Love In Bet

Love In Bet
Tunangan?



Yuna hendak menampar wajah Edward namun tangannya dicekal oleh pria itu. Wajahnya memerah menahan marah dan malu kena curi dicium oleh Edward...Lagi.


"Kamu tahu Baby, tangan secantik ini jangan digunakan untuk menonjok dan menamparku. Tangan ini gunanya untuk mengelus wajahku, sayang" goda Edward sembari menaruh telapak tangan Yuna di wajahnya.


"Mr Edward!" desisnya kesal.


"Edward, jangan pakai Mr didepannya." Tiba-tiba jiwa Casanova nya muncul kembali setelah mendapatkan lampu hijau dari papa Aryanto.


"I really hate you!" desis Yuna.


"Don't hate me, just love me" senyum Edward.


"What the f..." bibir Yuna dicium sekilas oleh Edward.


"Bibir secantik ini jangan sekali-kali mengucapkan kata kasar. Tidak pantas." Edward menempelkan dahinya di dahi Yuna. Mereka berdua duduk di atas karpet tebal, berhadapan dan sekali lagi suasananya menjadi panas meskipun AC di ruangan Yuna dingin.


"Please, Mr Edward. Just leave me alone. Saya masih ada banyak pekerjaan" bisik Yuna lemah.


"Aku akan duduk di kursimu sembari mengecek email ku" Edward pun bangun dari karpet lalu memakai sepatunya dan menuju meja kerja Yuna. "Aku pinjam iMac mu."


Edward menggeser panah untuk membuka PC Yuna tapi di password. "Yuna, password nya apa?"


Yuna mende**sah kesal dan akhirnya pun bangun dari duduknya. "Minggir!"


Edward pun memundurkan kursinya dan mulai melihat password yang diketik oleh Yuna.


"Tiramisu?" Edward tertawa. "Password mu Tiramisu?"


"Shut Up Mr Edward" umpat Yuna dengan wajah memerah. Aku harus ganti password lagi setelah ini.


Gadis itu kemudian melanjutkan pekerjaannya dan kali ini dia mematikan bluetooth speakernya dan memakai airpodsnya.


Edward hanya memperhatikan punggung Yuna di hadapannya. Gadis itu dengan teliti dan cermat memeriksa satu persatu lukisan yang dipegangnya. Acara mau memeriksa email pun jadi berantakan karena Edward lebih suka melihat Yuna.


Suara notifikasi di ponsel Edward membuat pria itu menoleh ke benda pipih warna hitam itu.


Cek your email, Casanova!


Edward mengerenyitkan dahinya. Ngapain si Mike kirim pesan seperti ini?


Edward membuka emailnya dan tampak sebuah attachment dari email Mike ada di inboxnya. Pria itu lalu mengklik attachment itu.


Betapa terkejutnya ketika melihat ternyata sebuah video dari rekaman CCTV yang memperlihatkan dirinya ditinju Yuna di halaman belakang rumah Stephen.


Enak dibogem? Hahahahaha. Isi pesan Mike.


"Stephen Brengseeeekkkk!" umpat Edward yang membuat Yuna menoleh.


"Ada apa?" tanya Yuna sambil menoleh dan melepaskan airpodsnya. "Kalau anda tidak bisa tenang disini, silahkan anda tunggu di luar."


"Tidak ada apa-apa!" jawab Edward kesal namun Yuna bukan lah tipe perempuan yang menerima jawaban seperti itu.


"Ada apa sebenarnya?" gadis itu lalu berjalan menuju PC nya dan melihat apa yang tadi membuat Edward mengumpat.


"Oh my God!" gelaknya. "This is gonna be good!"


"Adikku memang durjana!"


"Kamera CCTV nya bagus ambil anglenya" komentar Yuna. "Kayaknya di setiap sudut rumah ada ya. Nice!"


"Yunaaaaa" keluh Edward memelas.


"Tunggu sampai mbak Nabila melihat ini!" wajah Yuna berubah jahil lalu dia mengirimkan attachment itu ke akun emailnya dan menyebarkan ke email sepupu perempuannya.


"Astaga Yuna! Kamu serius menyebarkannya ke saudara-saudaramu?" Edward menatap tidak percaya.


Yuna hanya tersenyum jahil. "Let's wait." Seketika suara notifikasi di ponsel Yuna menjadi ramai dan semuanya berasal dari Nabila, Shanum, Alexa dan Vivienne.


Rata-rata mereka malah senang Yuna bisa menghajar pria itu apalagi Vivienne yang semangat 45 dengan pesan provokatif nya.


📩 Vivet : Mbak Yuna butuh bala bantuan nggak? Kalau butuh bantuan menghajar Casanova sok kecakapan gitu, panggil aku dan aku akan segera datang meskipun harus mengurus pintu kemana saja Doraemon!


