Love In Bet

Love In Bet
Keinginan Duncan McGregor



Edward menatap wajah cool Duncan McGregor dengan raut kesal. Tuan besarnya semakin tua semakin menyebalkan di matanya, apalagi setelah Yuna kalah taruhan, membuat pria bermata biru semakin jengkel.


"Kenapa Ed? Mukamu kusut amat!" goda Duncan kepada pria yang sudah dianggap putranya sendiri.


"Kenapa kalian harus bertaruh seperti itu?" tanya Edward gusar.


"Ed, itu taruhan yang adil menurutku." Duncan menyesap cerutunya.


"Not your name!" desis Edward.


Duncan tertawa. "Look Ed, aku hanya ingin namaku tetap diwariskan dan asal kau tahu, kedua anakku tidak ada yang tertarik mengelola perusahaanku. Kita sudah merger, Ed, apa salahnya tambah satu nama masuk lagi? Begitu anakmu lahir, dia sudah mendapatkan 20% saham MB Enterprise yang bakal dia terima saat dia berusia 18 tahun."


Edward memegang pelipisnya. "Kamu sudah merencanakan ini kan?"


"Nabila dan Mike tidak memiliki anak, Mario masih belum jelas kapan dia mau menikah. So, kamu yang sudah seperti anakku sendiri dan sudah menikah, why not menyematkan namaku di calon anakmu?"


"Agar engkau memiliki pewaris?"


Duncan menghebuskan asap cerutunya. "Bingo!"


Edward menghela nafas panjang. "Astaga Mr McGregor!"


"Ed, asal kau tahu. Taruhan kemarin juga sudah dimasukkan ke dalam klausal wasiatku jika aku meninggal dulu tapi anakmu belum lahir. Yuna belum hamil kan sekarang jadi aku berjaga-jaga dulu."


Kepala Edward semakin pening mendengar argumen boss besarnya.


"Semoga anakku pertama perempuan" ucap Edward.


Duncan terkekeh. "Entah kenapa aku yakin anakmu adalah laki-laki, Ed."


Edward semakin bertambah pusing. Dasar Voldemort!


***


Hari berlalu dan tak terasa usia pernikahan Edward dan Yuna sudah berjalan setahun. Selama itu keduanya semakin menikmati kehidupan pernikahan meskipun masih dengan perdebatan dan gesrekan diantara keduanya, tapi Edward dan Yuna semakin dekat dan mesra.


Papa Aryanto tidak mempermasalahkan putrinya hingga sekarang belum diberikan tanda-tanda hamil, begitu juga dengan mama Rani. Mereka berdua maklum jika keduanya masih menikmati masa berdua dulu mengingat hanya berpacaran tidak lama dan langsung menikah.


Namun hal itu tidak berlaku di Duncan McGregor yang ribut kenapa Edward dan Yuna malah santai-santai saja belum ada tanda-tanda hamil.


"Kalian sudah ke dokter?" tanya Duncan ketika pria itu diundang makan malam di mansion Blair.


"Sudah. Aku sehat, Yuna sehat, hanya saja kami belum diberi kepercayaan oleh Allah untuk memiliki baby saat ini" ucap Edward.


"Kalian kurang rajin untuk berbuat sepertinya" komentar Duncan tanpa malu..


"Astaga, Boss!" umpat Edward.


Yuna hanya tersenyum. "Bukan masalah kurang rajin atau gimana, tapi kami memang belum dikasih Oom."


"Semoga kalian segera diberikan baby boy" kekeh Duncan.


Edward dan Yuna hanya saling memandang lesu.


***


Pagi ini seperti biasa Yuna memasak bersama dengan Maria. Rita akan datang bersama dengan Abian, putranya bersama Bryan sedangkan Dian yang sedang hamil lima bulan akan datang diantar Jack. Bumil manis itu ngidam rendang buatan Yuna yang dengan senang hati membuatnya.


Jam sepuluh pagi, para tamu pun datang dan Yuna menyambut mereka dengan sukacita. Maklum Yuna memang tidak terlalu suka bergaul dengan para istri rekanan suaminya.


Nggak di Jakarta, nggak disini soal sosialita sama saja!


"Selamat pagi semuanya" sapa Yuna ramah lalu memeluk Dian yang mulai membuncit perutnya dan Rita yang menggendong Abian.


