Love In Bet

Love In Bet
Tawaran ke Mesir



Yuna menatap Edward bingung.


"Apa anda bilang?" Otaknya blank dan bingung atas ucapan Edward.


"The future Mrs Edward Blair" senyum Edward. "Aku sudah melamarmu sekali meskipun nyeleneh dan aku akan terus melamarmu sampai kamu menerimanya."


"You are very persistent Mr Edward" kekeh Yuna. Tanpa disadarinya dirinya masih dalam pelukan Edward.


"I'm so very persistent Miss Yuna because I'm so in love with you." Edward mencium kening Yuna.


"Bisakah anda lepaskan pelukannya?" Yuna baru menyadari dirinya masih dipeluk pria itu.


"I can't. Tubuhmu ada Velcro" kekeh Edward.


"Please Mr Edward." Yuna mulai menggeliat mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Edward.


Edward melepaskan pelukannya tapi mengganti dengan memeluk pinggang Yuna.


"Kita ke mansion McGregor" ucap Edward sembari membawa duffle bag milik Yuna.


***


Duncan McGregor menyambut Yuna dengan hangat bahkan pria paruh baya yang masih energik itu memeluk gadis itu.


"Aku selalu senang jika para gadis Pratomo berada disini" ucap Duncan absurd.


"Maksudnya gimana Mr McGregor?" tanya Yuna.


"Maksudnya kalian itu sudah seperti anak perempuan ku sendiri dan panggil aku Oom saja, Yuna."


"Baik Oom."


"Ed, tunjukkan kamar Yuna" titah Duncan.


Edward menggandeng tangan Yuna dan keduanya menuju kamar tamu yang sudah disiapkan.


"Ini kamarmu." Edward membuka pintu dan Yuna pun terperangah melihat nuansa kamarnya yang serba peach.



"Sebenarnya ini kamarnya Nabila kalau menginap."


"Mbak Nabila memang girly sih sebenarnya." Yuna memandang kamar cantik itu.


"Istirahat dulu, nanti jam makan siang akan kupanggil." Edward mencium pipi Yuna sekilas lalu keluar kamar.


"Haaaiissshhhh !" Yuna mengusap pipinya yang barusan dicium Edward. "Dasar maling ciuman!"


***


Jam satu siang mereka baru memulai makan siang karena Edward dan Duncan masih ada urusan perusahaan. Melihat masih ada waktu sekitar setengah jam, Yuna lebih memilih ke rumah kaca tempat bunga-bunga anggrek dan mawar yang dirawat oleh Duncan.


Yuna suka bunga dan tanaman namun dia malas merawatnya karena pekerjaannya yang sering traveling.


Ketika sedang menikmati harumnya bunga mawar, ponsel Yuna berbunyi. Tampak nama James Arthur disana.


"Halo?" sapa Yuna setelah menggeser tombol hijau.


"Yuna! Kamu dimana?"


"London, James. Kenapa?"


"Bisakah kau ke Mesir Minggu depan? Ada tawaran penggalian di sekitar Saqqara. Tim mendapatkan ijin untuk melakukan penggalian disana. Aku memasukkan namamu karena salah satu anggota mengundurkan diri."


Yuna langsung bersemangat. "Itu tempat baru?"


"Iya. Banyak Sarkofagus yang ditemukan disana."


"Aku akan menyelesaikan urusanku di London dan Minggu depan aku akan ke Mesir."


"Good. Aku tunggu baby."


"See you James." Yuna tersenyum bahagia bisa melihat banyak artifak dan Sarkofagus pun berbalik untuk masuk ke rumah, terkejut melihat Edward di depan pintu rumah kaca dengan wajah sendu.


"Kamu mau ke Mesir?" tanya Edward.


Yuna hanya mengangguk.


***


Edward mengaduk-aduk fettuccini nya tanpa ada niatan untuk memasukkan ke dalam mulutnya. Otaknya menyuruhnya untuk realistis karena itu adalah pekerjaan Yuna tapi hatinya tidak rela gadis itu pergi ke Mesir bersama pria yang bernama James.


"Edward Jonathan Blair, kalau kamu tidak mau makan, itu makanan jangan dibuat mainan!" tegur Duncan.


Yuna hanya menatap acuh melihat Edward seperti itu, seolah bukan suatu hal yang aneh.


"Apa rencanamu ke depan Yuna?" tanya Duncan.


"Maksudnya Oom?" Yuna menatap pria berkharisma itu.