Yuna tertawa terbahak-bahak membaca pesan para sepupunya yang semakin membuat Edward cemberut.


Setidaknya aku bisa melihatmu tertawa setelah selalu jutek padaku.


***


Edward dan Yuna sekarang berada di sebuah restauran Korea. Setelah Yuna meredam kemarahan Edward yang kesal dengan Stephen, akhirnya keduanya makan siang disini.


Setelah mengambil beberapa piring daging yang hendak di grilled, keduanya duduk saling berhadapan. Yuna membakar daging-daging itu sedangkan Edward hanya memperhatikan.



Edward menatap Yuna. "Menemukan topik buat membuatku kesal, nona Yuna?"


"Lumayan." Yuna kemudian meletakkan daging-daging yang sudah matang ke atas piring. "Ayo dimakan, mumpung masih hangat."


Yuna membungkus daging panggangnya dengan daun perilla setelah diberikan saus dan sepotong bawang putih lalu memakannya.


"Hhhmmm enak!" Yuna mengerling ke arah Edward. "Saya bau bawang putih, jadi drakula bakalan takut padaku."


Edward terbahak. "Aku nggak perduli nona Yuna Pratomo. Meskipun mulutmu bau bawang putih, tetap saja akan aku cium."


Yuna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dasar Casanova penuh modus!


Keduanya menikmati makan siang sembari membahas lukisan dan karya seni lainnya yang rencananya akan digelar usai tahun baru. Edward lebih tahu banyak mengenai pekerjaan Yuna sebagai seorang kurator yang tidak hanya menilai tetapi juga mengurus dan memilih objek museum atau sebuah karya seni yang dipamerkan.


"Apa kamu ada rencana sekolah lagi?" tanya Edward.


"Aku sudah selesai mengambil master di bidang seni di RCA, tapi aku tertarik dengan arkeologi."


"Mempelajari fosil?" tanya Edward.


"Menyenangkan lho" ucap Yuna.


"Apa enaknya. berpanas-panasan, kena debu ..."


"Nona Yuna Pratomo?"


Sebuah suara membuat keduanya menoleh. Tampak seorang pria tampan berdiri di meja Yuna.


"Anda siapa?" Edward yang bertanya bukannya Yuna.


"Saya Krisna Adhitya. Maaf bisakah saya berbicara dengan nona Yuna."


"Kalau saya tidak mengijinkan bagaimana?" tanya Edward yang melirik sekilas wajah Yuna yang kesal.


"Anda siapanya nona Yuna?" tanya Krisna dengan nada mengejek.


"Saya tunangannya. Nama saya Edward Blair. Anda pasti pernah mendengar nama Stephen Blair? Saya kakaknya."


"Tunangan? Bukannya nona Yuna masih sendiri?" Krisna menatap tidak percaya.


Yuna kemudian menoleh ke arah Krisna. "Bukankah saya sudah bilang pada anda, bahwa saya tidak tertarik dengan anda setelah anda bersikap seperti itu pada saya meskipun baru pertama kali bertemu. Jadi saya minta anda pergi karena saya masih ingin menikmati makan siang saya. Ohya, sesuatu pun bisa berubah meskipun dalam waktu sekian detik. Jika sekarang saya memiliki tunangan setelah bertemu dengan anda waktu itu, tandanya bahwa sesuatu berubah tanpa perlu ada alasan kenapa."


Krisna tertegun.


"Soal permintaan maaf, sudah saya maafkan sejak saya pergi dari hadapan anda. Karena sebagai seorang muslim, wajib hukumnya untuk menerima maaf dan memberi maaf tapi sebagai manusia, kasarannya you're forgiven but not forgotten. Semoga anda mendapatkan pasangan yang bisa menerima anda."


Krisna menatap Yuna yang kembali menikmati makan siangnya. Gadis ini semakin jauh dijangkau.


"Baik kalau begitu. Permisi." Pria itu pergi meninggalkan Edward dan Yuna.


"Apakah pria itu yang menghina profesimu?"


"Mungkin menghina pekerjaan saya masih bisa ditolerir karena tidak semua orang memahami pekerjaanku tapi menanyakan kenapa saya tidak mengambil perusahaan papa, menunjukkan bahwa dia tidak mau memiliki pasangan yang tidak punya value of money mengingat keluarga kami siapa. Padahal dia tidak tahu apapun tentang saya dan tabungan saya."


Edward hanya menatap Yuna dalam.


"Aku tidak pernah menghina pekerjaanmu."


"Saya tahu."


"Jadi kita resmi tunangan?" goda Edward.


"Astaga!"


Sial aku lupa tadi mr Edward ngadi-ngadi demi mengusir orang itu!


***


Yuhuuu Up siang yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️