
Vivienne dan Brandon benar-benar menikmati liburannya di Jakarta bahkan dua orang yang jarang akur pun bisa melakukan gencatan senjata kalau berhubungan dengan wisata kuliner. Tadi mereka berdua mengajak Yuna untuk jalan-jalan namun gadis itu sudah ada janji terlebih dahulu.
Kedua bule Gesrek itu malah asyik makan di warung rujak cingur gara-gara kena kompor dari Reza, kakak sepupu Vivienne yang merupakan adik Nabila.
Brandon yang baru tahu arti cingur itu apa, hanya bisa melongo padahal dia sudah habis memakannya.
"Sengaja aku nggak bilang arti cingur apa sebelum Abang habis makannya" gelak Vivienne bahagia bisa membuat Brandon kesal. "Jangan muntah! Mubazir! Tapi emang enak kan?"
"Sialan kau Viv!"
Vivienne tertawa terbahak-bahak.
"Maaf, non. Nona kan bule, kok fasih bahasa Indonesia?" tanya ibu penjual cingur.
"Mama saya orang Indonesia, papa saya orang Inggris. Jadi kalau fasih bahasa Indonesia, wajar saja sih, kan bahasa mama saya" jawab Vivienne manis.
"Oh pantes jadinya cantik begini, lha wong campuran" kekeh ibu itu.
"Saya memang cantik paripurna tidak sombong tapi nggak rajin menabung" sahut Vivienne asal yang membuat si ibu dan pegawainya tertawa.
"Mbaknya lucu" komentar salah seorang pegawai si ibu.
"Mas nya nggak usah dengerin omongan adik saya yang narsisnya nggak ketulungan ini" komentar Brandon jengah.
"Tapi mbaknya memang cantik."
Usai membayar rujak cingurnya, kedua bule itu pun meminta sopir Oom Aryanto untuk mengantarkan mereka pulang ke mansion karena Nabila sedang berada di Surabaya jadi tidak bisa ditemui.
"Kita pulang kapan nih bang?"
"Tanya Yuna saja, maunya kapan."
"Okelah, nanti kalau Mbak Yuna sudah di rumah, kita bicarakan."
***
Yuna sedang duduk manis di ruangan miliknya yang memang dibuat oleh papanya. Semua interior dan dekorasi adalah seleranya dan papanya tidak pernah meributkan yang penting putrinya nyaman bekerja.
Hati Yuna masih dongkol akibat wajah Krisna yang kesannya melecehkan profesi sebagai kurator. Apa salah kalau dia belum berminat mengambil alih perusahaan papanya Dia sangat menikmati pekerjaannya, dia menikmati bisa melihat banyak karya seni di seluruh dunia.
Suara ponsel membuat Yuna mengambil benda pipih bewarna rose gold itu.
Edward? - batinnya ketika melihat siapa yang menelepon. Jakarta jam 2 siang berarti London jam 7 pagi. Yuna menggeser tombol hijau.
"Halo Mr Edward" sapa Yuna berusaha setenang mungkin tapi tetap saja ada getaran yang lolos dari nadanya.
"Yuna."
"Ada keperluan apa Sir?"
Terdengar suara Des*ahan kasar disana.
"Bisakah kau tidak formal memanggilku?" tanya Edward.
"Maaf, tidak bisa." Yuna menggigit bibir bawahnya. Dirinya terlalu gugup untuk bisa memanggil Edward dengan nama saja.
"Dammit Yuna! Kamu membuatku kacau!" umpat Edward.
Kamu juga membuat ku bingung.
"Kenapa saya membuat anda kacau?" pertanyaan bodoh Yuna!
"Apa kamu tidak merasakan sesuatu kemarin? Pada saat kita berciu..."
"Stop it Mr Edward! Itu cuma kesalahan!" potong Yuna dengan wajah memerah.
"Hah? Kesalahan? Kesalahan? Itu bukan kesalahan Yuna!" hardik Edward.
"Lalu apa?"
"Itu sesuatu yang indah!" ucap Edward gamblang. "Aku kan yang mencuri ciuman pertamamu?"
"Apa kekasihmu tidak pernah menciummu?" tanya Edward absurd.
"Kekasih? Kekasih yang mana?" tanya Yuna bingung.
"Yang ada di dompet kamu?"
Yuna terbahak. "Astaga Mr Edward. Itu kakak lelaki saya."
"Apa?"
"Itu kakak saya, mas Akira. Sengaja saya memasang foto kami berdua agar saya dianggap sudah punya pasangan."
Edward menghembuskan nafas lega. Tidak perlu menjadi pekesor, perebut kekasih orang.
"Yuna, kapan kembali ke Inggris?"
"Saya belum tahu."
"Vivienne dan Brandon masih di Jakarta?"
"Masih. Mereka sedang jalan-jalan."
"Apakah kau jadi bertemu dengan nyonya yang kemarin?"
What the...? Dia masih mengingatnya?
"Jadi."
"Menyenangkan?" tanya Edward.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Saya tidak mau menjawabnya" ucap Yuna dingin.
"Apakah dia menyinggung mu?"
"Saya hanya tidak mau menceritakan saja" jawab Yuna lagi.
Edward terdiam.
"Yuna."
"Ya Mr Edward?"
"Bagaimana kalau kita memulai hubungan... Eh tidak jadi. Hal seperti ini lebih baik diucapkan langsung. Jadi kapan kalian pulang ke Inggris?"
"Hah?" wajah Yuna yang sudah normal memerah lagi mendengar kata hubungan.
"Kabari kalau kamu pulang ke Inggris."
"Insyaallah."
Edward terdiam. Apa itu artinya? Aku harus belajar Islam agar gadis ini tahu bahwa aku serius dengannya.
"Apa ada lagi yang mau dibicarakan Mr Edward?" suara Yuna membuyarkan lamunan Edward.
"Tidak, tidak ada. Selamat siang Yuna."
"Selamat siang." Yuna mematikan ponselnya.
Sialan Casanova satu itu! Bisa-bisanya membuatku bergetar. Jangan tertarik padanya Na, kalau kamu nggak mau terluka.
***
Yuhuuu Up siang Yaaaa
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️