
Yuna menikmati pekerjaannya di Saqqara bersama rombongan arkeolog yang merupakan gabungan dari beberapa tenaga ahli berasal dari beberapa universitas terkenal. Pekerjaannya membuat dia bertemu banyak orang, membuka jaringan dan menambah pengetahuan serta pengalaman yang dia tidak peroleh di bangku kuliah.
Jadwal untuk berada di Saqqara yang awalnya hanya dua Minggu akhirnya menjadi sebulan karena semakin banyak Sarkofagus yang bermunculan setiap mereka menggali dan banyaknya artifak dan peralatan yang berasal dari abad ke 25 sebelum Masehi.
Selama disana pun, Edward tidak pernah absen untuk menghubungi Yuna baik lewat pesan maupun telpon. Sampai akhirnya James Arthur mengetahui bahwa Yuna berhubungan dengan Edward Blair.
"Bukannya Edward Blair itu mantan mafia?" tanya James di sela-sela istirahat mereka.
"Hu um. Dia sudah bisnis legal kok sekarang" jawab Yuna.
"Itu kan yang kamu tahu. Kan kamu nggak tahu kalau di balik itu dia masih melakukan bisnis hitamnya" ucap James dengan nada sinis.
Entah kenapa Yuna tidak suka dengan ucapan James. Karena kalau Duncan McGregor masih melakukan bisnis haram, pasti Pakdhe Adrian tidak mau berbesan dengannya. Info yang dia dapat dari Nabila pun, semua bisnis haram sudah mereka lepaskan dan sekarang tinggal mengurus restauran dan properti bekerja sama dengan PRC group.
Apalagi ketika MB Enterprise hendak bekerja sama dengan PRC group ada pertemuan antar pemegang saham yang disana dijabarkan perusahaan MB apakah layak masuk kerja sama atau tidak.
"Kamu kan nggak tahu perusahaan mereka, James" jawab Yuna masih sabar.
"Ah kamu terlalu dibutakan oleh cinta" cebik James.
Yuna hanya terdiam namun matanya menatap dingin ke teman yang sudah bersamanya hampir dua tahun belakangan ini.
"Mungkin James tapi aku tahu sekali perusahaan milik Edward Blair seperti apa karena aku termasuk salah seorang pemegang saham."
James memandang Yuna dengan tatapan meremehkan. "Apa katamu? Pemegang saham? Kamu kan cuma kurator sedangkan setahu ku perusahaan besar macam PRC group saja mau dibodohi oleh MB Enterprise yang jelas-jelas milik McGregor mantan mafia."
Yuna pergi meninggalkan James dengan perasaan dongkol. Selama dia berteman dengan James, dia tidak pernah memberitahukan identitas lengkap siapa dirinya. Semua orang disana hanya tahu dirinya adalah Yuna Indira seorang kurator lulusan RCA school via beasiswa.
Ada alasan tersendiri kenapa dia tidak mau menunjukkan siapa dirinya karena tidak mau adanya perlakuan istimewa disana mengingat besarnya nama perusahaan keluarganya. Di setiap negara pasti ada cabang perusahaan properti PRC group, ada bangunan milik PRC group jadi Yuna tidak mau melibatkan nama besar keluarga.
Tapi mendengar perusahaan keluarganya dihina karena bekerja sama dengan perusahaan milik Duncan McGregor tentu saja membuat Yuna marah namun dia memutuskan untuk melupakan omongan James tapi untuk dekat kembali seperti dulu, lebih baik tidak.
"Yuna! Lho kamu kok malah pergi!" seru James.
Yuna kemudian menemui ketua arkeolog untuk meminta ijin agar dia bisa refreshing satu hari ke Kairo. Tentu saja ketua rombongan mengijinkan karena Yuna satu-satunya anggota tim yang belum mengambil ijin libur.
"Ambilah dua hari libur, Yuna. Menginap lah di Kairo karena kamu bekerja sudah sangat giat."
Yuna mengucapkan terimakasih lalu mengambil duffle bag Balenciaga nya yang berada di tenda dan memesan taksi.
"Yuna! Mau kemana?" tanya James ketika melihat gadis itu naik ke dalam taksi namun Yuna tidak menjawabnya.
Taksi itu pun pergi meninggalkan situs kuburan Saqqara.
