Love In Bet

Love In Bet
First Love?



Nabila menurunkan kedua adik dan sahabatnya di depan rumah milik Aryanto Pratomo. Sebuah rumah dengan desain sederhana namun tampak homie. Berbeda dengan mansion keluarga Pratomo yang lain, mansion ini lebih kecil luas tanahnya dibanding milik ayah Nabila.



"Aku langsung ke rumah sakit ya?" ucap Nabila setelah para penumpang menurunkan barang bawaannya.


"Nanti bis dari rumah sakit, aku mampir sini."


"Manuuuttt! Sekarang aku pengen tiduuuurr!" rengek Vivienne.


"Ya udah masuk yuk. Hati-hati mbak. Makasih sudah jemput." Yuna mencium pipi Nabila.


"Thanks Nab" ucap Brandon sembari memeluk gadis kesayangannya.


"Met molor Vivet!" ucap Nabila sembari masuk ke dalam mobil.


"Byee!"


***


Brandon dan Vivienne mendapatkan kamar di lantai satu dan bersebelahan sedangkan Yuna pun naik ke kamarnya yang di lantai dua.


Vivienne berteriak kencang melihat kamar tidurnya yang bernuansa biru putih karena papa Yuna pecinta warna itu.



"Kasuuuurrr, tunggu aku yaaa!"


Brandon sendiri senang melihat kamar tidurnya yang nuansanya lebih kalem.



"Aaahhh aku pengen tidur! Mandi terus merem!"


***


Yuna pun masuk ke kamarnya yang sudah lama tidak ia tempati.



"Kamarku. My room sweet room. Kayaknya aku ikutan tidur dulu deh kayak mereka berdua."


Yuna mengambil baju rumahnya dan masuk ke kamar mandi. Setelah bersih, dia langsung merebahkan tubuhnya dan mulai terlelap.


***


Edward sampai di Jakarta bersama John tengah malam. Keduanya pun naik taksi menuju hotel The Raffles yang sudah mereka booking sebelumnya.



Sesampainya di kamarnya, Edward benar-benar lelah fisik mental ditambah jetlag membuatnya segera membersihkan diri dan tidur.


Besok aku akan ke rumah Stephen tapi malam ini aku harus tidur.


***


Yuna membuka ruang kerja papanya dan memulai melakukan kurator semua lukisan yang disimpan disana. Semalam papanya memberi kabar harus menemani mamanya, Rani, yang jadwal general check up di Singapura sekalian menengok kakaknya Akira yang bekerja disana.



Nabila pun semalam mampir membawakan pizza buat adik-adiknya meskipun harus kembali ke rumah sakit karena harus mengurus korban kecelakaan karambol di jalan tol.


Pagi ini usai sarapan, Yuna langsung mulai bekerja meninggalkan Brandon dan Vivienne yang masih menikmati sarapan soto Betawi.


Sembari duduk diatas karpet tebal, Yuna menyebarkan semua lukisan berjumlah 20 buah. Yuna sangat takjub melihat hasil lukisan karya para difabel yang bagus-bagus.



Bakalan sulit ini memberikan harga pembuka.


Yuna harus tetap bersikap profesional agar tidak salah memberikan harga. Saking seriusnya bekerja, gadis itu tidak tahu kalau Brandon dan Vivienne sudah berada di belakangnya.


"Aku suka yang gambar langit. Warnanya nggak biasa" komentar Brandon yang membuat Yuna mendongak.


"Kamu ngincar ini?" tanya Yuna.



"Aku berani bayar lebih dari harga pembukamu Nab."


"Warnanya cakep" komentar Vivienne.


"Banyak yang bagus-bagus ini Viv. Kamu bisa milih-milih dulu mana yang kira-kira akan kamu tawar besok." Yuna melanjutkan pekerjaannya.


Brandon dan Vivienne saling melihat dan memilih mana yang kira-kira akan mereka bawa pulang.


"Kami sudah kamu daftarkan sebagai peserta lelang kan?" tanya Brandon.


"Tenang, kalian hanya menggantikan papa dan mamaku" cengir Yuna.


"Astaga Yunaaaa!"


***


Edward sampai di kantor pengacara Blair and Associates yang sengaja dibuat Stephen sebagai cabang dari kantornya yang di London dan New York. Stephen Blair adalah seorang pengacara lulusan Oxford University dan spesialisasinya kasus white collar atau kerah putih.


Kejahatan kerah putih secara umum mengacu pada kejahatan yang dimotivasi secara finansial dan biasanya dilakukan oleh para profesional dalam bidang bisnis dan aparat pemerintah.


Kini di depan kantor adiknya, Edward menelpon sang adik untuk bertemu.


