Love In Bet

Love In Bet
Fly to Jakarta



Yuna terbengong.


"Apa maksud anda?"


"Menemanimu. Keliling Manchester. Kamu mau kemana? Old Trafford atau Etihad?"


Yuna dan Vivienne hanya tersenyum.


"Ngapain ke Old Trafford? Kedua kakak kembarku anak OT" gelak Vivienne. "Malah sekarang sedang tanding ke Spanyol."


Edward hanya tersenyum tipis. Dia lupa siapa keluarga Vivienne.


"Udah yuk mbak, kita pulang" seret Vivienne.


"Permisi Mr Edward."


Kedua gadis itu lalu keluar museum. Edward hanya mematung disana.


Baru pertama kalinya ada wanita yang tidak memandang dirinya sama sekali. Tertarik pun tidak.


Edward hanya tersenyum miris.


Akan kubuat kau jatuh cinta padaku, Yuna.


***


Vivienne dan Yuna sudah masuk ke dalam mobilnya dan meminta duo Dalton untuk mengantarkan ke Starbucks.



"Aku butuh kafein!" omel Vivienne.


Yuna pun sebal, acara menikmati museum jadi berantakan gegara dikuntit oleh Edward Blair.


"Mbak, gimana kalau kita ke Jakarta nya besok aja? Jadi kita bertiga kesana. Aku, mbak Yuna dan bang Brandon. Biar si mafia reseh itu nggak tahu."


"Mbak Yuna sih hayuk ajah Viv, biar mbak lebih banyak waktu buat kerja di kantor papa."


"Aku telpon bang Brandon. Terus kita pesan tiket pesawat ke Jakarta malam ini."


"Paspor aman kan Viv?" tanya Yuna.


"Aman banget!" Vivienne lalu menelpon Brandon. "Halo, Bang. Bisa nggak malam ini datang ke Manchester?"


***


Ketiga orang itu sekarang dalam perjalanan ke Jakarta menggunakan maskapai Qatar Airways dan sengaja Vivienne memesankan kelas bisnis.



Brandon tampak senang bisa ke Jakarta karena selain liburan sejenak, dia bisa bertemu dengan Nabila yang berada disana. Meskipun semalam dia harus meminta salah satu sopir PRC group mengantarkannya dari Edinburgh ke Manchester.


Yuna sendiri sedang membuka email dari sang papa yang menunjukkan beberapa lukisan yang harus dia cek besok sesampainya di Jakarta. Setelahnya, dia memutuskan untuk istirahat karena perjalanan Manchester - Jakarta membutuhkan waktu hampir 18 jam.


***


Edward datang ke rumah keluarga Neville di Manchester untuk mengajak Yuna dan Vivienne jalan-jalan. Sengaja dia menginap di kota itu untuk medekati Yuna.


Sesampainya di mansion Neville, Edward hanya terbengong ketika penjaga mengatakan bahwa Vivienne dan Yuna sudah pergi pagi-pagi menggunakan taksi.


"Kemana mereka pergi?" tanya Edward.


"Kami kurang tahu, Sir. Tapi nona Vivi dan nona Yuna membawa koper besar."


Sial! Pergi tanpa bilang-bilang!


Edward masuk ke dalam mobilnya dengan emosi. John hanya terdiam melihat bossnya seperti ingin mencincang orang pagi-pagi.


"Bram! Lacak penerbangan ke Jakarta atas nama Yuna Indira Pratomo, Vivienne Lee Neville, Brandon James. Hari ini. Aku tunggu!" perintah Edward melalui ponselnya begitu mobilnya berjalan meninggalkan mansion Neville.


"Kita kemana boss?" tanya John.


"Kembali ke London!"


***


Mike menelpon Nabila untuk memberitahukan bahwa Yuna, Vivienne dan Brandon perjalanan ke Jakarta hari ini.


"Mereka naik apa, Mike?"


"Qatar Airways."


"Lho kok tumben nggak naik pesawat milik PRC group? Kan ada disana di bandara Manchester yang bisa dipakai kapan pun." Nabila tahu setiap Pratomo bersaudara memiliki pesawat pribadi masing-masing.


"Nabila sayangku, biarkan mereka naik pesawat komersil. Mungkin Vivienne memikirkan siapa tahu papanya butuh untuk urusan bisnis" ucap Mike.


"Baiklah. Alamat aku harus bawa rotan ini."


"Buat apa sayangku?" tanya Mike bingung.


