
Yuna datang ke kampusnya dan langsung menuju studio lukisnya. Disana para dosen dan beberapa temannya tampak heboh melihat gadis dingin itu datang kembali ke kampus.
"Tumben Na. Mau selesaikan lukisanmu ya?" tanya Anna, sahabatnya yang sekarang menjadi asisten dosen di RCA.
"Iya nih An, gegara asyik keliling lihat museum dimana-mana aku jadi melupakan lukisanku" kekeh Yuna yang hari ini mengenakan kemeja garis-garis warna biru ungu dan celana jeans ketat.
"Ayo sekarang diselesaikan! Untung kamu sudah lulus, kalau nggak, aku kasih F!" ujar Anna dengan wajah sok galak yang membuat Yuna tergelak.
Anna lebih tua dari Yuna dua tahun, berambut pirang kecoklatan panjang. Dia sudah punya tunangan seorang bankir yang bekerja dekat kampus mereka.
Keduanya menjadi dekat karena sama-sama suka keliling dari museum ke museum di Inggris jika waktu libur.
Yuna mengambil kanvas yang dia tutup dengan kain putih yang mulai berdebu. Dibukanya kain itu lalu di pasangnya di easel dan Yuna mulai konsentrasi dengan cat minyaknya.
***
Edward menelpon Yuna dari tadi tapi tidak ada jawaban. Akhirnya ponsel bewarna hitam itu dia letakkan di atas mejanya.
Mulai lagi deh ini !
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan Edward pun dengan semangat mengangkatnya langsung menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Halo sayang" sapanya.
"Waduh, terimakasih boss sayang padaku" suara Phil di seberang sana. "Aku bahagia boss!" ucapnya absurd.
"Brengsek! Aku tidak sayang padamu kremi!"
"Whoah! Boss, aku ini ganteng paripurna. Orang-orang bilang aku kayak Shane Filan begini kok dibilang kremi sih? Penistaan boss penistaan!"
"Cerewet! Ada apa telpon?"
"Boss, ada chef baru yang ingin melamar kerja tapi dia lebih spesialis di pastry sedangkan kita kan bukan spesialis di bidang itu. Kita kan di main dining."
"Kasih percobaan tiga bulan. Kalau pelanggan kita suka, lanjutkan. Nggak, kasih pesangon."
"Siap boss! Don't worry, semarah-marahnya boss, Phil tetap sayang sama boss. Muach!" Phil langsung mematikan panggilannya.
Edward melongo memandang ponselnya.
"Dasar anak buah belok!" umpatnya kesal.
Edward mencoba menelpon Yuna kembali dan lagi-lagi tidak ada jawaban.
"Brengseeeekkkk!!!"
***
Yuna meluruskan punggungnya yang pegal setelah konsentrasi melukis.
Akhirnya selesai juga!
Dia memberikan tanda tangan di sudut lukisannya. Rencananya, lukisan ini akan diberikan pada mamanya yang akan berulang tahun bulan ini.
"Wah, akhirnya selesai juga lukisanmu Na" ucap Anna di belakang Yuna.
"Alhamdulillah" ucap Yuna. "Eh sekarang jam berapa An?"
"Jam tiga sore" ucap Anna sambil melihat arlojinya.
"Astaghfirullah, aku melupakan makan siang dan sholat dhuhur!"
Anna tertawa. "Bukannya kamu sering begitu darling, setiap kamu konsentrasi melukis selalu lupa segalanya."
Yuna menyimpan lukisannya agar mengering dulu di sebuah ruangan dan menguncinya lalu mengambil tas nya.
"Aku titip lukisanku dulu ya Anna."
"Kan sudah kau kunci ruangan kita. Aman lah" ucap Anna tentang ruangan khusus untuk mengeringkan lukisan.
Yuna mengangguk dan menyimpan kuncinya di dalam tas. Diambilnya ponsel yang dia buat mode silent dan betapa terkejutnya melihat puluhan panggilan tidak terjawab dari Edward Blair.
"Astaghfirullah! Kenapa nih orang?" bisiknya.
Yuna berjalan keluar gedung kampusnya menuju ke sebuah cafe bernama Stein's Berlin. Ketika hendak berjalan kesana, sebuah tangan menariknya. Reflek, Yuna melakukan teknik bantingan Judo dan betapa terkejutnya melihat siapa yang dibantingnya.
"Oh my God! Mr Edward?" pekiknya.
Edward sendiri masih tergeletak shock akibat tiba-tiba dibanting. Gila nih cewek! Kurus begitu tapi bisa membantingku!
