Love In Bet

Love In Bet
Dibawa Pergi



Hari ini adalah hari kedua Yuna berada di kantor Edward. Hasil pemeriksaan pagi ini, Yuna menyimpulkan bahwa lukisan yang diberikan ke Edward adalah asli.


"Saya sudah melacak perjalanan lukisan ini hingga sampai ke tangan anda Mr Edward. Lukisan ini sudah berpindah tangan sekitar tujuh orang. Terakhir adalah klien anda dan saya bisa menjamin keasliannya. Jika anda masih meragukannya, bisa kita ke kampus saya dan menemui dosen saya disana."


"Tidak perlu nona Yuna. Asalkan sudah fix ini asli, saya hanya ingin tahu berapa nilainya."


Yuna menyebutkan sebuah harga pasaran saat ini dan Edward tersenyum tipis.


"Aku masih rugi beberapa ratus poundsterling" kekehnya. "Tapi setidaknya sebagian besar hutangnya sudah terbayar."


"Baik Mr Edward. Kalau begitu, besok saya akan kembali ke apartemen keluarga saya di Soho."


Edward menaikkan alisnya. "Kenapa?"


"Lho bukannya tugas saya sudah selesai. Jadi saya tidak ada kepentingan lagi untuk menginap di mansion anda."


Mansion anda terlalu besar dan aku tidak nyaman tinggal bersama anda.


"Tinggallah bersamaku hingga beberapa hari ke depan sebelum kamu kembali ke Jakarta" pinta Edward sembari memasukkan lukisan itu ke dalam lemari besinya.


"Hah?" Yuna melongo. "Kenapa?"


"Aku..."


"Edward!" seru seorang pria yang tiba-tiba masuk ke ruangan Edward.


"Damn it Mike! Bisakah kau mengetuk pintu?" maki Edward kesal.


"Whoah! Sorry aku tidak tahu ada tamu" ucap Mike tanpa bersalah.


"Yuna Pratomo itu kekasih kakak sepupumu!" ucap Edward dengan kesal.


Yuna berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya yang disambut antusias oleh Mike.


Yuna tersenyum manis. "Akhirnya bertemu denganmu bang Mike."


Edward melihat wajah Yuna jauh lebih relaks bersama Mike dibanding dirinya.


"Akhirnya bisa bertemu juga dengan adik Nabila selain Vivienne" kekeh Mike.


Keduanya lalu duduk di sofa saling bersebalahan dan sama-sama mengacuhkan Edward.


"Whoah! Bang Mike udah ketemu Vivet?" Yuna menatap Mike tidak percaya.


"Sudah. Ampun deh sepupumu itu!" keluh Mike.


"Makanya kami memanggilnya Vivet, Vivienne Cerewet" gelak Yuna.


"Ohya kamu nggak diapa-apain kan sama Casanova disana itu?" tanya Mike sambil mengedikkan kepalanya ke arah Edward yang duduk di kursi kebesarannya.


"Bang Mike tahu, dia hampir menciumku" bisik Yuna.


"Haaaahhhh?" Mike menatap tajam ke arah Edward yang berlagak tidak dengar.


"Lalu apa yang kamu lakukan?" tanya Mike was-was karena bisa bahaya kalau Nabila tahu.


"Aku tonjok lah" jawab Yuna kalem.


Mike melongo dan sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Good job Na!" serunya sambil melakukan Tosh dengan Yuna.


"Mbak Nabila sudah kasih peringatan ke aku kok bang" kekehnya.


"Kamu tuh datang-datang langsung ghibahin aku tuh maksudnya apa tuan muda?" tanya Edward dingin.


"Oh aku hari ini ada urusan di London tepatnya hendak mengajak Yuna jalan-jalan ke Edinburgh bertemu dengan Vivienne dan trio BCD."


Edward menatap tajam tuan mudanya.


"Membawa nona Yuna pergi?"


Mike mengangguk. "Pekerjaanmu disini sudah selesai kan Na?"


"Sudah."


"Bagus. Kita berangkat sekarang yuk!" Mike menarik tangan Yuna mengajaknya berdiri dan entah kenapa Edward merasa terganggu melihatnya.


"Ayo bang. Aku juga kangen dengan para sepupuku" senyum Yuna.


"Ed, aku pinjam Yuna dulu. Bye!" Keduanya pun langsung menghilang cepat dari ruangan Edward.


