Love In Bet

Love In Bet
WoT



Edward dan Yuna sudah sampai di Jakarta dan langsung menuju ke mansion papa Aryanto setelah sopir keluarga menjemput.


Edward menatap wajah cantik yang tertidur di kursi penumpang mobil dengan posisi tidak nyaman lalu meraih bahu gadis itu dan menyandarkan kepalanya ke bahu kekarnya.


"Masih jetlag ya sayang? Nanti sampai rumah, tidur saja lagi" bisik Edward yang hanya dijawab gumaman Yuna.


Sial! Kenapa si birdy malah bereaksi mendengar gumaman Yuna? Haaaiissshhhh, mana harus disunat dulu lagi!


Semenjak mereka tidur bersama dalam arti harafiah tidur tanpa melakukan apapun, Edward semakin posesif dengan Yuna. Harum tubuh dan rambut Yuna membuat Edward mabuk kepayang yang belum pernah dia alami selama dengan mantan-mantannya dan kini berdekatan lagi dengan gadisnya membuat reaksi tubuhnya mulai muncul.


Sabar Edward! Sabaaaarrr!


***


"Lhooo kok digendong?" tanya papa Aryanto melihat Edward menggendong putrinya ketika keluar dari mobil.


"Yuna masih jetlag Oom, makanya tidur terus dari tadi" jawab Edward sambil membopong gadisnya.


"Ya udah bawa ke kamarnya saja, nak Edward."


Edward pun mengangguk dan membawa Yuna ke kamarnya di lantai dua. Sesampainya di kamar yang bernuansa pink dan harum khas Yuna, Edward pun meletakkan tubuh langsing itu diatas tempat tidur. Edward dengan telaten melepaskan coat dan sepatu Yuna, membuatnya déja vu seperti pada saat gadis itu tiba di mansionnya pertama kali.



"Met bobok sayangku" bisik Edward sembari mengecup kening Yuna lalu keluar dari kamar dan menutup pintunya pelan.


***


Edward menatap kedua orang tua yang duduk di hadapannya dengan perasaan gugup. Mata papa Aryanto dan mama Rani menatapnya tajam seolah hendak mengulitinya. Jika begini, Edward memilih untuk menghajar markas mafia daripada bertemu dengan calon mertua.


"Nak Edward, apa benar kamu sudah mualaf?" tanya mama Rani.


"Alhamdulillah sudah Tante. Ini saya kasih buktinya." Edward mengambil ponselnya memutar sebuah video tampak pria bule itu mengucapkan dua kalimat syahadat di depan ustadz Qarim Jefferson dengan saksi Duncan McGregor, Jack dan Bryan.


"Surat sertifikasi mualaf juga sudah saya pegang karena semua data pribadi saya berubah" jawab Edward.


"Cuma belum sunat" kekeh papa Aryanto.


Wajah Edward memerah. "Itu yang belum."


Mama Rani tertawa. "Nak Edward, sunat itu wajib jadi Tante harap, kamu segera melakukan sunat. Kalau perlu disini saja jadi Yuna bisa merawat nak Edward sembari mempersiapkan pernikahan kalian."


"Eh? Menikah?" tanya Edward bingung.


"Kamu pikir setelah melamar Yuna tidak segera menikah?" tanya papa Aryanto dengan nada naik satu oktaf.


"Bukan begitu Oom. Kan saya belum melamar resmi ke Oom dan Tante."


"Begini saja, lusa Tante buatkan jadwal untuk melakukan sunat. Kata Nabila setelah itu nak Edward butuh proses pemulihan 2-3 Minggu, cukuplah sebulan untuk prepare. Aku telepon mbak Niken, mbak Yana dan dik Adinda dulu." Mama Rani lalu meninggalkan kedua pria itu.


"Well Edward, lusa jadwalnya kau potong punya bird ya" goda papa Aryanto.


"Dikit kok Oom yang dipotong" sahut Edward.


"Kok tahu?"


"Browsing lah! Lagipula bukan bird saya yang dipotong cuma ujungnya." Edward nyengir.


"Hahahaha! Kalau kamu nggak tahan, opname saja sekalian."


"Nggak Oom. Mending saya di rumah sama Yuna."


***


Yuna membuka matanya dan merasa terkejut dirinya sudah berada di kamarnya. Pasti digendong Edward lagi.


Suara pintu dibuka dan tampak Edward disana.


"Hai! Boleh aku masuk?" tanya Edward.


