Love In Bet

Love In Bet
Waspadalah !



Edward dan John akhirnya memutuskan menginap di rumah Stephen apalagi itu undangan dari adik satu-satunya dengan istrinya Diana.



Kini mereka berada di meja makan menikmati sarapan. Stephen tampak sudah rapih dengan setelan suitnya, sedangkan Diana tampil dengan gaun putih dengan rambutnya diikat keatas. Wajahnya yang ayu, diberikan makeup yang cocok dengan stylenya.



"Hari ini ke rumah Yuna Pratomo lagi bro?" tanya Stephen.


"Mungkin."


"Yuna Pratomo mas?" tanya Diana kepada suaminya.


"Kamu kenal?" tanya Stephen.


"Nggak sih tapi kemarin kepala divisi jantung mendapatkan undangan untuk hadir acara lelang amal yang diadakan oleh PRC group milik Aryanto Pratomo."


"Lalu?"


"Kepala divisi ku memintaku menggantikannya karena dia sendiri ada acara di hari yang sama."


"Kenapa dia menunjukmu?" tanya Stephen bingung.


"Karena tahu siapa suamiku" gelak Diana. "Suamiku banyak uang."


"Hah? Kacau deh kepala divisimu!" omel Stephen.


"Ambil saja undangannya, kita kesana bersama-sama" ucap Edward cuek.


Diana melongo. "Mas Edward serius mau ngejar Yuna?"


"Siapa yang ngejar Yuna?" tanya Edward dingin.


Stephen dan Diana hanya menatap Edward dengan tidak percaya. "John, kamu yakin bossmu sehat?" tanya Stephen sembari menahan tawa.


"Aku tidak berani berkomentar Mr Stephen daripada nanti aku dikirim ke Antartika." John menatap Stephen dengan tatapan memelas dramatis.


Diana terbahak. "Suamiku, ternyata keluargamu lucu ya."


"Kamu baru tahu segelintir. Nanti kalau kamu sudah mengenal semua, kamu akan tahu bagaimana kehidupan mereka yang kacau balau." Stephen menatap Diana lalu memberikan ciuman di pipinya.


***


Yuna sekarang berada di lokasi untuk pengadaan lelang yang berada di ballroom hotel Mulia Jakarta. PRC group memang tidak pernah main-main untuk melakukan pagelaran apapun itu. Gadis itu ditemani Vivienne dan Brandon, mengecek semua persiapan untuk acara Sabtu besok.


"Mbak, aku bantu ya cek semuanya" tawar Vivienne yang sudah memakai tag name khusus.


"Tolong ya Viv."


"Tenang saja mbak, aku ma bang Brandon kan biasa bantu mama."


Gadis cantik itu lalu menggamit Brandon untuk membantu memeriksa semua meskipun sudah ada EO yang mengurus semuanya namun baik Yuna dan Vivienne selalu mengecek sendiri. Itu sudah seperti aturan di keluarga Pratomo, always cek dan ricek sendiri.


Suara ponsel dari dalam tas Yuna, membuatnya menghentikan pekerjaannya. Ditekannya tombol airpods yang menempel di telinganya.


"Assalamualaikum."


"Wa... wa'alaikum salam." Kening Yuna mengerenyit.


"Mr Edward?"


"Yuna. Kamu dimana?"


"Saya di ballroom hotel Mulia sedang memeriksa lokasi untuk lelang."


"Tunggu aku disana."


Suara panggilan dimatikan terdengar.


Yuna hanya mengedikkan bahunya cuek.


***


Suara seseorang yang ribut di depan pintu masuk ballroom membuat Yuna dan asistennya Karen mendongak dari berkas yang dibawa dari kantor papanya.


Seorang sekuriti datang ke Yuna dengan wajah cemas.


"Bu Yuna, ada pria bule ingin masuk ke ballroom tapi karena dia tidak ada ijin dan nama dalam daftar, kami tidak perbolehkan masuk tapi dia marah-marah malah minta dipanggilkan Bu Yuna."


Yuna menghela nafas panjang. "Saya kesana pak. Karen, tolong yang aku kasih tanda kamu sampaikan ke papa supaya nanti papa bisa revisi, via email saja karena papa dan mama masih di Singapore."


"Baik mbak Yuna. Bu Rani kan memang jadwal general check up disana."


"Thanks Karen. Mari pak."


"Anda jangan membuat keributan disini dong Mr. Edward" tegur Yuna dingin.


