
Duncan McGregor duduk dengan santainya di kursi kebesaran Edward Blair sembari membuka iMac di depannya mengecek semua pekerjaan anak buahnya. Diliriknya jam menunjukkan pukul sembilan pagi tapi tanda-tanda kedatangan Edward pun belum ada.
Setelah mengomel dalam hati, sepuluh menit kemudian munculah si pemilik kursi.
"Lho? Tuan besar?" Edward terkejut ketika melihat big boss nya duduk di kursi miliknya.
"Kamu datang sendiri Ed? Mana Yuna?" tanya Duncan sembari mencari-cari orang selain Edward.
Edward hanya melongo. "Kenapa cari istriku boss?"
"Kirain ikut kamu ke kantor" sahut Duncan cuek.
"Nggak lah. Ngapain Yuna ikut ke kantor? Istriku di rumah sedang membersihkan busurnya." Edward berjalan menuju sofa.
"Bagus! Berarti Yuna di rumah kan?" cengir Duncan.
"Iya, Yuna di rum... Wait! Apa maksudnya tuan besar? Ada urusan apa sama Yuna?" Edward memincingkan matanya curiga dengan boss nya.
Duncan McGregor
Duncan mengacuhkan pertanyaan Edward dan mengambil ponselnya.
"Halo. Wa'alaikum salam" sapa Duncan. Meskipun dia berbeda, tapi Duncan selalu membalas salam dari keluarga Pratomo.
"Yuna, kamu ada acara apa hari ini?" tanya pria paruh baya itu.
"Bagus. Oom akan ke rumahmu. Tunggu Oom disana ya... Edward? Memang siapa Edward yang berani melawan Oom?" kekehnya.
Edward melotot tidak percaya bossnya bisa durjana juga menistakan dirinya di depan istrinya.
"Kita? Kita akan pergi berkencan lah!" gelak Duncan tanpa beban.
"Booossss!!!" seru Edward tidak terima mendengar ucapan bossnya.
"Ah biasa Yuna, suamimu sok posesif padahal dulu sok menolak dirimu. Biar dia rasakan kalau kamu banyak yang suka. Hahahaha!" tawa menyebalkan Duncan menggema di ruangan Edward yang sudah kesal hingga ke ubun-ubun.
"Oke. Oom langsung ke rumah mu sekarang. Bye Yuna!"
Edward menatap bossnya dengan wajah jengkel.
"What?" tanya Duncan dengan wajah polos tanpa salah.
"Boss, Yuna itu istri aku!" ucap Edward sebal.
"Yang bilang dia istri Mike siapa? Istri Mike itu Nabila, istri kamu itu Yuna."
Edward mengusap wajahnya kasar.
"Tapi kenapa boss mengajak Yuna berkencan?" Edward tahu Duncan hanya menganggap Yuna seperti putrinya sendiri namun dirinya sebal juga dengan istilah berkencan yang dipakai bossnya.
"Lho kami kan memang hendak berkencan." Duncan berdiri dari kursi milik Edward lalu berjalan menuju tangan kanannya. "Aku pinjam istrimu dulu Ed!" ucapnya sambil menepuk bahu Edward dan berjalan keluar ruang kerja pria itu.
Suara pintu tertutup pun terdengar.
"Dasar Voldemort!" makinya.
***
Yuna melongo ketika melihat Duncan McGregor benar-benar datang ke mansion Edward.
"Kirain Oom masih di Sydney sama Pakdhe Adrian" ucap Yuna.
"Sudah selesai urusannya dua hari lalu jadi Oom memilih pulang apalagi Oom dapat kiriman video dari Jack soal kamu ulang tahun dan merayakannya dengan Glock dan busur."
Yuna tertawa. "Mereka pada laporan sama Oom?"
"Iyalah! Penasaran Oom dengan kemampuan kamu!"
Yuna tersenyum. "Oom apa nggak tahu kalau Mbak Nabila juga bisa lho. Kami yang perempuan semua bisa menembak dan yang paling jago itu Vivienne."
"Nabila jangan lah, jari jemarinya mending buat mengobati orang bukan mencelakakan" bela Duncan ke menantu kesayangannya.
"So, apa Edward nggak manyun Oom ajak aku berkencan dalam tanda kutip?" tanya Yuna sambil membuat gerakan dua jari telunjuk dan tengahnya seperti naik turun.
