Love In Bet

Love In Bet
Peltur



Edward dan Yuna sampai di Heathrow sekitar tengah malam dan Yuna pun tertidur setelah masuk mobil yang menjemputnya.


John yang ikut menjemput tertawa kecil mengingat nyonya nya sekarang sama seperti awal bertemu, tertidur sesampainya di mansion Blair.


"Boss, kali ini anda yang gendong nyonya lho ya jangan suruh saya" goda John.


"Iyalah! Nggak mungkin aku minta kamu yang gendong istriku" sahut Edward sambil membenarkan posisi tidur Yuna.


Jalanan di London yang lenggang membuat mobil Range Rover hitam itu sampai dengan cepat di mansion.


Maria yang sengaja menunggu nyonya nya yang datang harus kecewa ketika tahu Yuna tertidur dan digendong Edward ala bridal style.


"Ya ampun tuan, saban kesini kok selalu tidur begini" kekeh Maria sambil membawakan tas milik Yuna.


"Tahu nih istriku" bisik Edward takut membangunkan Yuna dan berjalan ke tangga menuju kamar utamanya.



Setelah meletakkan tubuh Yuna diatas tempat tidurnya yang berukuran king size, Edward kemudian menerima tas yang dibawakan Maria dan John.


"Sudah, kalian istirahat. Aku juga hendak istirahat."


"Selamat malam tuan" pamit Maria.


"Selamat malam boss. Semoga besok nggak kena bogem" kekeh John.


"Sialan kamu John!" umpat Edward sambil menutup pintu kamar dan menguncinya.


Melihat Yuna lelap tertidur membuat Edward gemas dengan istri cantiknya yang mudah sekali peltur, nempel turu.


Istilah itu dia dapat dari mama Rani ketika melihat Yuna tertidur di paha Edward pada malam sebelum terbang ke London. Keempatnya sedang ngobrol namun tiba-tiba Yuna meletakkan kepalanya di paha Edward dan langsung tidur.


"Ya ampun anak wedhok satu ini. Penyakit pelturnya nggak hilang-hilang" kekeh mama Rani.


"Hah? Yuna sakit apa ma?" tanya Edward sudah panik.


"Peltur, nempel turu. Artinya gampang tidur dimana saja" jawab mama Rani yang membuat Edward lega.


Edward memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, dia keluar hanya mengenakan celana piama tanpa baju. Pelan dia mulai membuka Coat dan sepatu Yuna. Lalu melepaskan baju yang menempel dan meninggalkan pakaian dalam saja.


Setelahnya Edward naik ke tempat tidur dan berbaring di sebelah Yuna. Tangannya segera memeluk tubuh istrinya dan secara insting, Yuna pun menempelkan tubuhnya di tubuh suaminya seolah mencari kehangatan.


"Welcome home, my darling. Love you, baby." Edward mencium kening istrinya dan ikut terlelap.


***


Yuna mengerjap-kerjapkan matanya dan berusaha mengolah otaknya untuk mengetahui dirinya berada dimana. Dilihatnya sebuah tangan memeluk perutnya dengan prosesif dan hembusan nafas hangat terasa di ceruk lehernya.


Pelan dia membuka selimut dan terkejut dirinya hanya mengenakan pakaian dalam namun setelah itu dirinya tersenyum mengingat semalam tertidur setelah masuk mobil.


Lagi-lagi digendong Edward ke mansion.


Yuna berusaha melepaskan pelukan suaminya namun tidak berhasil karena Edward semakin ketat memeluknya.


"Edward, aku harus ke kamar mandi sekarang" bisik Yuna.


"Nanti saja, masih enak ini" jawab Edward parau.


"Mau aku kasih bogem lagi?" ancam Yuna.


"Kasih aja" jawab Edward asal dengan masih memejamkan mata.


Yuna menusukkan jarinya di pinggang Edward yang membuat pria itu kaget dan melepaskan pelukannya membuat gadis itu terbebas lalu menuju kamar mandi.


"Yunaaaa! Ini lebih nyebelin daripada di bogem!" teriak Edward sebal.


Yuna selesai dengan urusannya di kamar mandi dan melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah lima pagi.


