Love In Bet

Love In Bet
Berapa Bahasa Kamu Bisa?



Edward masih dalam posisi berdiri terpaku melihat Yuna masih mengenakan rukuh. Buru-buru Yuna membuka rukuhnya dan melipat beserta sajadah nya. Al Qur'an yang sedang dibacanya tadi juga diletakkan diatas meja.


"Mr Edward?" panggil Yuna. "Are you okay?"


Edward tergagap lalu "I'm fine."


"Kok bisa ke rumah saya?" tanya Yuna santai.


Edward menetralisir jantungnya yang masih berdebar tidak karuan.


"Kenapa kamu pulang ke Jakarta tanpa memberitahu aku?" tanya Edward sembari duduk di sebelah Yuna.


"Haruskah?" tanya Yuna balik.


Damn it! Dia masih cuek seperti biasanya.


"Kan aku berjanji akan menemanimu. Pula kalian bisa pulang dengan pesawat pribadiku, tidak perlu membeli tiket."



Yuna terbahak mendengar alasan receh Edward.


"Oh come on Mr. Edward. Bukan hanya anda saja yang punya jet pribadi. Vivienne eh salah, Oom Alex pun punya tapi kami lebih menikmati pulang ke Jakarta dengan pesawat komersil" kekeh Yuna. "Jadi alasan anda buat saya itu nggak masuk akal. Kalau kami mau, bisa saja kami meminjam pesawat PRC group yang berada di bandara Manchester."


Edward hanya terdiam Lupa kalau gadis di depannya ini punya kekayaan yang tidak main-main.


"Tapi kan lebih enak..."


"Sudahlah Mr Edward, yang penting anda datang kesini ada keperluan apa?" tanya Yuna.


"Daftarkan namaku ke acara lelang yang diadakan oleh tuan Aryanto Pratomo."


Yuna melirik ke arah Edward. "Anda kan bisa melalui email meminta saya mendaftarkan anda?"


"Aku lebih suka bila mengatakannya langsung."


Yuna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mari masuk, saya daftarkan anda." Yuna berjalan mendahului Edward sembari membawa peralatan sholatnya. Hari ini gadis itu mengenakan dress panjang hingga betis.


Edward yang berjalan di belakangnya hanya bisa melihat tubuh Yuna dari belakang yang meskipun termasuk kurus, tapi pan**tatnya bulat penuh.


"Stop melihat pant**at saya Mr Edward!" ucap Yuna kalem.


Edward hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan wajahnya memerah seperti terpergok melakukan hal yang tidak Seno*noh.


Bagaimana dia bisa tahu?


***


Sesampainya di dalam rumah, tampak John, Vivienne dan Brandon sedang asyik berdebat tidak jelas lagi seperti biasanya.


"Kalian ribut apalagi?" tanya Yuna jengah.


"Ini lho mbak, John bilang kalau lukisan yang ini gadha jiwa seninya. Padahal menurut ku ini cantik banget!" adu Vivienne.


"Asal kalian tahu, yang melukis ini adalah seorang anak berumur sepuluh tahun yang menderita cerebral parsley dan menurutku dia memiliki selera seni yang antik dan berbeda. Bagaimana kalian melihatnya itu tergantung persepsi masing-masing karena tidak setiap orang memiliki selera yang sama. Seperti kalau aku bilang Van Gogh punya jiwa seni yang tinggi, kalian bisa saja bilang gambar nggak jelas hanya menang di warna."


Edward mendengarkan semua penjelasan Yuna dengan penuh minat.


"Aku sudah bilang ini semua yang melukis adalah para kaum difabel jadi bagaimana mereka mengekspresikan jiwa seni miliknya, ya inilah mereka. Harus diapresiasi, karena kita yang sempurna pun belum tentu bisa memiliki ide atau kemampuan melukis seperti ini. Tidak juga aku meskipun aku lulusan sekolah seni terkemuka. Karena yang namanya ide, jiwa seni atau kemampuan seseorang berbeda dengan yang lain."


"Kenapa papa dan mama semangat membuat acara lelang lukisan mereka, untuk menghargai karya mereka. Meskipun mereka terbatas, tapi mereka bisa berkarya."


Keempat orang disana hanya terdiam mendengar penjelasan Yuna.


"Wow Na, kamu ternyata dewasa sekali pola pikirnya. Nggak kayak yang cerewet di sebelahku" ucap Brandon random.


