Love In Bet

Love In Bet
Calon Cucu Menantu Yang Batal



Nyonya Tiar Adhitya mendengar bahwa cucunya tetap tidak ada akses untuk bertemu dengan Yuna bahkan gadis itu sudah memiliki tunangan, tentu saja merasa gusar karena Aryanto dan Rani Pratomo tidak ada berita apapun.


Siang ini dia menelpon Rani Pratomo untuk meminta bertemu di kantor PRC group bersama dengan Aryanto Pratomo. Tentu saja mama Rani menyanggupi karena dia sendiri juga baru saja sampai disana setelah memeriksa beberapa yayasan yang diasuhnya di bawah bendera PRC group.


Dibanding dengan para ipar perempuannya, Rani paling senang mengurus yayasan amal keluarga jadi semua iparnya pun menyerahkan semuanya kepada Rani. Ibu dua anak itu memang dikenal di kalangan para sosialita sebagai wanita dengan jiwa sosial tinggi.


Kini pasangan suami istri itu berada di ruangan Aryanto Pratomo yang didominasi warna coklat dan putih.



"Maaf pak Aryanto, Bu Rani, Nyonya Tiar sudah datang" ucap Karen asistennya setelah mengetuk pintu ruangan papa Aryanto.


"Persilakan Bu Tiar masuk, Karen."


"Baik pak."


Tak berapa lama, Nyonya Tiar datang bersama dengan asistennya.


"Selamat siang Bu Tiar" sapa mama Rani ramah sembari cipika cipiki.


"Siang jeng Rani" balas nyonya Tiar. "Pak Aryanto."


Papa Aryanto pun mengulurkan tangannya kepada nyonya Tiar dan keduanya berjabat tangan.


"Monggo pinarak ( silahkan duduk )" mama Rani mempersilahkan nyonya Tiar duduk di sofa.


Nyonya Tiar pun duduk bersebelahan dengan mama Rani sedangkan papa Aryanto tetap duduk di kursi kebesarannya sembari menyelesaikan pekerjaannya.


"Jeng Rani, saya mau tanya. To the point saja ya. Apa benar nak Yuna sudah punya tunangan?"


Mama Rani dan Papa Aryanto terkejut dan saling memandang satu sama lain.


"Bu Tiar tahu dari siapa?" tanya mama Rani hati-hati.


"Tadi Krisna bertemu dengan nak Yuna di sebuah restoran Korea bersama dengan bule yang ketemu di acara lelang waktu itu. Saya lupa namanya pokoknya adiknya di Jakarta."


"Edward Blair?" tanya mama Rani.


"Iya, tadi Edward bilang dia tunangannya nak Yuna. Apakah benar?"


Mama Rani menghela nafas panjang sebentar lalu menatap ke nyonya Tiar.


"Maafkan sikap putri saya dan Edward ya Bu Tiar. Yuna memang dekat dengan Edward tapi keduanya belum bercerita bagaimana hubungan mereka sekarang" jawab mama Rani.


"Krisna tadi ingin berbaikan dengan nak Yuna tapi ternyata sudah tertutup ya aksesnya" keluh nyonya Tiar sedih.


Mama Rani menyentuh tangan nyonya Tiar lembut. "Maafkan Yuna sekali lagi Bu. Putri saya memang keras wataknya. Masalah dengan Krisna memang itu hanya antara Yuna dan Krisna. Tapi saya yakin Yuna bisa memilah kok bagaimana dia bersikap dengan Bu Tiar."


"Jujur jeng, saya yang jatuh cinta duluan dengan putri anda dan ingin menjadikannya cucu menantu tapi Krisna mengacaukan semuanya."


"Itu namanya bukan jodohnya, Bu" sahut papa Aryanto. "Mau dipaksakan seperti apa, jika bukan jodoh tetap saja akan berpisah. Terkadang apa yang kita inginkan, tidak harus kita dapatkan."


"Jangan khawatir bu, Yuna pasti senang bertemu dengan Bu Tiar lagi" hibur mama Rani.


Nyonya Tiar hanya bisa mengangguk sedih namun setidaknya Yuna hanya menolak Krisna tapi tidak dengannya.


***


Yuna berjalan di depan Edward dengan wajah kesal. Sepanjang perjalanan pulang dari restoran, tak henti-hentinya Edward menggodanya dengan hendak membeli cincin pertunangan dulu lah, mempersiapkan lamaran lah, semua topik yang membuat gadis itu jengkel.


"Yuna, kenapa berjalan cepat sekali?" teriak Edward di lobby kantor. Yuna tetap menulikan telinganya lalu main masuk ke dalam lift khusus dan segera menutupnya sehingga Edward tidak bisa menyusul.


