Love In Bet

Love In Bet
My Special Wife



Hampir dua Minggu Yuna dan Edward berada di Los Angeles dan akhirnya selesai mengkurator semua barang-barang milik Adriana. Setelah manajer Adriana, Albert menghubungi balai lelang Christie's dan mengetahui lelang amal, maka ditetapkan akhir bulan akan diadakan lelang disana semua barang-barang milik Adriana.


Hari ini Yuna dan Edward kembali ke London setelah menyelesaikan semua pekerjaan di Los Angeles. Keduanya langsung ke gedung MB Enterprise karena Jack memintanya untuk segera kesana untuk menandatangani berkas-berkas.


"Darling, kalau kamu masih jetlag, tidur saja di kamarku" ucap Edward yang melihat Yuna nyaris tertidur di sofanya.


"Dimana kamarmu?" tanya Yuna sambil berdiri. Matanya memang benar-benar minta dipejamkan.


Edward memencet sebuah tombol di bawah meja kerjanya dan terbukalah sebuah dinding yang bagi orang biasa tidak tahu ada sebuah kamar di baliknya.


"Wow! Mr Edward, kalau begini aku yakin kamu itu mafia" kekeh Yuna yang segera masuk ke dalam ruangan itu.


Edward hanya tersenyum geli mendengar ucapan istrinya.


Yuna masuk ke dalam kamar yang bernuansa abu-abu dan sangat maskulin. Sebuah tempat tidur ukuran king size terdapat disana plus lemari pakaian yang terdapat baju-baju milik Edward tertata rapi. Yuna iseng memeriksa beberapa laci dan betapa terkejutnya dia melihat beberapa koleksi senjata api pria itu.



"Hhhmmm ada Glock, Revolver, Colt, Sig. Koleksinya lumayan juga" gumam Yuna yang memang tidak terlalu asing dengan senjata api karena dia memiliki ijin menembak.


Gadis itu segera membuka mantel dan melepaskan sepatunya, lalu naik ke tempat tidur dan mulai terlelap.


***


Edward mengawasi istrinya yang sedang mengelus senjata api koleksinya dan betapa terkejutnya ketika mendengar gumaman Yuna yang tahu jenis-jenis senjata yang dimilikinya.


Istriku memang berbeda. Senyum Edward.


"Boss?" panggil Jack yang bingung melihat Edward senyum-senyum sendiri. Gawat nih si boss kesambit setan Los Angeles kayaknya.


"Jack, ceritakan apa kelebihan Dian dibanding wanita-wanita yang pernah bersamamu."


Jack melongo. Fix! Si boss kesambit.


"Dian? Dia berbeda karena karakternya yang tenang dan santun bahkan para pedagang di pasar pun mengenal Dian meskipun istriku belum lama tinggal di London."


Edward tersenyum. "Itulah yang aku rasakan dengan Yuna."


"Memang Mrs Blair kenapa boss?"


"Dia tidur di kamarku dan sebelumnya dia melihat laci lemariku dan menemukan senjata api yang aku simpan disana. Kau tahu Jack, Yunaku hapal jenis senjata api milikku. Gila! Istri cantikku paham senjata api!" kekeh Edward dan ada nada bangga disana.


Jack terkejut. "Whoah! Boss! Keren!"


"She's amazing!" puji Edward.


***


Edward baru menyelesaikan pekerjaannya menjelang sore hari sekitar jam tiga. Dia sudah memesan makanan untuk istrinya yang masih tertidur.


Dengan membawakan nampan berisi makan siang untuk Yuna, Edward pun masuk ke dalam kamar setelah sebelumnya dia mengunci ruang kerjanya.


"Darling, baby... Ayo bangun" bisik Edward. Pria itu sudah melepaskan jas dan dasinya, bahkan dua kancing kemejanya sudah dibuka.


"Hhhmmm" gumam Yuna dengan nada masih mengantuk.


"Ayo bangun. Makan dulu. Kamu belum makan siang lho" bisik Edward sembari mencium ceruk leher Yuna yang harum green tea.


"Aku masih ngantuk..." Yuna semakin memejamkan matanya.


