
Yuna turun dari panggung dan mendapatkan pujian dari para tamu undangan yang suka mendengarkan suaranya. Gadis itu hanya mengucapkan terimakasih dengan sopan lalu menemui Karen untuk meminta kunci kamar papanya. Hari ini benar-benar membuatnya lelah fisik dan mental ditambah kehadiran Edward disana.
Setelah tahu nomor kamar dan berada di lantai mana, Yuna berpamitan dengan papa mamanya untuk istirahat di kamar. Sang mama yang tahu putrinya sudah bekerja keras mengurus semuanya, mengijinkan Yuna ke kamar. Sebelumnya Yuna dan Tania bertukar nomor ponsel untuk kontak-kontakan kembali.
Setelah berpamitan dengan beberapa kolega papanya sepanjang jalan menuju pintu keluar ballroom, Yuna pun terbebas dari para tamu. Sekilas dia tidak melihat Edward disana.
Baguslah! Halumu keterlaluan deh Na! Bisa-bisanya sok ngelihat Edward di Jakarta.
Yuna berjalan menuju lift dan hendak ke lantai 10 tempat kamar pesanan papanya. Begitu lift terbuka, Yuna segera masuk dan ketika pintu lift hendak menutup, sebuah tangan menghadangnya.
Betapa terkejutnya Yuna ketika orang yang menghalangi pintu lift itu adalah Edward Blair, pria yang berhasil dihindarinya sebulan ini.
"Halo Yuna" sapa pria itu.
Yuna mengalihkan pandangannya dari Edward ke ponselnya. Edward hanya diam saja diacuhkan oleh gadis itu.
"Apa kabarmu?" tanya Edward.
Yuna masih asyik dengan ponselnya.
"Hei! Yuna!" panggilnya kesal.
Yuna mendongakkan wajahnya. "Anda berbicara dengan saya?"
"Iyalah! Memang ada siapa lagi di lift ini selain kita berdua?" omel Edward kesal.
"Oh. Apakah kita saling mengenal Sir?" tanya Yuna lagi.
"Aap... Aarrgghhh! Kamu tuh!" Edward mengacak-acak rambutnya.
"Dasar orang gila!" desis Yuna dan pintu lift terbuka.
"Iya aku memang seperti orang gila. Orang yang tergila-gila padamu!" teriak Edward sebelum pintu lift menutup meninggalkan Yuna yang terbengong.
***
Yuna berbaring di kamar hotelnya sambil memikirkan Edward yang masih nekad datang menemuinya bahkan mengejar hingga ke lift.
Apakah dia menginap disini? Apa sih mikirin orang itu! Dia itu sudah nyakitin kamu Na, bikin taruhan sama Mike dan konyolnya kamu yang jadi korban!
"Aarrgghhh!!! Dasar Edward brengseeeekkkk!!!" teriak Yuna kesal tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Edward Blair.
Biasanya aku bisa menghapus orang nggak penting dengan gampang kok bule satu itu susah dihapus? Tipe X King size ada nggak sih buat hapus bayangannya bule itu?
Yuna baru sadar dia tidak membawa baju ganti akhirnya memutuskan turun dan memesan taksi online untuk ke Plasa Senayan guna membeli baju.
***
"Pak Aryanto, nak Yuna kemana kok tiba-tiba hilang?" tanya Nyonya Tiar.
"Yuna lagi istirahat Bu Tiar. Dia masih jetlag setelah sebelum sampai Jakarta ada pekerjaan di Yunani" ucap papa Aryanto sedikit berbohong.
Liburan sekalian ke museum kan nggak bohong ya.
"Owalah. Saya baru tahu kalau putri anda mempunyai suara yang bagus" puji nyonya Tiar lagi.
"Yuna memang jiwa seninya tinggi sih Bu" senyum papa Aryanto.
"Iya, saya lihat dari cara style baju-bajunya."
***
Yuna sedang menunggu taksi online yang menjemputnya di depan lobby hotel ketika sebuah lengan memeluk pinggangnya.
"Jangan membantingku disini kalau tidak mau ada skandal dan gosip berhari-hari" bisik pria itu.
"Lepaskan tangan anda dari pinggang saya, Mr Blair. Saya malah tidak peduli skandal atau gosip malah saya akan bilang anda melecehkan saya" balas Yuna dengan sedikit mendesis.
