Love In Bet

Love In Bet
Don't Judge A Book From Its Cover



Edward berada di kantornya di London sekarang dan sejak kembali dari Jakarta, dia banyak melamun. Rasa bibir Yuna, rasa ciuman dengan gadis itu, harum tubuhnya membuatnya konsentrasi buyar. Sekarang dia merasakan apa yang Mike rasakan, long distance relationship.


Relationship? Apakah kita memiliki hubungan? Apakah setelah ciuman panas kemarin kami punya hubungan?


"Haaaahhhh!!! Fu***!!!"


***


Dan Yuna disini di RR's meal restaurant milik sepupunya Ryu Reeves yang seorang chef profesional, menunggu nyonya Tiar. Setelah peristiwa ciuman bersama Edward, Yuna merasa hatinya bimbang. Dia merasa malu sendiri, tidak ada perasaan apapun dengan Edward tapi menerima ciumannya walaupun awalnya dipaksa oleh pria itu.


"Haaaddeeh!!! Dasar Casanova Sialaaann!!!" umpat Yuna yang membuat seorang pelayan terkejut melihat sepupu bossnya marah-marah.


"Mbak Yuna nggak papa?" tanya pelayan itu.


"Oh..eh maaf. Nggak papa, cuma lagi kesal saja."


Suara nyonya Tiar mulai terdengar dan pelayan mengantarkan ibu itu menuju meja Yuna.


"Yuna" sapa nyonya Tiar ramah.


Yuna pun berdiri mencium punggung tangan kolega papanya lalu mendapat ciuman pipi kiri kanan dari wanita itu.


"Nunggu lama ya?" tanya nyonya Tiar.


"Nggak kok aunty. Saya baru sepuluh menitan" jawab Yuna manis.


"Sepuluh menit itu lama lho! Maaf ya tapi gara-gara cucu aunty susah diseret kesini jadinya agak lama."


Yuna hanya mengangguk sambil tersenyum nggak paham apa maksudnya nyonya Tiar itu.


Suara seorang pria bertanya dimana meja milik nyonya Tiar lalu seorang pelayan mengantarkan pria itu


"Oma! Besok lagi jangan gitu ya! Aku parkir mobil dulu baru Oma keluar ..."


"Krisna! Dimana sopan santunmu?" tegur nyonya Tiar.


Pria muda bernama Krisna itu menghentikan bicaranya ketika tahu Omanya tidak sendirian.


"Maafkan cucu saya, Yuna. Dia memang suka heboh" ucap nyonya Tiar sambil mengusap tangan Yuna.


Cantik!


Yuna hanya tersenyum menatap nyonya Tiar tanpa ada niatan melihat Krisna.


"Ayo kenalan dulu. Yuna ini cucu aku, Krisna Adhitya. Krisna, ini Yuna Pratomo, putrinya Oom Aryanto."


Krisna mengulurkan tangannya yang disambut Yuna dengan sikap sopan.


"Krisna."


"Yuna."


Cantik tapi dingin banget.


Krisna lalu duduk di sebelah nyonya Tiar. Pria itu memandang dandanan Yuna yang siang itu mengenakan bluslengan panjang bewarna putih dan celana panjang bewarna pink pucat.



Kemana saja gadis seperti ini baru ketemu sekarang?


"Yuna, aunty kemarin sudah memasang lukisan-lukisannya. Cantik banget! Pelukisnya siapa sih?"


Yuna membuka iPad nya dan mulai memeriksa nama pelukisnya.


"Untuk lukisan pemandangan senja, sekolah dan pasar yang aunty beli itu pelukisnya satu orang. Namanya Didit, anak berumur 13 tahun, penderita cerebral parsley. Dana dari aunty sudah kami serahkan kepada orangtua Didit untuk menjadi dana pendidikannya."


Krisna hanya memandang Yuna yang sedang menjelaskan kepada Omanya.



"Terimakasih sayang, aunty senang kalau uang yang dikeluarkan berguna."


"Tujuan kami melakukan lelang amal memang untuk itu, aunty. Saling berbagi kepada sesama."


"Oh ya, kamu sudah memesan makanan belum?" tanya Nyonya Tiar.


"Saya menunggu aunty" senyum Yuna manis.


Ya Allah senyumnya manis sekali. Biarpun dingin tapi kalau tersenyum, cantik banget.


"So, nona Yuna. Anda bekerja dengan pak Aryanto?" tanya Krisna.


"Saya hanya bekerja jika memang diperlukan di kantor papa."