"Setelah menolak lamaran nyeleneh anak yang tidak menghargai makanan satu itu, apa rencanamu?" Duncan menangkupkan kedua tangannya diatas meja menatap gadis cantik itu serius.


"Saya akan bekerja seperti biasa dan bahkan saya sudah mendapatkan undangan untuk ke Mesir Minggu depan."


Duncan menaikkan alisnya sebelah. "Mesir?" Lalu melirik ke arah Edward yang tidak bersemangat. "Pantas, fettuccini nya yang menjadi korban" sindir Duncan yang mendapat balasan lirikan tajam pria bermata biru itu.


"Tadi teman satu tim saya, James Arthur menghubungi saya untuk segera menyusul ke Mesir karena ada daerah baru untuk penggalian disana."


Edward menatap tajam ke Yuna. Berani-beraninya menyebutkan nama pria lain di depanku!


Duncan dan Yuna lalu terlibat pembicaraan tentang pekerjaan gadis itu dan rencananya di Mesir. Duncan yang memang sangat menyukai karya seni pun berdiskusi dengan Yuna bahkan keduanya malah melihat-lihat lukisan dan keramik di iPad Duncan, melupakan ada seorang pria yang dongkol di depan mereka.


Edward pun memutuskan untuk tidak menghabiskan makanannya lalu segera berdiri dan meninggalkan meja makan.


Duncan tersenyum smirk melihat anak buah kesayangannya kesal.


"Sekarang saya tahu kenapa mbak Nabila memanggil Oom itu Voldemort" kekeh Yuna.


"Kenapa memangnya?"


"Oom sangat tahu caranya membuat orang lain kesal luar biasa."


Duncan terbahak. "Itu adalah perbuatan paling menyenangkan di muka bumi. Membuat orang lain kesal."


***


Edward duduk di ruang kerjanya di kantor MB Enterprise. Semenjak Duncan merger dengan dirinya, si Voldemort bertidak selayaknya komisaris dan Edward adalah CEO nya. Akibatnya beban pekerjaannya semakin bertambah karena bisnis restauran mereka pun semakin ekspansi ke seluruh Britania Raya bahkan ada yang bekerja sama dengan Ryu Reeves di Amerika.


Bryan mengetuk pintu dan bossnya tampak tidak bersemangat.


"Boss!" sapa Bryan sambil membawa beberapa berkas laporan.


Edward menoleh ke Bryan yang tampak segar karena akhirnya bisa menikah dengan Rita, mantan pengawal Nabila. Tidak ada tanda-tanda bahwa pria itu pernah mengalami kasus ditabrak oleh mantan Nabila, fisiknya sudah kembali bugar.


"Apa Bry?"


"Laporan rutin. Ohya, Phil mengajukan pindah ke Wales setelah kasus kemarin."


"Kenapa nggak minta pindah saja ke Timbuktu?" sahut Edward sebal.


Bryan terbahak. "Bukannya boss suruh dia ke Antartika buat kawin sama pinguin?"


"Aku batalkan! Nanti malah ada spesies alien baru kalau dia jadi kawin sama penguin."


"Astaga bossku mulai kumat ngaconya" kekeh Bryan. "Nona Yuna?"


Edward hanya terdiam.


"Boss ditolak lagi?" Bryan merasa terkejut mendengar bossnya yang sering dikejar perempuan, malah ditolak ketika sekalinya mengejar wanita idamannya. Tapi dia tidak heran karena melihat bagaimana tuan muda Mike juga jatuh bangun mendapatkan Nabila.


"Belum. Jangan!"


Bryan terkekeh. "Boss, perempuan Keluarga Pratomo itu berbeda dengan perempuan lain tapi kalau sudah sekalinya jatuh cinta, dia akan memberikan semuanya."


"Apakah Nabila seperti itu?"


"Nona Nabila memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan cintanya ke tuan Mike. Saya rasa boss harus bisa meyakinkan nona Yuna lebih keras lagi. Buat dia jatuh cinta ke boss meskipun boss pernah membuat nona Yuna kecewa."


"Pengalaman Casanova ku jadi hilang jika berhadapan dengannya" keluh Edward.


"Jadilah mualaf boss, itu ganjalan utama di nona Yuna. Kalau boss serius mempelajari agama nona Yuna, insyaallah lancar. Lihat saya maupun Jack atau tuan Mike."


Edward mengangguk. Harus segera menghubungi ustadz Qarim Jefferson.


***


Yuhuuu Up pagi dulu


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️