"Mike Sialaaaann!!!" Maki Edward sembari melempar hiasan meja dari perunggu ke tembok ruangannya.


***


Mike mengantarkan Yuna ke mansion milik Edward untuk mengambil kopernya karena mereka hendak berangkat ke Edinburgh dengan mobil.


Melihat bossnya datang, para pengawal dan pelayan pun memberikan hormat. Yuna segera menuju kamarnya, membereskan baju-bajunya lalu mengecek semuanya agar tidak ada yang ketinggalan.


"Aku akan ke Edinburgh bersama Yuna."


"Ohya. Sekalian bertemu dengan Vivet?"


"Iyalah, aku pusing jadi harus ada teman berbagi pusing menghadapi gadis centil itu!" kekeh Mike.


"Jadi ceritanya kamu menculik Yuna di depan Edward?" selidik Nabila.


"Just follow my instinct. Aku ingin mengecek perasaannya" gelak Mike.


"Sayang, Yuna baru dua hari di London."


"Tapi hari pertama di London..." suara Mike terhenti mendengar suara ribut-ribut. "Aku telpon lagi nanti."


"Oke sayang. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Yuna yang sudah selesai berkemas pun keluar kamar.


"Apa sih ribut-ribut?" tanya Mike sembari berjalan ke ruang depan.


Tampak Edward datang dengan marah-marah.


"Mike, kamu seenaknya saja menarik Yuna pergi!"


"Lho, kan pekerjaannya sudah selesai?" Mike pun menoleh ke arah Yuna yang sudah membawa koper dan tas selempangnya.


"Iya, sudah selesai."


"Tapi dia tamuku Mike!"


"Hei, yang meminta Yuna datang kesini adalah Nabila dan itu atas permintaanku jadi sekarang giliran ku mengajak nya dia bertemu dengan keluarganya." Mike nyengir licik.


"Damn you Mike!" desis Edward kesal.


"Oh come on Ed! Kenapa kamu jadi blingsatan gini sih? Oh, siap-siap Porsche nya Yaaaa" kekeh Mike jahil.


Yuna yang tidak mau ikut campur urusan keduanya hanya berjalan melewati mereka namun ketika mendekati Edward, gadis itu berhenti.


"Terimakasih Mr. Edward atas semuanya tapi karena tugas saya sudah selesai dan mumpung saya disini ada kesempatan bertemu dengan keluarga saya dengan bang Mike, kenapa tidak." Yuna tersenyum manis. "Au Revoir."


Edward melongo. Yuna lalu keluar dari pintu utama.


Mike menepuk bahu Edward. "Ingat Ed, Porsche mu bakalan jadi milikku!"


"Tidak bakalan Mike!"


"Tapi kenapa tadi wajahmu langsung cemberut ketika melihat aku menarik tangannya Yuna?"


Edward terdiam. Iya ya, kenapa aku tadi rasanya kesal melihatnya.


"Hati-hati Ed, nanti kamu bakalan bucin total kalau sudah benar-benar jatuh cinta!" senyum Mike. "Oke, aku berangkat dulu. Kalau mau nyusul, kamu tahu kan tempatnya."


Mike pun keluar dari rumah menuju Range Rover nya dimana Yuna sudah menunggu.


***


Edward makan malam di mansionnya dengan tidak selera. Meskipun Yuna baru dua hari di rumahnya, namun para pelayan menyukai gadis cantik itu.


Apalagi Maria. Kepala pelayannya itu banyak memuji gadis itu yang tanpa canggung semalam ikut ke dapur untuk ikut memasak bersama.


"Sayang ya tuan, nona Yuna cuma dua hari disini. Saya sih maunya selamanya gadis itu tinggal bersama kami" oceh Maria.


"Bersamamu, Maria?" Edward menyipitkan matanya.


"Iya. Kan tuan nggak tertarik dengan gadis kurus seperti itu. Kalau bersama kami, pasti akan lebih berisi tubuhnya" kekeh Maria.


Astaga! Yang punya rumah siapa Yaaaa!


"Kenapa kamu menyukainya?" tanya Edward.


"Karena dia berbeda! Coba, tuan sudah membawa berapa wanita kemari tapi apakah ada diantara mereka mau masuk dapur? Tidak ada! Hanya nona Yuna yang mau masuk dapur."


Iya, dia memang berbeda. Dia juga tidak tertarik denganku.


***


Yuhuuu


Up sore Yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️