"Sorry, aku hanya ingin kalian menghargai apapun itu, meskipun ucapan terimakasih hal yang sepele" senyum Yuna.


"Is Boss eagrán teoranta an cailín sin ( gadis itu limited edition boss )" ucap John kepada Edward dengan bahasa Irish.


"Tá a fhios agam. Ach nílim réidh fós chun mo Porsche a chailleadh ( aku tahu. Tapi aku masih belum rela kehilangan Porsche ku )" jawab Edward.


"Kalian bicara pakai bahasa apa?" tanya Brandon.


"Bahasa Irish atau Celtic" jawab Yuna tenang.


John dan Edward melongo.


***


"Bagaimana kamu bisa tahu bahasa Iris?" tanya Edward yang duduk di seberang meja kerja.


Yuna hanya tersenyum tanpa mengindahkan pandangnya dari layar monitor. Dia sedang memasukkan nama Edward ke dalam peserta lelang.


"Salah satu dosenku adalah orang Irlandia dan dia bersama istrinya selalu berbicara dengan bahasa ibu mereka. Meskipun aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan, tapi aku bisa paham bahasa apa yang kalian pakai."


"Berapa bahasa yang kamu kuasai?"


Yuna berpikir sejenak. "Selain bahasa Inggris dan Indonesia? Aku fasih bahasa Jepang, Korea, Perancis, Jerman, sedikit Italia dan Spanyol serta sedikit paham Mandarin, Irish Celtic dan Welsh."


"Hebat!"


Yuna tersenyum tipis. "Pekerjaan ku bertemu dengan banyak klien seluruh dunia yang merupakan pecinta barang seni jadi aku pun harus mampu memahami bahasa mereka."


Edward menatap Yuna, gadis yang dingin di hadapannya tapi hangat jika bersama keluarganya. Entah kenapa, meskipun baru beberapa hari bersama Yuna, Edward tidak tertarik melihat wanita lain.


"Baik Mr Edward, nama anda sudah syaa masukkan ke dalam daftar tamu yang akan mengikuti lelang pada hari Sabtu besok."


"Terimakasih."


"Anda menginap dimana Mr Edward?"


"Raffles."


Yuna mengangguk. "Hotel yang bagus."


Suara ketukan membuat keduanya menoleh ke arah pintu.


"Mbak, maem yuk! Aku lapar!" rengek Vivienne. "Oh mbak Nabila disini lho." Gadis bule itu lalu pergi meninggalkan Yuna dan Edward.


Yuna menatap Edward. "Mari kita makan siang dulu, Mr Edward."


Edward menatap balik gadis itu. "Bisakah kamu tidak memanggil saya dengan panggilan Mr Edward?"


Yuna tersenyum. "Maaf, sudah terbiasa. Kecuali kalau anda tidak keberatan saya panggil Chris Pine."


Edward menghembuskan nafas panjang dengan kesal. "I'm not Chris Pine!" umpatnya.


Yuna tertawa. "Mari kita makan, saya juga sudah lapar." Gadis itu berdiri dan berjalan keluar.


***


"Hah? Kok bisa ada Edward disini?" protes Nabila. "Aku lihat John saja sudah takjub, eh ditambah Edward Blair pula!"


"Mbak Nab, please, cukup aku saja yang cerewet. Jangan ikutan bersaing dong!" protes Vivienne.


"Nona Nabila aslinya memang cerewet kok, nona Vivi" bisik John ke Vivienne.


"Ngapain kamu Ed? Mau mendekati Yuna? Nggak bakalan bisa! Dia sudah tahu kamu Casanova" ucap Nabila sarkasme..


"Aku mau ikut acara lelang besok Sabtu disini, di Jakarta." Edward menatap tajam ke Nabila.


"Oh kalau soal itu, aku sih nggak papa asal Yuna bisa merampok dirimu dari lelang itu" kekeh Nabila.


"Sekarang aku tahu darimana kamu belajar morotin kita-kita, Vivet. Ternyata dari kakakmu itu!" kekeh Brandon.


"Biarpun aku tidak ada darah Pratomo, tapi kalau soal sifat, aku melebihi para wanita Pratomo!" jawab Vivienne bangga.


"Termasuk bar-barnya" bisik Yuna yang masih bisa di dengar oleh Edward yang duduk di sebelahnya.


Kamu itu juga bar-bar lho Yuna.


***


Yuhuuu Up siang yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️