"Edward, ayo subuhan" ajak Yuna.


"Baby, sini tuh London. Subuh itu jam delapan bukan jam setengah lima kayak di Jakarta." Edward membalikkan tubuhnya dan kini dia tidur tengkurap.


Yuna mengecek ponselnya dan ternyata memang jamnya berbeda. Akhirnya dia memutuskan untuk tiduran kembali.



"Aku lupa kalau berbeda dengan Jakarta" bisik Yuna.


Edward menolehkan wajahnya dan menatap istrinya lalu merubah posisi tubuhnya menjadi terlentang kembali.


***


Sepasang suami istri itu keluar kamar setelah melaksanakan sholat subuh waktu London dan menuju ruang makan. Maria yang heboh melihat Yuna akhirnya menjadi nyonya rumahnya sangat bahagia. Edward sampai bingung dirinya seperti orang asing di rumahnya sendiri.


"Nyonya, pagi ini saya sengaja membuat American breakfast" ucap Maria.


Yuna mengangguk. "Aku sih nggak masalah yang penting enak dan halal."



"Kamu mau masak hari ini?" tanya Edward.


"Mungkin. Mau aku masakin apa?" Yuna balik lagi bertanya.


"Aku sih apa saja. Masakan Jawa juga bisa aku makan terutama tengkleng" goda Edward.


"Hohoho, no kambing ya!" Yuna mendelik ke arah Edward. Gegara tengkleng, suaminya membuatnya remuk badannya.


Edward tertawa. "Terserah kamu mau masak apa, karena pasti aku makan. Maria, kamu bisa belajar masakan Indonesia dari Yuna."


"Baik tuan. Saya memang ingin belajar masak masakan Indonesia apalagi yang namanya rendang."


Yuna menoleh ke arah Edward. "Mau rendang?"


"Maulah!"


"Ya udah nanti aku masakin rendang."


Edward mencium pipi Yuna. "Thanks istriku."


***


Edward datang ke kantor dengan perasaan bahagia apalagi Yuna mencium punggung tangannya membuatnya tidak menyesal kehilangan Porsche nya meskipun terkadang merindukan mobil itu. Mobil yang dia beli pertama kali setelah mundur dari dunia hitam.


"Boss!" sapa Jack dengan nyengir.


"Kenapa Jack?" tanya Edward yang dijajari oleh asistennya itu.


"Malam pertama kemana boss? Kok ngilang?"


Edward terbahak. "Sengaja karena aku tahu kalian akan melakukan kedurjanaan buat menggagalkan malam pertama ku!"


"Tapi boss ngilang kemana?"


"Istriku yang cerdas, sudah mempersiapkan segalanya karena dia hapal tingkah laku kalian."


"Jadi boss ngilang karena nona Yuna sudah mengantisipasi semuanya? Whoah! Salut aku sama nona Yuna. Boss nggak salah pilih istri!" kekeh Jack.


"Yes. I'm so proud of her" senyum Edward. "Ohya Jack, Nabila kan nggak ada di London sedangkan Vivienne pasti ditahan di Manchester oleh Oom Alex. Kalau Dian dan Rita sempat, mainlah ke mansion menemani Yuna."


"Siap boss."


Jack dan Dian sudah menikah di Jakarta ketika Edward mengejar Yuna ke Mesir dan dia meminta maaf kepada Jack tidak bisa hadir. Jack sendiri tahu bagaimana perjuangan bossnya mendapatkan Yuna, memakluminya.


Kini di London, Edward memberikan hadiah sebuah rumah indah buat sepasang suami istri itu yang membuat Jack bahagia melihat rumah impiannya menjadi miliknya.


"Dian bisa adaptasi di London, Jack?"


"Alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai bisa mengikuti ritme London. Dian sangat menikmati menjadi istri dan ibu rumahtangga."


"Alhamdulillah kamu mendapatkan pasangan yang baik Jack."


"Boss juga. Alhamdulillah nona Yuna memaafkan boss."


Edward mengangguk. "Aku beruntung mendapatkan Yuna Indira."


***


Yuhuuu Up Sore Yaaakkk


Maaf kalau nggak crazy Up coz masih belum fit.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️