Edward pun berbaring di sebelah Yuna dan tangannya mulai menyusup ke dalam blus yang dipakai istrinya. Dua gundukan milik Yuna diremas pelan oleh Edward yang membuat Yuna mendesis.


"Edwaaaarrdd .. Aku ngantuk!" protes Yuna.


Edward seolah tidak mendengar rengekan istrinya dengan santainya pria itu membuka kancing-kancing blus Yuna dan tampaklah pemandangan yang selalu membuat jantungnya berdebar-debar.


"Mrs Blair, ternyata kaitannya di depan ya" bisik Edward parau yang melepas kaitan penutup gundukan kembar Yuna dan kini keduanya terbebas dari sensor bewarna hitam.


Jemari Edward pun menurun menuju celana jeans Yuna dan membuka ikat pinggang lalu melepaskan celana jeans-nya yang hanya menunjukkan segitiga yang warnanya senada dengan penutup atasnya.


"Sering-sering saja memakai Victoria Secret warna hitam, Mrs Blair. Membuat semakin semangat" bisik Edward.


"Hhhmmm" gumam Yuna tidak jelas. Edward melepaskan kemejanya dan mulai menciumi wajah istrinya.


"Kita buat Edward junior ya" bisiknya parau.


"Karena aku ingin Edward junior dulu" kekeh Edward di dada Yuna.


"Curang!" cebik Yuna sembari membu**sungkan dadanya.


Dan sore itu mereka melakukan misi membuat Edward Junior di kamar milik Edward.


***


Yuna memakan makanan yang dibawa oleh Edward seperti kelaparan.


"Lapar Mrs Blair?" goda Edward yang posisinya setengah duduk di tempat tidur dengan hanya mengenakan boxer. Tubuhnya yang Shirtless tampak sedikit berkilat akibat keringat setelah percint**aan mereka yang panas tadi.


"Lapar lah! Berapa lama tadi!" omel Yuna sambil memasukkan mashed potatoes ke dalam mulutnya. "Duh, nggak ada nasi ya?"


Edward terbahak. "Ya ampun, dasar orang Indonesia belum makan kalau belum ketemu nasi."


"Lapar aku tuh Mr Blair!" cebik Yuna yang sekarang hanya mengenakan kemeja milik Edward di tempat tidur sambil makan.


"Aku mandi dulu nanti aku pesankan bento yang ada nasinya." Edward turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi yang ada di sisi kiri ruangan.


Yuna menghabiskan makan siangnya yang terlambat lalu membereskannya.


"Darling!" panggil Edward.


"Apa? Aku nggak mau kesana Ed! Perutku baru saja keisi makanan!" Yuna sudah tahu pola pikir suaminya yang mempunyai banyak trik demi kemesuman haqiqi.


"Oh come on baby!" panggil Edward lagi.


"No! Nanti saja!" balas Yuna.


Edward membuka pintu kamar mandi. "Berarti nanti malam dobel ya" kerlingnya.


"Astagaaaaa Mr Blair!" kekeh Yuna.


"Demi Edward junior lah!"


***


Menjelang malam, Edward dan Yuna baru sampai di mansion dan disambut oleh Maria yang seperti biasa selalu heboh jika nyonyanya datang.


"Nyonya, pesanan saya nggak lupa kan?" tanya Maria.


Yuna hanya tersenyum. "Nih, aku minta langsung sama Tante Yana."


Maria adalah fans berat tantenya dan sudah wanti-wanti agar memberikan foto idolanya lengkap dengan tanda tangannya.


"Waaahhh! Benar-benar tanda-tangan Adriana Reeves! Apa Oom nyonya juga tampan seperti di film?" tanya Maria.


"Doakan saja Oom dan Tanteku bisa main ke London jadi dirimu bisa bertemu dengan mereka langsung" ucap Yuna.


"Selalu nyonya. Kapan lagi bisa bertemu dengan mereka secara langsung."


Yuna mengangguk. "Aku ke atas dulu Maria. Masih jetlag."


"Silahkan nyonya."


Yuna pun naik ke lantai dua ke kamar Edward yang sudah disetting remang-remang.


"Edward! Apa kamu sudah nggak sanggup bayar listrik, jadi lampunya remang-remang begini?" tegur Yuna.


Edward hanya menepuk jidatnya.


Istriku memang beda!


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️