Di dalam lift, papanya memintanya ke ruangannya jika sudah pulang makan siang melalui pesan di ponselnya.


Gadis itu pun menuju ruangan papanya. Setelah mengetuk dan membuka pintunya, betapa terkejutnya ada nyonya Tiar disana.


Pasti cucunya sudah mengadu sama Omanya.


"Assalamualaikum papa, mama, aunty Tiar" sapa Yuna ramah sembari mencium punggung tangan papa, mama dan nyonya Tiar.


"Makan siang dimana kamu, sayang?" tanya mama Rani setelah putrinya duduk di sofa berseberangan dengan kedua wanita paruh baya itu.


"Tadi di restoran Korea dekat kantor kok ma."


"Sama siapa?" tanya papa Aryanto sekalian menguji kebenaran cerita nyonya Tiar.


"Apa kalian tidak sempat mengobrol berdua?" tanya mama Rani.


"Sama siapa ma?"


"Sama nak Krisna, sayang" kekeh mama Rani yang suka gemas dengan kecuekan putrinya.


"Oh. Ngobrol kok sebentar. Krisna meminta maaf soal kejadian kemarin dan saya sudah memaafkan."


"Apa benar nak Yuna datang bersama dengan tunangannya?" selidik nyonya Tiar yang masih belum terima gadis di hadapannya ini harus terlepas dari daftar cucu menantu.


"Oh. Mr Edward itu..."


Suara ketukan di pintu membuat Yuna menghentikan bicaranya lalu pintu ruangan itu pun terbuka dan tampaklah Edward dengan percaya dirinya masuk ke dalam.


"Maaf Oom mengganggu."


"Oh masuklah nak Edward." Papa Aryanto meminta Edward masuk karena ingin melihat drama lanjutan dari putrinya yang judes.


"Tante" sapa Edward ramah. "Eh maaf anda kalau tidak salah nyonya yang bertemu di acara lelang kemarin ya?"


"Wah nak Edward masih ingat saja" senyum nyonya Tiar.


Edward pun duduk di sebelah Yuna yang mendelik kepada pria bule songong itu.


"Kamu tuh! Main kabur saja, sampai bingung aku cariin tahu nggak?" bisik Edward.


"Aku kan dipanggil papa!" desis Yuna.


"Ehem!" suara mama Rani membuat keduanya terdiam.


"Edward, Tante mau tanya. Apa benar yang diucapkan Bu Tiar bahwa kamu bilang sama cucunya kalau kamu tunangan Yuna?"


Sekali lagi kecemplung lagi deh aku.


"Benar Tante. Kan saya dengan Yuna memang ada hubungan" jawab Edward kalem.


"Mr Edward! Jangan ngadi-ngadi deh!" desis Yuna.


"Saya serius kok! Saya suka Yuna, sayang Yuna apa adanya meskipun dia hanya seorang kurator" sindir Edward yang membuat nyonya Tiar tersenyum kikuk.


Rasanya Yuna pengen membanting pria satu ini di lantai namun keinginan itu terpaksa ditahannya.


Papa Aryanto hanya tersenyum melihat drama di siang menjelang sore hari ini. Sudah lama dia tidak mendapatkan mood booster seperti ini.


"Maaf semuanya, ada yang harus saya bicarakan dengan Mr Edward berdua. Permisi." Yuna pun menarik tangan Edward meninggalkan ruangan papanya. Edward hanya menganggukkan kepalanya dengan hormat kepada para orang tua disana.


"Permisi semuanya."


Papa Aryanto dan mama Rani hanya bisa tersenyum sedangkan nyonya Tiar merasa sedih benar-benar kehilangan calon cucu menantu yang diidamkan.


***


Edward dan Yuna sekarang berada di lift menuju ruangan gadis itu yang berada di bawah ruangan papanya. Sesampainya disana, Yuna mulai membereskan semua pekerjaannya, menyingkirkan semua barang-barang yang akan dilelang ke sebuah sudut ruangan. Jadi tinggalah sebuah ruangan luas dengan karpet berbulu tebal.


"Yuna? Kenapa dibereskan?" tanya Edward dari belakang gadis yang sedang berkacak pinggang.


"Karena aku sedari tadi ingin melakukan ini!"


Yuna berbalik dan segera melakukan teknik membanting judonya. Sekali lagi, Edward pun tebanting oleh Yuna tapi kali ini dia berhasil menarik Yuna sehingga keduanya jatuh bersama dengan posisi gadis itu berada diatasnya.


"Darling, kalau kamu mau posisi woman on top, bilang saja. Aku akan senang hati melakukannya" cengir Edward jahil.


Sebuah pukulan mendarat di wajah Edward untuk kesekian kalinya.


***


Yuhuuu Up sore Yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️