***
Yuna membooking kamar di Four Season Hotel at Nile Plaza Kairo. Hotel berbintang empat itu terletak di dekat sungai Nil yang terkenal sampai-sampai Agatha Christie pun membuat novelnya yang berjudul Death on the Nile.
Kamarnya terdapat balkon yang bisa melihat sungai Nil yang terkenal karena disana juga Nabi Musa dihanyutkan sewaktu bayi agar tidak dibunuh oleh Fir'aun.
Yuna menikmati liburan seharinya demi menghindari James dan memutuskan untuk mempersingkat pekerjaannya karena dia sendiri sudah over dari jadwal hanya karena dia terlalu semangat melihat banyak Sarkofagus secara langsung.
Setelah puas di kamar, Yuna memutuskan untuk mengisi perutnya di sebuah cafe dekat hotel tempat dia menginap.
Gadis itu memilih untuk makan di 30 North Cafe Iconia dan memilih salmon salad sebagai pembuka.
Yuna sangat menikmati salad salmon dengan avocado yang membuat moodnya membaik.
Suara ponselnya membuat Yuna mengangkat dengan tangan kirinya karena tangan kanannya menikmati saladnya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Mr Edward?" tanya Yuna.
"Kamu dimana darling?" tanya Edward di seberang.
"Tunggu aku disana!" Edward langsung mematikan panggilannya.
Tunggu Aku disana? Maksudnya apa sih? Dasar Edward!
Pesanan makanan kedua Yuna pun datang dan kali ini dia memesan egg Benedict.
Egg Benedict adalah makanan yang berisikan dua roti muffin yang diberikan daging ham sapi lalu telur rebus tanpa kulit yang disirami saus hollandaise.
Yuna memfoto makanan yang dipesannya dan mengirimkan ke grup chat keluarganya. Tentu saja sepupunya pada julid karena sampai Mesir yang dipesan malah makanan standar.
Yuna tersenyum sendiri melihat komentar Nabila, Shanum, Alexa dan Vivienne yang seragam semua komentarnya.
📩 Mbak Nabila : Ya ampun, jauh-jauh ke Kairo cari egg Benedict?
📩 Mbak Shanum : Kayak di rumah nggak bisa bikin ajah 🤣🤣🤣
📩 Mbak Alexa : Dik, mending kamu ke Jepang deh daripada ke Mesir. Panas! Udah gitu cuma maem egg Benedict pula sampai Kairo.
📩 Vivienne Neville : Panasan Omelan mama lagi mbak-mbak ku tersayang.
📩 Yuna Indira : Kamu buat ulah apalagi Vivet?
📩 Vivienne Neville : Cuma nabrakin mini Cooper mama 😁😁😁
📩 Mbak Nabila : Astaghfirullah! Terus mobilnya Tante Adinda nggak papa?
📩 Vivienne Neville : Ya Allah mbaaakk mbok adiknya ditanyain kenapa! Di gips ini tanganku gegara retak tabrakan.
📩 Mbak Shanum : pasti remuk tuh mini Cooper nya.
📩 Mbak Alexa : Ga heran Tante Adinda ngamuk.
📩 Yuna Indira : Alamat black card semakin ditahan deh! wkwkwkwkwk
📩 Vivienne Neville : Iyaaaa 😭😭😭. Butuh sumbangan iniiii...
📩 Nabila, Shanum, Alexa, Yuna : Ogaaaahhh!!!
📩 Vivienne Neville : Jahatnya 😭😭😭.
Suara ramai-ramai pun terdengar ketika sebuah mobil berhenti dan tampak seorang pria mengenakan topi New York Yankees, berkacamata hitam, kaos putih dan celana jeans turun serta membawa kamera.
Chris Pine! bisik-bisik pengunjung cafe.
Yuna melongo melihat Edward. Lagi-lagi mereka mengenakan outfit yang sama. Edward berjalan menuju meja tempat Yuna duduk.
"Halo darling" sapa Edward sambil mencium pipi Yuna lalu dia duduk di hadapan gadis itu. "You're look so beautiful."
"Mr Edward?"
"Yuna, pose bentar, aku mau memfotomu." Edward kemudian mengarahkan kameranya ke Yuna.
Cekrek!
Beautiful.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️