"Langsung naik saja bro" ucap Stephen.


Edward pun berjalan menuju lift setelah resepsionis mendapatkan telepon dari Stephen dan mempersilahkan ke lantai tiga tempat kantor adiknya.


***


Stephen surprise melihat kakaknya datang. Pria berusia dua tahun di bawahnya itu tampak keren dengan setelan jas kerjanya.



"Wah, ada angin apa ini pemimpin MB datang ke Jakart?" sapa Stephen.


"Urusan pribadi."


"Wanita?" kekeh Stephen yang tahu urusan kakaknya jarang jauh-jauh dari soal cewek. Stephen sendiri sudah menikah dengan Diana, seorang dokter yang sedang mengambil spesialisasi jantung.


Edward hanya duduk di kursi depan meja kerja Stephen dan mengindai ruang kantor adiknya yang menurutnya sesuai dengan selera pria yang sama-sama bermata biru.



"Hhhmmm" jawab Edward akhirnya.


"Whoah! Siapa itu? Apakah dia tinggal di Jakarta?" Stephen kepo maksimal karena kakaknya bukan tipe pemburu perempuan tapi tipe yang suka dikejar perempuan. Edward hanya memberi sedikit pancingan dan wanita itu akan mengejarnya dan kalau kakaknya ini sampai mengejar ke Jakarta, berarti ada sesuatu.


"Kamu nggak akan tahu" ucap Edward.


"Try me!" sahut Stephen.


Edward menatap foto Diana yang ada di meja Stephen. "Is marriage life fun?"


Stephen menatap kakaknya horor. Marriage? Satu kata yang membuat Edward bisa kabur ke markas MB berhari-hari muncul dari mulut kakaknya?


"Kalau kamu bertanya padaku, aku bilang sangat menyenangkan! Diana benar-benar paket komplit. Dia bisa jadi istri, teman, chef, partner sharing dan jal4ng di tempat tidur" kekeh Stephen.


"So, who's that girl?" lanjut Stephen masih kepo mode on.


"Yuna Indira Pratomo."


Mata biru Stephen membelalak. "Yuna Pratomo anak Aryanto Pratomo, salah satu Presdir PRC group? Wow, bro. Kali ini pilhanmu memang kwalitas premium!" gelak Stephen.


***


Edward dan John akhirnya mendapatkan alamat mansion Aryanto Pratomo dan keduanya pun meluncur kesana.


Ketika sampai di sebuah rumah dengan desain simple tapi tampak nyaman di huni, seorang penjaga keluar dari gerbang dan menanyakan identitas kedua tamu bulenya ditambah seorang sopir orang Indonesia.


Penjaga itu menanyakan kepada Vivienne melalui gate call. Vivienne pada awalanya tidak percaya kalau mafia gila itu sampai di mansion pakdhenya tapi akhirnya mengijinkan Edward masuk.


Mobil Innova venturer warna hitam pun masuk ke halaman rumah. Vivienne sendiri sudah menunggu di depan pintu dengan wajah sebal. Edward dan John turun memberikan wajah ramah kepada gadis ABG bongsor itu.


"Ngapain kesini bang?" cetusnya dengan muka jutek.


"Kan aku bilang mau ke Jakarta ikutan lelang."


"Cih, alasan! Ayo masuk!" Vivienne membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Edward dan John.


"Edward? John? Ngapain kesini?" tanya Brandon yang berada di ruang tengah. Dia sedang memilih-milih lukisan yang sudah dikurator oleh Yuna sebelumnya.


"Ikut lelang lah!" jawab Edward kalem.


"Masih empat hari lagi juga lelangnya" sahut Vivienne sembari meneguk colanya.


"Aku tahu. Dimana Yuna?" tanya Edward tanpa basa basi.


"Di pendopo belakang, lagi sholat Dhuhur. Katanya sekalian refreshing." Vivienne menunjukkan pintu yang ke arah halaman belakang.



Edward pun berjalan kesana dan tampak sebuah gazebo yang terbuat dari kayu dengan hiasan tanaman di tiangnya. Pria itu kemudian mendekati bangunan bewarna coklat tua dan terkesiap. Tampak Yuna masih mengenakan rukuh dan tengah mengaji.


"Yu..Yuna?" tanya Edward yang entah kenapa hatinya bergetar melihat penampilan Yuna yang berbeda dan itu membuatnya membeku.



"Mr Edward?" tanya Yuna menghentikan ngajinya.


Edward hanya bisa terdiam dan mematung.


Inikah yang namanya jatuh cinta?


***


Yuhuuu Up pagi Yaaaa


Harusnya semalam udah aku up cuma keturon eh ketiduran. 😅😅😅


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️