"I'm so sorry Mr Edward" Yuna membantu Edward untuk bangkit.
"Yuna! Kamu nggak papa?" tanya beberapa rekan Yuna yang masih berada disana.
"Sir, aku peringatkan. Jangan pernah mengagetkan Yuna kalau tidak mau terjadi seperti tadi" gelak teman Yuna itu.
"Akan aku ingat" ucap Edward dengan suara serak.
***
Kini Edward dan Yuna berada di Stein's Berlin. Yuna langsung memesan chicken schnitzel dan salad.
"Kamu lapar?" tanya Edward. "Kamu belum makan siang?"
"Aku menyelesaikan lukisanku" jawab Yuna.
Edward meminum birnya. "Aku tidak menyangka kamu bisa membantingku".
"Kami semua anak perempuan keluarga Pratomo paling tidak bisa satu ilmu bela diri dan saya memilih judo."
"Banyak yang aku tidak tahu tentang mu Yuna."
Yuna hanya tersenyum tipis. "Saya masih belum ada apa-apanya dibanding mbak Nabila, mbak Shanum dan mbak Alexa. Bahkan Vivienne sendiri sudah bisa menembak sejak usia 11 tahun."
"Kamu bisa menembak?"
"Semua di keluarga kami bisa."
Edward melongo. Tidak heran Nabila bar-barnya minta ampun, sampai-sampai si Voldemort lebih sayang padanya dibanding sama anaknya sendiri.
"Ya Allah enak banget!" ucap Yuna yang memasukkan potongan ayam itu ke dalam mulutnya.
Edward hanya memandang gadis di hadapannya.
"Edward? Edward Blair? Is that you?" sapa seorang wanita berambut pirang dengan pakaian seksih.
Edward dan Yuna sama-sama menoleh ke arah wanita itu.
"Ohya benar kau Edward! Apa kabar darling?" wanita itu tanpa malu langsung mel**mat bibir Edward. Usai ciuman itu, Edward langsung melap bibirnya dengan saputangannya.
Yuna terperangah melihatnya.
"Oh, kau dengan siapa ini? Asistenmu?" tanya wanita itu.
"Michelle, pergilah!" ucap Edward dingin.
"Oh come on Darling. Kita sudah lama tidak bertemu. Bernostalgia lah sedikit dulu." Wanita bernama Michelle itu lalu menatap Yuna. "Hei nona asisten, kenapa kamu tidak pergi. Kami mau berduaan."
Yuna menatap wanita itu dingin. "Saya mau pergi atau tidak bukan urusan anda. Andalah yang seharusnya pergi karena duduk di meja tanpa diundang, andalah yang tidak memiliki etika."
"Whoa nona asisten. Ternyata mulutmu pedas juga ya."
"Mulut saya belum seberapa nona. Saya bahkan mampu membuat silikon di da*da anda kempes hanya dengan sekali tusuk dengan garpu!" Yuna memajukan tubuhnya. "So, sebelum saya melakukannya, saya minta anda pergi dari sini. Dan jika anda berpikir saya tidak berani melakukannya, anda salah!"
Michelle bergidik melihat Yuna membawa garpu di tangan kanannya dengan wajah dingin seperti tidak ada perasaan disana.
"Pergilah Michelle dan jangan pernah mencariku karena hubungan kita sudah berakhir semenjak kamu memilih tidur dengan pria saingan Bisnisku. Dan itu adalah kesalahan fatal!"
Michelle pun berdiri dan meninggalkan Yuna dan Edward. "Boss dan asisten sama-sama gila!" makinya.
Setelah wanita itu pergi, Edward menatap Yuna sendu.
"Maafkan aku Yuna."
"Soal apa?" tanya Yuna cuek sembari memakan chicken schnitzel nya.
"Soal tadi."
Yuna menatap Edward dingin. "Kita tidak bisa melepaskan masa lalu yang akan selalu mengikuti apalagi masa lalu yang berhubungan dengan banyak wanita. Itulah yang membuat saya akhirnya memutuskan. Dua kali berciuman dengan anda adalah kesalahan besar. Jadi saya minta anda menjauhi saya. Kalau anda tidak bisa, berarti saya yang akan menjauhi anda. Karena saya tidak bisa berbagi dengan pria yang diam saja dicium oleh mantan teman tidurnya."
Edward hanya terdiam menatap Yuna.
Gadis satu ini memang keras!
***
Yuhuuu Up malam Yaaaa
Akhirnya crazy up juga.
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️