
Ketiga orang yang keluar dari ruang praktek dokter Ashley menunjukkan wajah berbeda. Duncan McGregor dengan wajah sumringah, Edward dan Yuna dengan wajah tidak percaya bakalan memiliki baby boy yang harus diberi nama Duncan.
"Darling, apakah kamu ada ide nama selain Duncan?" tanya Edward sambil berbisik.
"Entah kenapa aku suka nama Sherlock, mengingatkan aku dengan aktor Jeremy Brett yang bermain sebagai Sherlock Holmes."
"Kok bisa bawa-bawa Sherlock Holmes?" tanya Edward.
"Jadi waktu aku terdampar di kamar, aku nonton serial klasik Sherlock Holmes. Jadi kepingin kasih nama itu kalau anaknya cowok."
Edward tersenyum. "Duncan Sherlock Blair."
Yuna menoleh. "Bagus tuh!"
***
Kehamilan Yuna semakin kemari semakin membuatnya menjadi tukang ngemil setelah fase mual dan muntah-muntah berkurang. Badannya semakin membulat dan semakin seksih Dimata Edward.
Satu yang membuat Edward heran, dia menjadi suka minum susu padahal dia paling anti minum susu. Justru Yuna yang suka minum susu, langsung muntah jika meminumnya.
Entah karena hormon atau memang keinginan si boy, Yuna hampir setiap hari meminta Edward menyentuhnya. Mantan Casanova itu pun senang-senang saja melayani bumil cantiknya apalagi Yuna semakin menggemaskan dimatanya.
Menjelang HPL nya yang satu Minggu lagi, papa Aryanto dan mama Rani datang ke London demi menyambut cucu laki-laki mereka. Mama Rani sibuk menyiapkan semua barang-barang yang hendak dibawa Yuna kalau sewaktu-waktu bisa berubah tanggal lahirnya. Yuna meminta Edward untuk melahirkan normal daripada Caesar.
Setelah berkonsultasi dengan dokter Ashley, kondisi fisik Yuna memungkinkan untuk normal dan Edward sendiri sudah menyiapkan kemungkinan jika harus Caesar juga.
"Kok harus persiapan Caesar juga?" tanya Yuna.
"Berjaga-jaga saja sayang." Edward tidak mau terjadi apapun dengan istri dan anaknya.
***
Papa Aryanto sedang menikmati acara minum teh waktu sore bersama Duncan McGregor. Kedua ayah itu saling berbincang soal bisnis hingga Duncan mengatakan bahwa Edward dan Yuna sudah memilih nama untuk baby boy nya.
"Kok Yuna tidak cerita?" gumam papa Aryanto.
"Lho Yuna tidak cerita soal taruhan denganku?" tanya Duncan.
"Taruhan apa lagi?" tanya papa Aryanto.
Duncan McGregor pun menceritakan taruhan yang di buat hampir dua tahun lalu. Papa Aryanto hanya menepok jidatnya.
"Ya ampun Gusti, kalian semua itu memang kacau!" komentar papa Aryanto sambil tertawa.
"Aku sudah menyiapkan semuanya untuk Duncan Junior jadi kau tidak perlu bingung" ucap Duncan percaya diri.
"Mas, aku berterimakasih atas segalanya buat cucuku tapi dia juga cucu aku kenapa semuanya sudah kamu persiapkan duluan? Aku kalah start ini!" kekeh papa Aryanto yang sedikit dongkol kalah persiapan.
"Setidaknya Junior akan mendapatkan saham MB Enterprise dan PRC group jadi secara finansial dia aman lah!"
Papa Aryanto memandang besannya ( Duncan maunya dianggap besan juga meskipun aslinya berbesan dengan Adrian Pratomo ). "Kalau aku lihat, Yuna adalah tipe ibu yang tidak memanjakan anak dengan materi. Pasti junior akan diajak ke museum nantinya" kekeh papa Aryanto.
Duncan melirik ke arah papa Aryanto. "Keluarga kalian itu ya. Meskipun sukses dengan usaha tapi selalu berusaha low profile. Yuna malah jarang ikut kumpulan sosialita London."
Papa Aryanto tertawa. "Itu bukan gayanya Yuna."
"Assalamualaikum" sapa Edward.
"Wa'alaikum salam" balas papa Aryanto dan Duncan.
"Ghibah apa pa? Dad?" tanya Edward sembari mendudukkan tubuhnya di kursi taman seberang dengan mertua dan ayah angkatnya.
"Ghibah taruhan nama" kekeh papa Aryanto. "Kenapa kalian nggak cerita?"
"Kan Yuna belum hamil pa waktu itu jadi kita santai-santai saja pula belum tentu kalau Yuna hamil anaknya cowok" jawab Edward sambil menyesap teh tariknya.
"Benar-benar deh kalian..."