"Mukul pan**tat Vivienne atau Brandon kalau mulai ribut."


Mike terbahak.


***


"Sudah ketemu Bram?" tanya Edward kepada Bram, kepala hacker MB.


"Sudah tuan. Mereka naik Qatar Airways jam 7.15 pagi tadi sampai di Soekarno-Hatta sekitar jam 8 pagi besok."


"Good! Thanks Bry."


"Kita ke Heathrow boss?" tanya John.


John hanya menghela nafas panjang. Maunya si boss apa sih? Tapi terserah lu aja deh!.


***


Pukul delapan pagi pesawat Qatar Airways pun tiba di Jakarta. Dari mereka bertiga, hanya Yuna yang tampak lebih segar, sedangkan Brandon dan Vivienne bermuka bantal.



"Sampe rumah, kalian tidur deh! Aku nggak tahan lihat muka bantal kalian!" kekeh Yuna.


"Ho oh!" sahut Vivienne.


"Aku baru saja ngabari Sean. Katanya Nabila mau jemput." Brandon memasukkan ponselnya.


"Hah, Alhamdulillah dijemput! Aku memang benar-benar butuh tidur!" keluh Vivienne.


Setelah urusan imigrasi selesai, ketiganya dengan membawa troli berisikan tas masing-masing, keluar dari pintu kedatangan.


"Haaaaiiii!" teriak Nabila diantara para penjemput.


Brandon dan Vivienne langsung heboh melihat kakak dan sahabatnya. Sontak keduanya memeluk Nabila yang nyaris terjatuh.


"Ya ampun Nabilaaaa! Aku kangen!" seru Brandon.


"Aku juga" senyum Nabila.


"Mbak, ayo pulang! Aku dah ngantuk!" Vivienne menyandarkan kepalanya di bahu Nabila.


Kalau orang tidak tahu umur aslinya Vivienne, dikira dia berusia 17-18 tahun padahal masih 13 tahun. Tubuhnya saja yang bongsor.


"Mbak Nabila sama siapa?" tanya Yuna sambil mendorong troli.


"Sama Rita, bodyguard ku. Ini mau pulang kemana? Mansionku atau mansion Oom Aryanto?" tanya Nabila.


"Mansion papa saja mbak. Soalnya kerjaanku disana."


"Okeh. Aku cuma ngedrop saja ya, soalnya aku ada jadwal operasi jam 12 siang."


"Ok!"


***


Edward menatap pemandangan awan dari jendela pesawat pribadinya. Dia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya bertindak seperti ini padahal dia tahu sedang mempertaruhkan kesayangannya.


She's not my type


She's not my type


Tapi aku penasaran dengan gadis itu.


"Aarrgghhh! Brengseeeekkkk!" umpatnya.


John yang sedang terlelap pun terbangun..


"Boss, are you okay?" tanyanya.


"Tidak John. Aku tidak baik-baik saja!" hardik Edward kesal.


Fix! Mobil Porsche boss bakalan jatuh ke tangan tuan muda!


Edward menatap MacBook di hadapannya yang berisikan semua laporan dari perusahaan namun tidak satupun yang dibaca bahkan dia seperti mengacuhkan.


John diam-diam mengirimkan pesan kepada Mike.


Tuan muda, boss mengejar nona Y ke JKT.


John hanya nyengir melihat jawaban tuan mudanya.


Hahahahahaha. 🤣🤣🤣.


***


Mike tertawa terbahak-bahak membaca pesan yang dikirimkan oleh John.


Sean yang masuk ke dalam ruang praktek Mike terbengong melihat kekasih sahabatnya tertawa dengan raut wajah bahagia.


"Kenapa kau Mike?" tanya Sean setelah duduk di depan meja kerja pria bermata biru itu.


"Baca ini!" Mike menunjukkan pesan yang dikirimkan John baru saja.


Sean pun langsung terbahak.


"Alamat Lambomu selamat bro" kekehnya.


"Tapi aku masih harus waspada Sean. Edward itu punya sejuta cara untuk bisa memutar balikkan suatu hal. Bahkan sesuatu yang tidak benar bisa dibuat benar."


"Semoga dia tidak melakukan apa-apa kepada Yuna. Aku tidak bisa kebayang bagaimana Edward bisa habis dihajar Nabila dan Vivienne."


Mike tersenyum smirk. "Kalau sampai kejadian, aku akan membiarkan Nabila dan Vivet menghajarnya."


***


Yuhuuu Up sore Yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️