"Yuna ini kurator, Kris. Kerjanya keliling museum ke museum. Kemarin dia menjadi tuan rumah untuk acara amal PRC group merangkap kurator lukisan yang dilelang" jelas nyonya Tiar.


"Kurator?"


Yuna hanya mengangguk.


"Kenapa tidak mengambil alih perusahaan pak Aryanto?"


"Krisna! Jaga omongan kamu!" tegur nyonya Tiar.


"Apa urusan anda soal saya mengambil alih perusahaan papa?" tanya Yuna dengan tatapan dingin.


Krisna terkesiap menatap Yuna.


Gadis ini memang berbeda.


"Memang bukan urusan saya tapi bukan saya merendahkan pekerjaan anda..."


"Tapi sikap anda yang membuat saya berasumsi seperti itu" potong Yuna datar.


"Saya minta maaf nona Yuna jika sikap saya menyinggung perasaan anda." Krisna menatap Yuna dengan tatapan tidak enak.


"Maaf ya Yuna. Krisna suka ceplas-ceplos."


"Tidak semua anak konglomerat mau mengambil perusahaan orangtuanya. Saya mencintai pekerjaan saya dan saya tidak perlu judging dari orang lain yang saya tidak kenal tapi berlagak tahu semuanya."


Krisna melongo. Gadis cantik di hadapannya ternyata memiliki mulut pedas level 100.


***


Usai acara makan siang, Yuna berpamitan dengan nyonya Tiar dan Krisna karena harus kembali ke kantor papanya. Krisna mengantarkan Yuna sampai ke parkiran dimana mobil mini Cooper merah miliknya berada disana.



"Maafkan ucapan saya tadi nona Yuna" ucap Krisna sungguh-sungguh. Dirinya tidak menyangka gadis keluarga Pratomo ini bukan tipikal nona muda yang manja, yang menghamburkan uang keluarganya. Dia malah memilih pekerjaan yang orang lain tidak tertarik.


"Apakah anda akan menanyakan saya membeli mobil saya ini dari uang apa?" tanya Yuna sarkasme. Baginya, siapa yang mengusik pekerjaannya, tidak pantas diberi hati.


Bahkan Edward pun tidak pernah menghina pekerjaanku tapi pria ini baru bertemu pertama kali seolah mengira pekerjaanku tidak ada artinya. Dasar pria jaman now! Maunya wanita yang juga sama kayanya!


"Please, nona Yuna. Saya harus meminta maaf bagaimana lagi?" keluh Krisna.


"Dengan tidak usah bertemu dengan saya lagi. Saya tahu tujuan Oma anda hendak menjodohkan saya dengan anda. Tapi dengan sikap anda seperti itu padahal baru pertama kali bertemu dengan saya, maaf, anda tidak membuat saya tertarik. Selamat siang, Tuan Krisna Adhitya."


Yuna membuka pintu mobilnya lalu duduk di kursi pengemudi, menstater mobilnya dan meninggalkan Krisna yang masih mematung mendengar ucapan pedas Yuna.


***


Nyonya Tiar memandang marah kepada Krisna yang menurutnya minus akhlak dan sopan santun.


"Kamu itu! Oma berusaha mendekatkan kalian tapi kamu merusak semuanya!" dengus Nyonya Tiar.


Krisna hanya diam mendengar Omelan Omanya.


"Asal kamu tahu! Tidak semua anak-anak keluarga Pratomo itu mau mengambil alih perusahaan orang tuanya. Kakak Yuna malah memilih bekerja dengan orang lain di Singapura hanya karena mengejar passionnya yang tidak dia peroleh di perusahaan papanya. Yuna memilih menjadi kurator karena dia memang menyukainya. Apa kamu tahu dia lulusan Royal Art of College, sebuah sekolah seni paling prestisius di dunia? Kamu tidak tahu kan?"


Krisna terperangah mendengar gadis itu lulusan sekolah terkenal.


"Yuna sekolah disana dengan beasiswa! Anak cantik itu memilih beasiswa meskipun orang tuanya mampu membiayai semuanya. Dia berbeda dengan gadis-gadis matre yang kamu bawa bertemu dengan Oma! Dan sekarang kamu mengacaukan semua rencan Oma! Dasar cucu minus sopan santun! Entah dimana salah Oma mendidik kamu karena Oma tidak pernah mengajari kamu menilai seseorang dari casingnya!" keluh nyonya Tiar. "Sekarang antar Oma pulang!"


Krisna hanya terdiam dan berjalan di belakang Omanya yang masih memijit pelipisnya.


***


Yuhuuu Up siang Yaaaa


Insyaallah bisa up empat chapter hari ini supaya bisa lolos kontrak.


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu