
Edward masih betah di rumah Aryanto Pratomo dan sekarang duduk berdua dengan pria paruh baya itu di halaman belakang rumah sembari menikmati kopi.
"Memangnya apa yang terjadi dengan nak Edward sampai-sampai Yuna memukulmu?" tanya papa Aryanto yang sudah hapal dengan sikap bar-bar putri dan para sepupu perempuannya.
"Oom mau jawaban jujur atau..." Edward menjeda ucapannya.
"Tentu saja jawaban jujur nak Edward. Oom hapal sekali sifat putri Oom."
Edward menelan salivanya. Terlanjur kecebur, tenggelam saja sekalian.
"Saya mencoba mencium putri Oom."
Papa Aryanto hanya menyesap kopi hitamnya. Edward menunggu reaksi pengusaha yang terkenal kalem itu.
"Memang sepatutnya kamu mendapatkan bogem dari Yuna" ucap papa Aryanto setelahnya.
Edward hanya mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Nak Edward, Oom beritahu satu hal. Yuna itu berbeda dengan sepupunya. Dia itu bisa sangat kaku dan dingin jika bertemu dengan orang yang menurutnya tidak sesuai dengan kriterianya."
Aku tahu itu Oom.
"Oom beritahu kan suatu peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu. Yuna dikenalkan oleh seorang kolega kami kepada cucu lelakinya dan menurut kami secara fisik, pria ini nyaris sempurna. Namun Yuna langsung memberikan ucapan tajam kepada pria ini karena meremehkan pekerjaannya sebagai kurator. Kami saja yang orangtu kandungnya saja tidak pernah meremehkan profesi putri kami, tapi ini orang yang baru sekali bertemu sudah langsung menjudge Yuna dan mempertanyakan kenapa dia tidak mengambil alih perusahaan Oom."
"Apakah saya mengenal orang itu?"
Papa Aryanto tersenyum. "Kau tidak mengenalnya nak Edward."
"Try me Oom. Saya bisa mencari orang hingga ke lubang semut." Edward merasa kesal ada orang sebrengsek itu.
"Hahahaha, dasar anak buahnya Duncan. Look nak Edward, yang Oom maksud meskipun Yuna merasa nak Edward memiliki kesalahan kepadanya tapi dia masih mau berbicara denganmu meskipun setengah hati, itu lebih baik daripada langsung coret dan tidak mau mengenal lagi sampai kapan pun."
Rupanya dia masih ada perasaan denganku meskipun tadi bilang tidak mau bertemu dengan ku lagi.
"Oom tidak marah saya mencoba mencium putri Oom?" selidik Edward.
"Wong kamu sudah ditonjok oleh Yuna, jadi Oom tidak perlu mengotori tangan Oom kan?" gelak papa Aryanto.
Susah kalau urusannya sama keluarga Pratomo.
***
Yuna berada di sofa tengah bersama sang mama yang masih menunggu penjelasan kenapa putrinya yang cantik ini ikut-ikutan para sepupunya main hajar orang. Kemarin para iparnya yang perempuan pada curhat ghibah anak-anak perempuan mereka terutama mbak Niken, mommy Nabila dan Shanum dan dik Adinda mommy Vivienne. Rani bersyukur sebagai mantu di keluarga Pratomo, dia berhasil mendidik putrinya tidak bar-bar tetapi tampaknya gagal juga.
"Well? Jawab Mama, Yuna. Kenapa kamu menjotos nak Edward?"
Yuna memutar matanya malas. "Oh come on ma, jangan panggil dia nak Edward."
"Lho kamu saja manggil dia Mr Edward kok!"
"Kan sesuai profesi Yuna menghormati klien."
Mama Rani tertawa. "Ayo sayang. Cerita sama mama. Itu kalau Mbak Nabila tahu, bisa ramai nanti."
"Kalau Mbak Nabila tahu, malah bakal ditambah jotosannya ma" balas Yuna sarkasme.
"Hah? Memang nak Edward apain kamu?"
"Dia mencoba mencium Yuna, ma" jawab Yuna akhirnya.
Mama Rani harus mencerna dulu dan sejurus kemudian dia tertawa geli. Yuna yang melihat mamanya malah tertawa, menjadi jengkel.
"Siapa yang tidak ingin mencium bibir mu sayang, wong kamu itu gemesin banget. Wajar kalau Edward jatuh cinta padamu."
Mr Edward? Jatuh cinta padaku? Mama, jangan bikin aku tertawa.
"Seriously ma, aku nggak ada perasaan sama Mr Edward!"
"Belum" goda mama Rani.
"Astaga mama! Mama tidak tahu siapa dia? Dia itu Casanova, mantannya banyak! Bahkan waktu aku pulang ke London, melihat dia dicium oleh mantannya dan dia diam saja!"
Mama Rani tertawa. "Bukannya di London biasa seperti itu?"
"Bagi Yuna, jika orang masih menerima dicium oleh mantan berarti masih ada perasaan di hatinya."
"Bisa jadi juga nggak lho Na. Edward kan yang dicium, bukan Edward yang mencium. Menurutmu Edward membalas nggak?"
Yuna hanya mengedikkan bahunya.
"Sayang, mama tidak meminta kam dengan Edward tapi melihat cara dia menatapmu itu sama ketika papamu menatap mama. Ada banyak perasaan disana."
"Iisshhhh mama nih!"
Suara ponsel Yuna membuat kedua ibu dan anak itu berhenti mengobrol. Dilihatnya nomor tidak dikenal dan Yuna pun mengacuhkannya.
"Siapa Na?" tanya mama Rani.
"Nggak tahu! Nomor nggak dikenal." Tapi ponsel Yuna berdering lagi dan akhirnya mama Rani yang mengangkatnya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Apakah benar ini nomor telepon Nona Yuna Pratomo?"
"Benar, dengan siapa saya bicara?"
"Saya Krisna Adhitya, cucu Oma Tiar Adhitya."
Mama Rani hanya menatap Yuna yang hanya membuang muka, malas menanggapi. Mama Rani sudah tahu permasalahan Yuna dan Krisna dari Nyonya Tiar sendiri.
"Ada perlu apa ya?"
"Saya hendak mengajak nona Yuna makan malam untuk meminta maaf soal kemarin."
"Maaf sekali tapi Yuna sudah tidak mau bertemu dengan anda."
"Tapi... Ini dengan nona Yuna sendiri?"
"Bukan. Saya ibunya."
***
Yuhuuu Up dikit dulu yaaaaahhhhhh
Tar sambung maning pake rafia.
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️