
Kemarin adalah ulang tahun sang mama dan Yuna memberikan kado lukisan mereka berempat, papa Aryanto, mama Rani, Akira dan Yuna. Sang mama sangat bahagia diberikan lukisan yang menunjukkan perasaan putrinya. Akira sang kakak, membelikan gelang Bvlgari
Usai acara makan malam bersama, keempatnya bercengkrama di mansion Aryanto. Yuna sengaja pulang ke Jakarta usai mengurus lukisannya di RCA. Setelah acara keluarga, Yuna belum ada tawaran lagi untuk mengkurator jadi dia memutuskan tinggal di Jakarta dulu sekalian membantu sang papa.
"Jadi kamu mau di Jakarta dulu Na?" tanya papa Aryanto.
"Iya pa, aku di Jakarta dulu."
"Mama senang kamu disini jadi mama ada temannya" ucap mama Rani.
"Mas Akira kembali ke Singapore kapan?" tanya Yuna.
"Besok aku dah pulang dik. Kan kerjaanku nggak bisa ditinggal lama-lama" ucap Akira yang berkarier sebagai manager sebuah bank asing.
"Kamu nggak berkeliling dunia lagi dari satu museum ke museum yang lain?" goda papanya.
"Bentar ah, Yuna mau sama papa dan mama dulu."
"Beeeuuu keluar deh manjanya" ledek Akira.
"Biarin! Wek!" balas Yuna sembari menjulurkan lidahnya.
"Ohya Na, kata Bu Tiar, kamu dikenalkan sama cucunya ya?" tanya mama Rani.
"Iya."
"Terus?"
"Nggak belok" jawab Yuna asal.
"Jangan-jangan kamu ngomong pedes lagi dik" kekeh Akira.
"Memang!"
"Astaga anak mama. Mbok jangan judes-judes tho sayang. Dari semua cucu perempuan almarhum eyang Pratomo, kamu tuh paling judes lho."
"Yuna judes kalau memang orang itu pantas dijudesin. Kemarin waktu acara lelang, aku nggak judes kok" sahut Yuna.
"Kamu pintar kok menjadi tuan rumah. Besok kalau papa nggak bisa, kamu yang handel ya" ucap papa Aryanto.
"Semoga jadwalnya pas ya pa."
"Eh kamu udah punya pacar belum sayang?" tanya sang mama.
Wajah Yuna memerah. Akira yang melihatnya tertawa geli.
"Hhhmmm nggak punya" jawab Yuna.
"Ma, Yuna masih ingin bebas, janganlah kamu desak terus" ucap papa Aryanto.
"Thanks pa. Papa paling paham maunya Yuna."
***
Pagi ini usai sarapan, mama Rani mengajak Yuna ke yayasannya dan setelahnya Yuna meninggalkan mamanya di kantor PRC group.
Mobil mini Cooper merah itu kemudian melaju menuju Museum Seni Rupa Jakarta. Sudah beberapa hari ini hari Yuna galau mengingat terakhir pertemuannya dengan Edward.
Mungkin aku terlalu keras tapi aku tidak mau jadi korban Casanova juga. Dia juga tidak menolak dicium wanita itu berarti sama saja jika bertemu mantannya.
Sejak pertemuan terakhir di Stein's Berlin, Yuna dan Edward tidak pernah bertemu lagi, bahkan Edward tidak pernah menelponnya.
Yuna memarkirkan mobilnya di tempat parkir museum. Entah kenapa kalau dirinya sedang tidak enak hati, berjalan-jalan di museum melihat hasil karya seni, membuatnya tenang.
Melihat banyaknya lukisan disana, hati Yuna berdesir melihatnya. Masing-masing artis punya ciri khas tersendiri, garis yang ditarik tersendiri, jiwa seni tersendiri. Sebagai seorang seniman, Yuna pun punya gaya dan ciri khas sendiri.
Ketika sedang asyik melihat sebuah lukisan tentang nelayan, Yuna merasakan ada seseorang di belakangnya.
"Sudah kuduga kamu akan kemari."
Yuna berbalik.
"Diana?"
***
Yuna dan Diana kini berada di Café Batavia menikmati makan siang disana.
"Kangen aja menikmati suasana tenang di museum sembari menikmati karya seni. Sekarang aku tahu kenapa kamu menjadi kurator" kekeh Diana.