"Bagaimana kalau headline nya 'Yuna Pratomo membanting calon suaminya di depan umum'?" Edward mengerling dengan menggoda.
Yuna sudah hampir mau membanting Edward namun taksi onlinenya datang di depannya. Dan lagi-lagi pria itu tanpa malu ikut masuk ke dalam mobil.
"Kamu ngapain ikut?" bentak Yuna kesal.
"Nemenin calon istriku lah" jawab Edward santai.
"Iya mas. Ke PS."
Sepanjang jalan tidak ada pembicaraan antara keduanya namun tanpa Yuna sadari, jari kelingking kanan Edward menyetuh jari kelingking kiri Yuna.
***
Yuna berjalan mendahului Edward yang dengan santainya jalan di belakang gadis itu. Rupanya wajahnya yang mirip Chris Pine membuat banyak pengunjung mengira aktor itu sedang berada di Jakarta. Sontak ramai lah mall tempat Yuna hendak membeli baju.
Banyak yang meminta selfie bareng lah, foto sana sini membuat Edward kebingungan mencari Yuna yang sudah menghilang. Karena keributan itu akhirnya, pihak keamanan pun mengawal Edward agar tidak terjadi keramaian lagi.
"Mr Pine mau kemana biar saya kawal" ucap salah satu sekuriti.
"Nama saya bukan Chris Pine! Hanya mirip saja. Nama saya Edward Blair!" umpat Edward kesal.
"Terserah Mr Pine deh. Ini mau kemana?" kekeh sekuriti itu dengan gaya lebay. Kapan lagi mengawal aktor Hollywood ? Ya kan?
"Saya mencari calon istri saya. Hilang tadi gegara dikerubuti banyak orang." Edward celingukan mencari Yuna.
"Apa calon istri Mr Pine tadi pakai baju pink?" tanya sekuriti satu lagi.
"Iya. Dia dimana?"
"Itu tuan." Edward melihat arah telunjuk sekuriti itu dan tampaklah Yuna yang sudah berganti baju.
"Sudah jadi selebriti mendadak?" sindir gadis itu yang sekarang sudah memakai blazer dari kulit, kaos putih, celana jeans dan sepatu Converse. Di tangan kanannya dia membawa dua paper bag yang diduga berisi baju pinknya dan sepatu high heels yang dipakainya tadi.
"Wah, Mr Pine. Calon istri kayak begitu jangan sampai lepas" bisik salah satu sekuriti yang mengawal Edward.
Edward hanya tersenyum kecut.
***
Yuna dan Edward kembali ke hotel Mulia dan ternyata masih ada beberapa tamu papanya yang berada di lobby. Yuna pun menyapa sopan dan mengucapkan terimakasih sudah bersedia datang acara lelang.
Melihat Yuna berbasa basi dengan kolega papa Aryanto membuat Edward selalu berada di samping gadis itu.
Beberapa kolega menanyakan hubungan Yuna dengan Edward Blair namun Yuna mengatakan bahwa pria itu hanyalah seorang klien dari kantor papanya. Tentu saja Edward merasa kesal tapi dia tahu jalan untuk mendapatkan maaf dari gadis itu masih panjang.
Usai berbasa-basi, Yuna pun berpamitan diikuti oleh Edward.
"Yuna!" panggil Edward.
Yuna pun berbalik. "Ada perlu apa lagi Mr Blair?"
"Kenapa kembali memanggilku Mr Blair? Kemana panggilan Mr Edward mu seperti biasanya?"
"Bukankah Anda seorang klien jadi wajar kalau saya memanggil nama belakang anda?" ucap Yuna datar.
Edward gemas dengan gadis itu lalu menarik tangannya dan membawanya ke dalam lift yang terbuka.
Di dalam lift, Edward sengaja memencet tombol lantai tertinggi hotel Mulia agar lebih lama berbicara dengan Yuna.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku, Yuna?" tanya Edward sambil menatap gadis itu.
"Jangan pernah muncul di hadapan saya lagi."
***
Yuhuuu Up sebelum nonton.
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
*Rhea nanti malam yaaaa kalau nggak ketiduran*
🙏🙏🙏