
Edward tiba di Jakarta dan langsung menuju hotel Mulia tempat lelang itu diadakan lagi. Kali ini Edward datang sendiri tanpa ada pengawal karena dia ingin menyelesaikan permasalahannya dengan Yuna.
Sesampainya di kamar hotelnya, Edward langsung menelpon Aryanto Pratomo untuk bertemu dan berbicara empat mata. Surprisingly, papa Aryanto bersedia bertemu dengan Edward di sebuah restauran dekat Hotel Mulia.
Dan kini, kedua pria itu saling berhadapan di meja makan di ruang VVIP yang memang sengaja dipesan Edward agar ia bisa bebas berbicara dengan calon mertuanya.
"Sekarang, jelaskan sama Oom kenapa sampai Yuna jadi taruhan kamu dan Mike?" tanya Papa Aryanto tanpa basa basi setelah keduanya duduk dan memesan makanan.
"Ini semua kesalahan saya Oom, saya yang terlalu sombong dan akhirnya semua menjadi bumerang buat saya."
Edward kemudian menceritakan tentang taruhan dengan Mike tanpa ada yang ditutup-tutupi sampai dia benar-benar tertarik dengan Yuna hingga dia berhasil mencium gadis itu pertama kali serta bagaimana Yuna menghajarnya berkali-kali.
"Dan yang terakhir bukan hanya fisik yang sakit Oom, hati saya yang paling sakit. Saya sudah melukai hati Yuna paling dalam."
Papa Aryanto memandang Edward dengan tajam.
"Nak Edward, dengarkan Oom. Yuna itu bukan perempuan romantis tapi jika dia tidak menolak dicium olehmu meskipun endingnya kamu dihajar juga olehnya, berarti dia memiliki perasaan yang sama denganmu hanya dia tidak mampu mengekspresikan. Dibanding sepupunya yang ekstrovert, Yuna adalah si introvert di keluarga kami."
Edward diam saja mendengarkan ucapan papa Aryanto.
"Tidak mudah untuk menghadapi Yuna, karena jika dia sudah dilukai begitu dalam, untuk mempercayai orang itu kembali akan sulit luar biasa. Kamu sudah lihat kan bagaimana dia menolak sama sekali dengan Krisna? Itu baru satu contoh. Waktu dia sekolah pun sama, sampai dia dibilang sombong tapi hanya karena dia tidak mudah berhubungan dengan orang baru. Dia bisa menghandle rasa introvert nya jika dia berada di lingkungan yang nyaman baginya, seperti museum.".
"Di usia ke 13 tahun, Yuna diam-diam mendaftar menjadi guide tour museum Jakarta untuk anak-anak. Tentu saja kepala museum menelpon Oom untuk memastikan apakah ini benar anak Oom dan Oom mengijinkan Yuna bekerja disana selama liburan sekolah. Kami keluarga besar sangat mendukung apa yang dilakukan anak-anak kami selama hal itu positif."
"Itulah mengapa ketika Yuna datang bersamamu meskipun dengan wajah jutek, tidak ada penolakan dalam sikapnya, menandakan dia mulai nyaman denganmu. Oom hanya berharap kamu bisa menunjukkan kesungguhan mu untuk meminta maaf kepada Yuna meskipun berat perjuangannya."
"Oom tidak menghajar saya karena saya sudah membuat anak Oom terluka?" Edward sendiri sudah siap andaikan papa Aryanto menghajarnya habis-habisan.
"Tanpa Oom hajar, kamu sudah remuk duluan nak Edward" kekeh papa Aryanto. "Tidakkah kamu lihat dirimu betapa berantakannya dirimu? Oom hanya bisa bilang, selamat berjuang."
"Oom mendukung saya?" tanya Edward tidak percaya.
"Karena kamu satu-satunya yang bisa membuat Yuna menangis berarti kamu satu-satunya yang bisa membuat dia tertawa."
***
Yuna dan Karen seperti biasa mengecek ulang semua persiapan acara lelang besok siang. PRC group memang tidak mengadakan acara lelang pada malam hari karena waktunya bisa lebih panjang untuk para kolega bisa saling berbincang soal bisnis.
"Bu Yuna, tumben kali ini pak Aryanto memanggil band buat menghibur para tamu undangan."
