersebut.



"Yuna" panggil Edward.


Yuna pun berbalik dan tampak Edward disana mengenakan tuxedo. Yuna mengakui Edward tampak tampan malam ini.



"Kenapa nggak kumpul dengan keluargamu?" tanya Edward.


"Saya hanya ingin sendiri dulu" jawab Yuna.


"Apa ada masalah?" tanya Edward sembari mendekati Yuna.


"Hhmm, tidak ada. Kenapa Mr Edward mencari saya?"


"Hanya ingin mengajakmu kembali ke dalam."


Yuna hanya tersenyum. "Anda tidak perlu melakukannya Mr Edward."


"Tapi aku rasa aku perlu melakukannya. Selain Volde eh tuan Duncan McGregor, aku yang mewakili klan McGregor menjadi tuan rumah."


"Volde...?"


"Voldemort. Itu panggilan kesayangan kakakmu kepada tuan Duncan McGregor."


Yuna tertawa. "Ya ampun mbak Nabila."


"So, kita masuk ke dalam?" Edward mengulurkan sikunya untuk dipegang oleh Yuna dan gadis itu menurut melingkarkan tangannya ke Edward.


Ketika mereka keluar dari rumah kaca, tampak Mike berdiri di depan keduanya.



"Apa ini berarti Porsche 911 mu menjadi milikku Ed?" goda Mike.


"Shut up Mike!" desis Edward kesal.


"Porsche? What Porsche?" tanya Yuna bingung.


"Jelaskan padanya. Apa kau benar-benar jatuh cinta pada adik Nabila, Ed?" ucap Mike tajam ke Edward.


Edward menahan marah dan berusaha untuk tidak menghajar tuan mudanya apalagi di hari pernikahannya.


"Ya! Aku jatuh cinta dengan Yuna Indira Pratomo dan aku akan menikahinya! Puas Mike? Ambil saja Porsche ku!" bentak Edward.


"Kalian berdua bertaruh?" desis Yuna. "Karena aku?"


"No, Yuna! Dengar dulu!" bujuk Edward panik.


"How could you!" bentak Yuna yang tanpa disadari air matanya mengalir dan ini pertama kalinya Edward melihat gadisnya menangis.


"Darling, listen to me!" Yuna menyentakkan tangannya dan menampar Edward.


"Jangan pernah muncul di hadapanku Mr Edward Blair!" Yuna pun berlari menuju rumah tanpa melihat ke belakang lagi.


"Puas Mike!" hardik Edward sembari memegang pipinya yang panas.


"Puas! Karena kalau tidak kau ungkapkan, kau akan kehilangannya!"


"Aku sudah kehilangannya Mike! Semua gara-gara kamu!"


***


Yuhuuu Up malam Yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️