"Tapi ada orang yang menganggap pekerjaanku tidak menghasilkan dibanding dengan kekayaan keluargaku."
"Nonsense! Berarti orang itu picik sekali pola pikirnya!" omel Diana kesal.
"Itulah! Aku langsung mencoret namanya meskipun Omanya orang baik tapi yang aku lihat adalah personalitinya. Orang yang langsung menjudge dirimu padahal tidak tahu sama sekali siapa dirimu, benar-benar menyebalkan" kekeh Yuna..
"Jadi, kau sekarang di Jakarta Na?"
"Sementara. Aku pulang kemari karena mamaku ulang tahun kemarin dan aku harus memberikan kadoku untuk mama."
"Kau memberikan mama apa Na?"
"Lukisan kami berempat, aku, mas Akira, papa dan mama." Yuna memperlihatkan hasil lukisannya.
"Wow! Bagus sekali" puji Diana. "Ohya Na, kapan-kapan kamu datang ke rumah kami ya. Kita makan malam bersama denganku dan Stephen."
Yuna mengangguk. "Boleh. Kabari saja kapan, aku akan datang."
***
Edward memutuskan untuk berlibur dari hiruk-pikuk pekerjaannya yang dia serahkan kepada para tangan kanannya termasuk Tristan, John dan Bram.
Semenjak percakapan terkahir nya dengan Yuna, itulah terakhir kalinya Edward melihat gadis itu. Ketika seminggu setelah peristiwa di Stein's Berlin ia memberanikan diri datang ke apartemennya, penjaga disana mengatakan bahwa Yuna pergi membawa koper besar. Penjaga disana pun tidak tahu kemana perginya Yuna.
Disini Edward memutuskan berlibur ke Swiss, menikmati suasana alam yang segar dan jauh dari keramaian seperti halnya di London.
Edward merasa menyesal tidak bisa bereaksi mendorong Michelle karena dia sendiri terkejut dengan aksi mantannya. Edward lupa jika Yuna adalah seorang gadis yang keras dan punya prinsip sendiri.
Disaat Edward merasa bisa meraih hati Yuna karena berhasil mencium gadis itu dua kali, ternyata gadis itu menganggap suatu kesalahan berhubungan dan berciuman dengannya.
Edward belum pernah merasakan perasaan seperti ini, rasa kehilangan, rasa ditinggalkan karena biasanya dia yang meninggalkan.
Laporan anak buahnya yang disebar mengabarkan bahwa Yuna berada di Jakarta karena merayakan ulang tahun ibunya.
Edward melihat foto-foto Yuna bersama keluarganya tampak bahagia, tidak ada raut kesedihan disana.
Berarti hubungan kami memang kesalahan. Tapi menurutku ini bukan kesalahan, aku benar-benar tertarik dengan Yuna, aku rindu rasa bibirnya.
Edward mengacak-acak rambutnya kasar. Dia sangat bingung bagaimana bisa membuat Yuna percaya lagi padanya. Jiwa Casanova nya seperti hilang jika berhubungan dengan Yuna. Gadis itu sangat berbeda, dingin dan bisa memutar balikkan perasaannya.
Suara ponselnya membuat Edward mengambilnya dengan malas. Tampak nama Stephen di layar.
"Hai bro" sapa Stephen.
"Apa Steve?"
"Kamu ada acara ke Jakarta tidak dalam waktu dekat ini?"
"Memangnya ada apa?"
"Diana mengundang Yuna untuk makan malam bersama kita sekitar Sabtu depan. Bisakah kamu kemari big bro?"
"Aku tidak bisa berjanji, Steve."
"Kau harus datang! Kalau tidak, kau akan kehilangannya."
Edward terdiam.
Aku sudah kehilangannya, little brother akibat kebodohanku.
***
Yuhuuu Up di jam Kunti ah sekali-kali.
Gegara ide masih berkobar-kobar jadi harus disalurkan agar bisa Boboks.
Eniwaiii, novel Menikahi Suami Sahabatku sudah end, tamat, fin, kkeut, ketsumasu.
Insyaallah sehabis natal, tgl 26 Desember lanjut ke novelnya Duncan - Rhea ( My Rey ) sama Ghani - Alexandra ( The Detective and the Doctor ).
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️