
Setelah acara lamaran yang lebih nyeleneh dibandingkan waktu di ruang kantornya Adrian Pratomo, Edward menelpon papa Aryanto dan mama Rani mengabarkan bahwa Yuna mau menikah dengannya.
Lagi-lagi papa Aryanto memegang pelipisnya ketika tahu Edward melamarnya di dalam mobil dengan sangat-sangat tidak romantis.
"Untung anak Oom cuma satu yang cewek. Kalau ada lagi dan pasangannya sama gokilnya sama kamu, benar-benar membuat Oom bertambah ubannya."
Edward tertawa. "Demi Yuna mau menerima saya Oom."
"Jadi besok kalian ke Saqqara untuk mengantarkan Yuna berpamitan?"
"Iya Oom, setelahnya langsung ke Jakarta dan saya menghadap Oom dan Tante untuk melamar Yuna resmi."
"Baik. Oom tunggu kedatangan kalian. Apa ada lagi surprise darimu nak Edward?"
"Alhamdulillah saya sudah mualaf."
"Alhamdulillah. Apakah kamu sudah sunat?" kekeh papa Aryanto.
"Hah? Sunat? Apa itu Oom?"
Papa Aryanto terbersit ide menjahili calon menantunya. "Sunat itu adalah dipotong kau punya..."
"Stop Oom! Jangan diteruskan!" potong Edward bergidik.
Papa Aryanto tertawa terbahak-bahak.
***
Yuna tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan papanya ke Edward soal sunat. Keduanya kini berada di Revolving Restauran dekat dengan hotel untuk makan malam.
Edward pun manyun karena Yuna sendiri juga tidak membantu untuk meyakinkan papanya untuk membatalkan sunat.
"Ed, sunat itu adalah tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari kau punya bird dan kalau kau sudah memeluk agama Islam, itu wajib. Lagipula sunat juga bagus untuk kesehatan. Antara lain
Mengurangi risiko terjangkit penyakit menular se***ual beserta komplikasinya, seperti epididimitis dan orchiitis atau radang testis yang bisa menurunkan kesuburan. Mengurangi risiko terkena infeksi saluran kemih. Mencegah terjadinya fimosuis atau ketidakmampuan untuk menarik kembali kulit bird atau kulup.
Mencegah balanitis atau radang pada ujung kepala bird dan balanoposthitis atau radang pada kepala birddan kulup serta mengurangi risiko terjadinya kanker serviks pada pasangan wanita dan juga kanker bird."
*Sumber alodokter.com
"Sakit?" tanya Edward.
"Mana aku tahu Ed. Coba tanya bang Mike. Kan dia udah melakukan sunat kata mbak Nabila."
"Nanya sama Mike sama saja bikin aku tambah kesal!"
"Atau ke Bryan dan Jack."
Edward lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo Jack?"
***
"AAAPPAA? Aku harus menunggu 2-3 Minggu untuk pulih?" teriak Edward setelah mendapatkan penjelasan dari Jack.
"Banyak perawatan? Astaghfirullah!" seru Edward lagi.
Yuna menunggu Edward selesai menelpon Jack.
"Sayang, kalau aku nggak sunat gimana?" wajah Edward memelas.
"Nggak jadi nikah!" goda Yuna.
"Oh my God, Darling. Kau menyiksaku" keluh Edward. Yuna tertawa.
***
Kini di kamar tempat Yuna menginap, Edward pun ikut menginap bersama tunangannya. Seperti janjinya, Edward pun tidak berbuat macam-macam kepada Yuna dan kini keduanya duduk bersama di balkon kamar hotel yang bisa melihat sungai Nil di waktu malam.
"Kamu tahu sayang, ketika para pria klan McGregor mencintai para wanita asal Indonesia, aku hanya berpikir. 'Apa sih yang membuat tuan muda dan dua anak buahku memilih punya pasangan cewek Indonesia' eh ternyata aku kena karmanya."
"Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta padamu padahal aku tidak suka cewek dingin, jutek dan mulutnya pedas" kekeh Edward. "Kamu memiliki daya tarik tersendiri yang aku sendiri belum pernah bertemu wanita seperti mu."
"Apakah the power of Casanova Mr Edward mulai menghilang?" goda Yuna.
"Melihatmu, berbicara denganmu membuat semuanya hilang. Apalagi ketika aku mengetahui bahwa akulah yang pertama kali mencium bibirmu, membuat aku bertekad bahwa kau hanya milikku dan aku tidak rela ada pria lain yang mencium mu."
Yuna memandang wajah tampan yang dipenuhi brewok itu dengan tersenyum. "Posesif sekali dirimu Mr Edward."
"Hanya padamu aku bersikap posesif seperti ini."
Edward menggenggam tangan Yuna. "Aku bukan pria yang bersih sebelum bertemu dengan mu tapi aku akan selalu menjadi pria yang bersih bersamamu. Bersih dalam arti aku akan selalu menjadi suami yang baik, hanya dirimu yang ada dihati dan pikiranku dan aku tidak akan pernah mengkhianatimu."
Edward mencium tangan Yuna dan tanpa bicara pria itu mengeluarkan sebuah kotak, membukanya lalu memasangkan sebuah cincin berlian yang sempat tertunda dipasangnya pada saat lamaran nyeleneh yang pertama.
"Don't let it go kecuali kamu bikin adonan kue."
Yuna tertawa dan menangis bersamaan karena cincin itu ternyata pas di jari manisnya.
"Love you Yuna."
"Love you too Edward."
Edward mencium hidung mancung Yuna. "Akhirnya kudengar juga kalimat itu."
***
Pagi ini Yuna terbangun ketika mendengar suara adzan subuh di mesjid dekat hotel. Ketika hendak bangun, sebuah tangan kekar memeluknya dengan posesif.
Semalam memang Edward dan Yuna tidur bersama dalam satu tempat tidur tetapi tidur di arti sebenarnya. Yuna malah memasang barikade di tengah-tengah tempat tidur namun akhirnya entah kemana dan pagi ini pinggang rampingnya dipeluk oleh pria blonde itu.
"Ed, lepas dulu. Aku mau ke kamar mandi" bisik Yuna.
"Sebentar, enak banget posisi begini" gumam Edward dengan suara serak khas masih ngantuk.
"Kamu mau aku hajar pagi-pagi?" Yuna melirik tajam ke Edward yang malah menduselkan wajahnya di leher gadis itu.
"Kamu nggak bakalan berani melakukannya" kekeh Edward.
Yuna mencubit lengan Edward yang otomatis menjerit kesakitan, lalu menyikut pelan perut pria itu dan mendorongnya kuat-kuat yang membuat Edward nyaris terjatuh dari tempat tidur. Dengan cepat Yuna melompat dari kasur.
"Astagaaaaa Yunaaaa!" teriak Edward tapi yang bersangkutan sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Edward kemudian membenarkan posisi tubuhnya yang nyaris jatuh lalu memeluk bantal yang sebelumnya ditiduri Yuna dan mencium bau yang tertinggal disana, harum hair tonic dan shampoo khas gadis itu.
"Hhhmmm enaknya" ucapnya sambil tersenyum dan tak lama Edward pun terlelap kembali.
***
Setelah sarapan di hotel dan melakukan check out, Yuna dan Edward menuju Saqqara dan menemui ketua tim arkeologi untuk mengajukan pengunduran dirinya.
Sesampainya di Saqqara, Yuna dan Edward sama-sama tidak melihat James Arthur disana, bahkan gadis itu pun lebih mudah melakukan pengunduran dirinya karena sebenarnya dia hanya terlibat disana dua Minggu tapi perpanjang hingga satu bulan.
Selesai urusan Yuna dan mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal di tenda, keduanya pun menuju Cairo International Airport untuk terbang ke Jakarta menemui orang tua Yuna.
Sepanjang perjalanan, Edward tidak pernah melepaskan tangannya dari tangan Yuna seolah tidak mau kehilangan gadis itu.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️