"Manyunlah! Tapi itu hobi Oom membuat semua anak buah manyun karena bikin suasana hati Oom enak" gelak Duncan santai.
Yuna memegang pelipisnya. Perasaan yang Gesrek itu gen keluarga aku, kenapa ini mertua mbak Nabila ikutan Gesrek?
"Oke, sekarang kita bersiap-siap! Come on Yuna, bawa Glock dan busurmu!" perintah Duncan.
Wajah Yuna langsung sumringah. "Kita berlatih Oom?"
Duncan mengangguk. "Tapi sebelumnya kita makan dulu."
***
Edward muring-muring di ruangannya mendengar laporan dari Maria kalau nyonyanya diculik oleh tuan besarnya sambil membawa busur.
"Voldemort brengseeeekkkk!!!"
***
"Haaattsssyiiinggg!" Duncan bersin tiba-tiba. "Sorry Yuna tampaknya ada yang memakiku."
Yuna tertawa. "Pasti Edward."
"Siapa lagi sayang" kekeh Duncan yang sekarang asyik makan siang bersama adik menantunya. John dan dua pengawal lain duduk tidak jauh dari mereka makan.
"Bagaimana kerjasama dengan Pakdhe Adrian?"
"Awesome. Oom suka bekerja sama dengan kalian apalagi sudah menjadi bagian keluarga.
"Oom dan bang Mike sayang banget ya sama mbak Nabila?" tanya Yuna.
"Very much! Oom tidak tahu kenapa bisa sayang dengan kakakmu itu. Dia wanita yang hebat lho Na, bisa tegar meskipun memiliki kekurangan dan Mike bisa menerima itu, bukankah mereka pasangan yang manis. Oom tidak terlalu membutuhkan cucu karena yang penting kebahagiaan anak-anak Oom."
"Alhamdulillah kalau begitu." Yuna tersenyum.
"Yuk segera kesana."
Duncan, Yuna, John dan para pengawal pun keluar dari restauran tersebut.
***
Ini kali kedua Yuna datang ke bangunan tempatnya merayakan ulang tahunnya Minggu lalu.
"Aku selalu suka disini" ucap Duncan.
"Sama" jawab Yuna. "Selain museum."
Duncan dan Yuna pun masuk ke dalam bangunan berbentuk kotak besar itu. Para pengawal disana pun sudah mempersiapkan semuanya.
Keduanya pun menyiapkan senjata masing-masing dan mulai berlatih melakukan tembakan. Duncan dengan revolver sedangkan Yuna dengan Glock pemberian Edward.
Para pengawal pun takjub melihat boss dan Mrs Blair jago menembak bahkan dengan selisih yang tidak terlalu jauh berbeda.
"Yuna, kamu mau taruhan?" tanya Duncan.
"Taruhan apa Oom?" tanya Yuna sambil mengisi peluru di magazen SIG milik Edward yang terdapat di lemari koleksinya.
"Kalau Oom bisa menembak delapan peluru dari SIG milik Oom bullseye, kamu harus mengabulkan permintaan Oom."
"Asal permintaan Oom nggak aneh-aneh dan masih masuk akal dan memang Oom bisa bullseye, why not" kekeh Yuna. "Tapi kalau aku bisa bullseye pun, Oom juga harus mengabulkan permintaan Yuna."
Duncan mengulurkan tangannya dan disambut oleh Yuna, keduanya saling berjabat tangan.
"Deal ya!" ucap Duncan.
"Deal!"
***
Edward menunggu istrinya selesai membersihkan diri di kamar mandi. Pria tampan itu sudah menunggu di atas tempat tidur.
Yuna pun keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuhnya di samping tubuh suaminya.
"Bagaimana acara menembak tadi?" tanya Edward.
"Menyenangkan tapi aku kalah taruhan" jawab Yuna sedih.
"Kalian bertaruh apa?"
"Jika bisa bullseye, masing-masing harus mengabulkan dan tembakanku hanya tujuh yang bullseye sedangkan Oom Duncan semua bullseye."
"Lalu? Kamu harus apa oleh si Voldemort?"
"Oom Duncan hanya meminta jika anak kita lahir nanti dan laki-laki, kita harus memberi kan namanya Duncan."
Edward melotot.
"AAAPPAA??!!"
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaa
Terjawab sudah darimana asal Nama Duncan Blair
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️