Yuna berdiri dan berjalan ke arah sofa dan memilih duduk disana.


"Boleh." Edward pun duduk di sofa berhadapan dengan Yuna.



"Kamu tahu, mamamu sudah membuat janji kepada dokter untuk sunatku lusa" keluh Edward yang sukses membuat Yuna tersenyum geli.


"Aku ... takut" cicit Edward. Yuna membelalakkan matanya tidak percaya.


"Oh my Gosh! Edward Jonathan Blair, mantan mafia takut sunat?" Yuna tertawa terbahak-bahak sedangkan Edward semakin memanyunkan bibirnya.


"Oh come on Yuna! Aku takut jarum suntik asal kau tahu!" ucap Edward frustasi.


Yuna semakin terbahak-bahak mendengar pria yang dikenal dingin dan tidak segan-segan menghajar siapapun ternyata takut jarum suntik.


Merasa jengkel, Edward lalu menarik tubuh Yuna lalu mencium bibirnya sehingga gadis itu berhenti tertawa. Pria itu lalu Melu**mat bibir berwarna peach itu dan lidahnya bermain di dalam.


"Kalau kamu tidak berhenti tertawa, akan terus aku cium kamu Miss Yuna" bisik Edward setelah keduanya merasa kehabisan nafas.


Yuna hanya mengerjap-kerjapkan matanya dan baru menyadari dirinya ditindih oleh Edward. Harum khas maskulin musk dan sweet woods tercium di hidung mancung Yuna. Gawat kalau begini terus!


"Mr Edward" bisik Yuna dengan suara agak serak.


"Apa sayang?"


"Berat!" Yuna mendorong pria itu ke samping hingga jatuh diatas karpet yang tebal.


"Astaghfirullah Yuna! KDRT!" omel Edward kaget.


Yuna pun berdiri lalu menindih Edward yang dalam posisi terlentang di lantai dan segera mencium hidung pria itu. "Tampaknya kamu harus sabar menghadapi sikap bar-bar ku Mr Edward."


Edward lalu memegang pinggang Yuna. "Kita woman on top sekarang?" godanya mesum. "Adduuhhh!"


Yuna mengeplak bahu Edward lalu berdiri.


"Belum sah!" hardik Yuna.


"Eh, Yuna. Habis sunat, mending aku pakai piyama longgar saja ya" ucap Edward masih posisi tiduran di karpet.


"Ngapain pakai piyama? Pakai sarung kan beres!" sahut Yuna sebelum masuk kamar mandi.


"Sarung? Apaan tuh?"


Yuna menepok jidatnya. "Haddeehhh! Dasar bule satu ini!"


***


Kedua insan itu makan malam bersama dengan kedua orangtua Yuna. Tadi usai shalat Maghrib berjamaah, papa Aryanto dan Edward berdiskusi banyak tentang agama Islam, bahkan mengajar mengaji. Meskipun masih terbata-bata, Edward berusaha belajar sungguh-sungguh.


"Nanti kalau habis sunat, pakai sarung ajah nak Edward" kata mama Rani.


"Iya Tan, tadi Yuna sudah mengajarkan cara pakai sarung" jawab Edward yang langsung mendapat pelototan papa Aryanto. Selama ini Edward selalu pakai celana panjang dan baju Koko setiap sholat.


"Ngajari kamu pakai sarung?"


"Hah? Iya Oom, via YouTube." Edward menatap bingung ke calon mertuanya dan Yuna yang juga bingung.


"Oh kirain Yuna bantu pasangin sarung langsung di badanmu" dehem papa Aryanto.


Edward langsung paham. "Lha kan Yuna sudah pernah pegang badan saya plus saya juga sudah tidur bareng jadi sebenarnya nggak ada masalah kan Oom?" cengir Edward jahil yang mendapat pelototan Yuna.


"EDWARD!" bentak Yuna dengan wajah memerah.


"Lho, di pesawat kan kita tidur bareng sayang" Edward lalu membenarkan ucapannya setelah mendapatkan pelototan dari keluarga Pratomo. "Tidur di kursi masing-masing kok. Soal Yuna pernah memegang badan saya, kan saya pernah dibanting sama dia."


Wajah seram papa Aryanto berubah jadi usil. "Enak dibanting sama Yuna?"


"Enak Oom, kan bisa langsung woman on top" cengir Edward.


"EDWAAARRDDD!!!"


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️