Jack berada di belakang para wanita-wanita itu tersenyum melihat keakraban istri boss dengan istri para pegawainya.


"Maaf ya mbak Yuna, Dian minta dibuatkan rendang" cicit Dian dengan wajah memelas.


"Ish yang nama nya ngidam memang begitu. Jack, sudah ditinggal saja nggak papa" ucap Yuna kepada pria berambut blonde dengan wajah seram itu tapi menatap lembut istrinya.


"Baiklah. Mrs Blair, titip Dian ya" ucap pria itu sambil mencium kening istrinya, lalu mencium perut membuncit itu. "Ayah pergi dulu ya. Makan enak sama bunda."


Yuna dan Rita melongo. Bule bilangnya ayah bunda? Benar-benar deh mulai kacau klan McGregor sekarang.


"Hati-hati ayah" ucap Dian sambil mencium tangan suaminya. Jack pun berjalan menuju Range Rover nya.


"Ayo masuk" ajak Yuna.


***


"Ayah? Bunda?" tanya Yuna kepada Dian ketika mereka berada di meja makan. Abian sendiri sudah tidur di stroller bayinya. Bayi berusia empat bulan itu tampak sangat gembul.


"Iya mbak, mas J minta dipanggil begitu nanti kalau anak kami lahir" senyum Dian.


"Astaga, benar-benar Jack itu lebih Indonesia sekarang" kekeh Rita.


Rita dan Dian memang diminta Yuna untuk memanggilnya dengan sebutan 'mbak' daripada panggilan resmi dan kaku.


"Mbak belum ada tanda-tanda kah?" tanya Rita.


"Nggak papa mbak, aku sama mas J ajah nunggu setahun baru dikasih kok. Kan memang disuruh pacaran legal dulu" senyum Dian membuat Yuna menghangat hatinya.


"Nggak papa Rit. Aku dan Edward sehat hanya saja belum dikasih" senyum Yuna. "Udah yuk makan."


Ketiga ibu cantik itu pun makan hidangan yang sudah disiapkan oleh Yuna dan Maria. Dian sangat menikmati rendang yang sudah dibayangkan sejak semalam sampai-sampai dia tidak bisa tidur meskipun Jack sudah membujuknya.


***


Edward pulang dengan hati senang. MB Enterprise semakin berkembang dan membuka kantor cabang restaurannya di Australia. Kerjasama dengan Ryu Reeves, membuat jalannya semakin mudah untuk melebarkan sayap. Adrian Pratomo pun bersedia menaruh saham di restoran baru di Sydney nanti.


Benar-benar lingkaran keluarga yang semakin erat karena keluarga McGregor dan Pratomo bergabung.


"Darling!" teriak Edward yang bingung istrinya tidak ada di ruang tengah seperti biasanya.


"Nyonya di kamar tuan. Tadi setelah nyonya Rita dan nyonya Dian pulang, nyonya Yuna mengatakan dia agak pusing jadi berisitirahat di kamar" jawab Maria.


Yuna? Sakit? Tumben.


"Ya sudah, aku keatas dulu Maria" jawab Edward yang berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.


Dibukanya pelan pintu kamarnya dan tampak istrinya sedang terlelap. Edward melihat wajah cantik Yuna yang sedikit pucat. Tangan kekarnya mengusap pipi yang agak chubby.


"Darling, kamu kenapa?" bisik Edward.


"Hhmmm...sudah pulang sayang?" tanya Yuna dengan suara khas ngantuk.


"Aku mandi dulu sebentar ya. Kamu mau makan malam di kamar saja?" Edward melihat istrinya benar-benar tidak enak badan.


"Boleh" jawab Yuna. Edward menekan intercom dan mengatakan setengah jam lagi diantarkan makan malam ke kamar. Pria itu lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, dia melihat istrinya sudah bangun dan masih posisi duduk di atas tempat tidur.


"Mrs Blair? Are you okay?" tanya Edward yang cemas melihat keadaan Yuna yang berantakan.


"I'm fine. Sebentar aku pengen ke kamar mandi" ucap Yuna yang menurunkan kakinya untuk berjalan ke kamar mandi namun baru dua langkah, tubuhnya melemas dan hampir jatuh ke karpet tebal kalau tidak ditahan Edward.


"YUNAAAA!"


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa


Maaf kesiangan soalnya Eike sibuk di dunia nyata


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️