Yuna mendongakkan kepalanya dari iPad nya yang di meja. Posisi kali ini memang Yuna sedang duduk di meja panitia sedangkan Karen berdiri di depannya setelah dia mengecek tempat untuk katering.
"Band? Papa? Kok tumben? Bukannya biasanya memanggil pianis untuk memainkan piano ya?" Yuna mengerutkan dahinya.
"Ini saya baru dapat memonya" Karen menunjukkan adanya band yang ditunjuk PRC group untuk menghibur tamu.
"Ini aku nggak tahu band apa lho Karen."
"Saya juga tidak tahu bu."
"Ya sudah, saya telpon papa saja."
Yuna pun menelpon papa Aryanto dan menanyakan tentang perubahan rencana dan papa Aryanto membenarkan.
"Sekali-sekali ada sesuatu yang beda sayang" ucap papa Aryanto.
"Terserah papa saja deh yang penting makin meriah acaranya" kata Yuna.
***
Acara lelang hari ini sangat memuaskan Yuna dan papa Aryanto dan mama Rani. Bukan saja karya seni yang ditampilkan semakin bernilai tapi juga para tamu undangan pun tetap memberikan harga yang lebih tinggi dari harga yang dibuka.
Kehadiran ketiga keluarga Pratomo juga membuat para tamu undangan semangat karena kehadiran tuan rumah yang lengkap karena jarang sekali mereka tampil bersama.
Hari ini Yuna tampil dengan gaun bewarna peach, rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan indahnya yang tentu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi para kolega papanya.
Yuna seperti biasa tampil sederhana namun elegan tanpa makeup yang berlebihan. Papa Aryanto pun kembali kelimpungan atas permintaan beberapa koleganya yang ingin menjadikan Yuna menantu ataupun pasangan mereka yang masih jomblo.
Yuna sendiri merasa pusing atas banyaknya permintaan untuk makan siang, makan malam atau pun terang-terangan berkencan dari beberapa kolega papanya.
Dengan sopan, Yuna menolak semuanya dan memilih mundur dari acara minum teh yang diadakan sore itu.
"Papa ada kamar sih buat mamamu kalau kecapekan. Minta kuncinya sama Karen."
Yuna pun mencari Karen dan meminta kunci kamar papanya.
"Mbak Yuna, ayo nyanyi" panggil seseorang yang membuat Yuna bengong.
"Tania? Titania?" Yuna merasa surprise melihat teman nongkrongnya di museum yang selalu mendorongnya bernyanyi di kota lama bersamanya.
"Aku diminta Oom Aryanto ngeband disini. Ayolah mbak, dah lama nggak denger suaranya Mbak Yuna." Titania berusia dua tahun di bawah Yuna dan sama-sama memiliki jiwa seni sepertinya.
Semenjak Yuna pergi kuliah ke RCA di London, mereka tidak pernah saling kontak lagi karena Tania juga sama dengannya keliling Indonesia bersama bandnya.
"Ayo mbak!" Tania menyeret Yuna ke panggung yang membuat ramai para tamu undangan.
Wajah Yuna memerah karena sudah lama tidak menyanyi.
"Mbak mau nyanyi apa?" bisik Tania. Yuna berbisik kepada gadis itu dan tersenyum lalu meminta bandnya memulai musiknya.
Don't lie, I know you've been thinking it
And two times, you let it slip from your lips
You've got too much pride to make any promises
Thinking that we got time, and you want to keep it in
I want you out in the pouring rain
I want you down on your knees
Prayin' to God that I feel the same
I'm right here, baby, so please
Hold me up, tie me down
'Cause I never wanna leave your side
Swear to never let you down
And it's been eatin' me alive
You can take me home
You can never let me go
Hold me up, hold me up
And tie me, tie me down, down...
Suara serak Yuna berduet dengan Tania menyanyikan lagu Tie Me Down milik Gryffin dan Elly Duhè yang upbeat membuat ramai suasana.
Usai menyanyikan satu lagu itu, Yuna tertegun ketika melihat sosok yang dihindarinya bersandar di pintu masuk ballroom. Mata biru itu tampak memandang dirinya dengan tatapan yang tidak bisa dijabarkan.
'Edward'. bisiknya.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaa
Aish bikin gemes pengen ceritain Edward - Yuna ... Nggak jadi off ... wkwkwkwkwk
Eniwaiii thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️