"Papaaa! EDWAAARRDDD! Yuna mau melahirkan!" teriak mama Rani.
"HAAAAHHHH?!"
***
Jack, Bram, Bryan dan Rita pun datang menyusul begitu juga dengan Tristan mendengar istri boss masuk rumah sakit.
"Mike, kok Daddy gelisah ya mikirin Yuna. Takut si Edward pingsan disana! Secara tuh bocah kan takut jarum suntik!" omel Duncan McGregor sambil mondar-mandir.
"Ya ampun Dad! Edward itu suaminya Yuna. Pasti bakal punya kekuatan cadangan demi baby-nya. Bisa jadi aib seumur hidup kalau dia pingsan pas anaknya brojol" kekeh Mike.
"Mas! Kamu tuh lho!" tegur Nabila.
"Apa? Kenapa?" tanya Mike.
"Suka bener kalau ngomong!" kekeh Nabila. Mike, mama Rani dan papa Aryanto tertawa membayangkan Edward pingsan di ruang bersalin.
"Kamu tuh!" Duncan memberikan keplakan di kepala Mike saking jengkelnya.
"Astaghfirullah! Daaadd! Benjol ini dikeplak! Mana masih pakai cincin pulak!" rutuk Mike yang langsung mendapat usapan dari Nabila.
"Tuan muda, kayaknya bener deh bisa aib seumur hidup kalau boss Edward pingsan di ruang bersalin" kompor Bram.
"Jack! Waktu Dian melahirkan kamu mau pingsan nggak?" tanya Mike.
"Boro-boro mau pingsan tuan muda, yang ada lenganku penuh luka dari kukunya Dian" adu Jack yang membuat semuanya tertawa.
"Bryan gimana waktu sama Rita?" tanya Nabila.
"Rita Caesar waktu melahirkan Abian karena posisi sungsang tapi aku sempat kebayang film alien pas Abian keluar dari perut" ucap Bryan yang langsung mendapat keplakan dari Duncan dan Mike.
"Kamu tuh! Anak sendiri dibilang kayak film alien! Durjana lu jadi bapak!" omel Rita judes. Bryan hanya nyengir sambil mengusap kepalanya yang kena jitak boss-bossnya.
Suara tangis bayi terdengar dari dalam ruang bersalin dan sepuluh menit kemudian keluarlah Edward dengan wajah bahagia meskipun kemejanya menjadi kusut Masai dan tangannya bekas kuku Yuna.
"Well?"
"Welcome to the world, baby Duncan Sherlock Blair. Panjang 51cm berat 3,7kg. Alhamdulillah semua sehat, Yuna dan baby D. Proses kelahiran normal." Mata biru Edward tampak berkaca-kaca.
Semua orang disana bersorak dan mengucapkan syukur semuanya selamat. Papa Aryanto dan mama Rani memeluk Edward, lalu Duncan, Mike dan Nabila. Jack, Bram, Bryan dan Tristan bergantian memeluk hot Daddy itu.
***
Di kamar rawat Yuna, semua orang disana langsung heboh melihat baby Duncan yang langsung menjadi sultan karena kedua Grandpa memberikan hadiah yang fantastis.
Papa Aryanto memberikan sebagian saham miliknya di PRC group untuk cucunya sehingga baby D mempunyai hak di dua perusahaan besar. Namun Yuna dan Edward sepakat, jika baby D memilih jalan hidupnya sendiri tanpa bayang-bayang kedua orangtuanya, mereka juga tidak akan melarang.
"Matanya biru ya Ed" ucap mama Rani ketika melihat baby D sedikit mengerjap.
"Plek ketiplek Edward deh pokoknya. Semoga ngeyelnya nggak" ucap Yuna.
"Kalau itu kami nggak yakin sayang" ucap Nabila sambil tertawa.
Edward hanya tersenyum usil melihat istrinya yang manyun. "Jangan manyun, terimalah apa adanya. Bukankah D tampan seperti aku?"
"Iya deh tampan seperti Daddynya" jawab Yuna.
"I love you Mrs Edward Blair" bisik Edward sembari mencium kening istrinya.
"Love you too Mr Edward" balas Yuna sambil tersenyum manis.
*** END ***
Cerita Edward dan Yuna end ya gaeeesss
Kan ada cerita lanjutannya di Menikahi Suami Sahabatku dan My Rey.
Project selanjutnya Ghani dan Alexandra tapi setelah My Rey tamat ya. Tar malah ke spoiler kalau aku bikin sekarang. 😁😁😁
Thank you so much buat para readersku terchayank yang udah baca novel-novelku, kasih like vote dan gift plus komen-komen kalian. Lope lope lope se lapangan Old Trafford.
Don't forget to like vote n gift novel-novelku yang lain.
Tararengkyu ❤️🙂❤️