Edward yang masih berdebat dengan seorang petugas menoleh melihat Yuna yang tampil santai.



"Aku tidak boleh masuk soalnya" ucap Edward kesal.


"Tentu saja nggak boleh masuk karen hanya orang-orang panitia dan pegawai yang sudah diberikan tag name tertentu."


Edward cemberut. Yuna hampir tergelak melihat Casanova satu ini seperti anak kecil.


"Pak Taruno, tolong berikan tag name untuk tuan Edward Blair dan biarkan beliau masuk."


"Baik Bu Yuna." Pak Taruno lalu membuatkan tag name yang lengkap dengan kode barcode untuk Edward melalui komputer yang memang tersedia disana.


Tak lama, tag name itu pun jadi dan diserahkan kepada Edward.


"Silahkan tuan Blair. Ohya apa hubungan anda dengan tuan Stephen Blair?" tanya pak Taruno yang merupakan kepala IT kantor Aryanto Pratomo.


"Dia adik saya" jawab Edward singkat.


***


Di dalam ballroom, Edward mengagumi penataan yang dibuat secara eksklusif dan mahal. Melihat Vivienne dan Brandon asyik membantu menata lukisan-lukisan yang hendak dilelang membuat Edward tahu bahwa keluarga Pratomo memang dikenal humble.


"Jadi Stephen Blair adalah adik anda?" tanya Yuna sembari memperhatikan tim IT mensetting layar monitor.


Edward berdiri di belakang Yuna ikut memperhatikan slide gambar di white screen.


"Iya. Adik kandungku bahkan dia rencananya akan ikut acara ini."


Yuna membuka daftar tamu undangan di Ipad-nya.


"Tidak ada nama Stephen Blair, tapi ada nama Diana Blair" ucap Yuna.


"Dia istrinya Stephen. Kamu tahu, Diana menggantikan kepala divisinya untuk ikut lelang ini." Edward semakin lama berdiri semakin dekat di belakang Yuna. Harum shampoo dari rambut Yuna ditambah parfum yang aromanya lembut, membuatnya sedikit mabuk.


"Ehem!" suara Vivienne mengejutkan Edward. "Ngapain bang Edward nempel-nempel mbak Yuna dari belakang? Nggak sopan ih!" omel gadis ABG itu sambil memukul punggung lebar Edward.


"Aduh! Pukulanmu pedesnya!" umpat Edward kesal ketahuan seperti seorang per**vert.


"Karena Abang pantas mendapatkannya!" Vivienne menatap Edward galak.


"Kamu nggak papa Nana?" tanya Brandon sembari memeluk Yuna yang hanya bengong melihat pertengkaran antara adiknya dan Edward.


"Memang ada apa?" tanya Yuna bingung.


"Mbak, apa kamu nggak sadar kalau bang Edward mau cium kepalamu?" tanya Vivienne gemas karena kakaknya tidak tahu modus mantan mafia itu.


"Oh."


Vivienne dan Brandon melongo.


"Hanya 'oh'? That's it?" Vivienne kesal bukan kepalang kakaknya cuek banget.


"Kalau dia macam-macam kan bakalan aku hajar Viv. Cuma tadi mbak memang sedang serius lihat iPad."


Vivienne mengusap wajahnya kasar lalu menarik Yuna sedangkan Brandon menghampiri Edward.


"Kamu hutang penjelasan padaku, Ed!" ucap Brandon dengan tatapan dingin.


"Mbak, aku tahu kalau dirimu sudah kerja itu konsentrasi penuh tapi harus waspada juga sama Casanova satu itu! Kayaknya dah lama gak sentuh cewek jadi dia mau incer kamu!" omel Vivienne panjang lebar.


"Sebentar-sebentar, darimana soal sentuh menyentuh itu?" Yuna terperangah mendengar ucapan itu.


"Haaaiissshhhh, mbaaakk, aku tuh tinggal di Manchester, free s**x disana marak! Tahu lah soal begituan!"


Yuna tertawa. "Iya deh adikku."


"Hati-hati sama bang Edward. Kayaknya dia ngincer mbak tapi ada yang ditutup-tutupi. Aku belum tahu apa itu."


Yuna hanya melihat Brandon dan Edward menjauh dari mereka. Tampak keduanya sedang bertengkar namun tidak tahu apa yang diributkan.


***


Yuhuuu Up sore Yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️