
Edward mendengarkan cerita Yuna soal James. Ini kali pertamanya Yuna bercerita tentang dirinya dengan nyaman karena selama ini gadis itu selalu tertutup.
"Bodoh tuh orang!" umpat Edward. "Malam ini kita di Kairo saja. Kamu nginap dimana?"
"Four season."
"Aku akan menginap bersamamu."
Yuna mendelik. "Mr Edward Blair! Pesan sendiri kamarmu kenapa?"
"Look miss Yuna Indira, kita nggak bakalan ngapa-ngapain cuma tidur. Sebrengsek-brengseknya aku, tidak akan merusak gadis yang dicintainya." Edward memajukan tubuhnya. "Lagipula ini di Mesir, kita harus berjaga-jaga apalagi kamu cantik begini."
Yuna melongo. Kenapa ini orang jadi suka nakut-nakutin sih?
"Mr Edward."
"Yes miss Yuna."
"Anda sedang tidak dalam modus mode on kan?" Yuna memincingkan matanya kepada Edward.
"Modus? Absolutely yes!" cengir Edward. "Aduh!" Tulang kering Edward terkena tendangan Yuna.
"Dasar!" Yuna pun berdiri setelah menghabiskan makanannya. Edward pun langsung menggandeng tangan Yuna.
"Mau kemana kita?" tanya Edward.
"Museum Kairo!"
"Haaaahhhh? Museum lagi?"
***
Museum Mesir atau Museum Kairo adalah sebuah museum di Kairo, Mesir. Museum ini adalah rumah bagi koleksi antik bangsa Mesir kuno dan memiliki 120.000 koleksi.
Pemerintah Mesir mendirikan museum pada tahun 1835 di dekat Taman Ezbekeyah. Museum ini segera pindah ke Boulaq pada tahun 1858 karena bangunan aslinya terlalu kecil untuk menampung semua artefak. Pada tahun 1855 tak lama setelah artefak dipindahkan, Archduke Maximilian dari Austria diberi semua artefak. Dia menyewa seorang arsitek Prancis untuk merancang dan membangun sebuah museum baru untuk barang antik. Gedung baru itu akan dibangun di tepi Sungai Nil di Boulaq . Pada tahun 1878 setelah gedung museum selesai kemudian mengalami beberapa kerusakan kecil, banjir dari Sungai Nil menyebabkan barang antik selanjutnya direlokasi ke museum lain di Giza. Artefak tetap di Giza sampai 1902 ketika museum dipindah hingga saat ini di Tahrir Square.
Sumber Wikipedia
Edward dengan setia menemani Yuna yang asyik melihat-lihat artifak disana.
"Memang selama disini, kamu nggak sempet main sini apa?" tanya Edward.
Yuna menggeleng. "Begitu datang langsung ke Saqqara dan aku terlalu excited disana jadi tidur di tenda juga."
"Ya ampun kamu tuh. Kayaknya kalau bulan madu keliling dunia paling gampang ngajak kamu ke museum setiap negara ya" ucap Edward asal.
"Eh? Bulan madu?" Yuna menatap Edward.
"Iyalah. Kamu pikir aku tidak akan melamarmu lagi? Tentu saja aku akan melamar mu sampai kamu bilang 'I do' padaku." Edward mengetatkan pelukannya di pinggang Yuna.
"Hah?"
"Tapi tidak disini aku akan melamar mu...lagi. Kalau kamu sudah puas melihat-lihat museum, kita pulang."
Yuna tidak berbicara apapun lagi dan tetap berjalan memutari museum dengan tangan yang tetap digandeng Edward.
***
James Arthur berusaha mencari Yuna di Kairo dan menemukan informasi bahwa gadis itu berada di museum Kairo.
Sesampainya di depan pintu masuk, James akhirnya melihat Yuna sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang pria yang mengenakan topi baseball dan kacamata hitam. James pun datang menghampiri Yuna dan pria itu.
"Yuna!" panggil James.
Yuna dan Edward hanya memandang James dengan tatapan datar dan dingin.
"Iya. Dia orangnya."
James menatap kedua orang itu dengan perasaan bingung.
"Halo. Saya Edward Blair, tunangan Yuna Indira Pratomo." Edward mengulurkan tangannya ke James.
"Pratomo?" tanya James nyaris tergelak. "Kamu itu terlalu ngehalu."
Edward hanya tersenyum smirk dan menarik lagi tangannya yang sudah terulur.
"Dia tidak percaya, Darling" kekeh Edward.
"Biarkan saja kalau dia tidak percaya. Mari kita pergi, Sayang." Yuna menarik tangan Edward untuk meninggalkan James.
"Yuna, kamu terlalu berharap ketinggian" gelak James yang masih menganggap gadis itu berkhayal.
Yuna pun berbalik melepaskan genggamannya dari tangan Edward. "James Arthur, selama ini aku memang tidak pernah menceritakan siapa aku sebenarnya, siapa orangtuaku, siapa keluargaku. Kalau kamu masih tidak percaya, carilah web resmi PRC group, www.prcgroup.com.
Buka bagian about us, nantinya akan muncul siapa saja pemilik resmi PRC group atau buka our activities disana ada video acara lelang amal PRC group yang disponsori oleh kami, akan tampak siapa yang berdiri disana.
Jika kamu sudah tahu, aku harap kamu akan mengingat kata-kataku. 'Jangan pernah kamu meremehkan seseorang tanpa kamu ketahui kebenaran siapa dirinya'. Ohya, ini pertemuan kita yang terakhir karena aku akan mengundurkan diri besok, sebab aku akan menikah dengan pria yang kamu bilang masih bisnis ilegal tapi setidaknya dia lebih bisa bermartabat dibanding pria yang sebenarnya tidak memiliki apa-apa tapi merasa punya segalanya."
Yuna pun berbalik untuk menghampiri Edward yang masih setia menunggu lalu keduanya menuju mobil Range Rover hitam dan sopir yang sudah menunggu.
James hanya terbengong mendengar ucapan panjang lebar dari Yuna lalu membuka ponselnya dan mencari website milik PRC group. Betapa terkejutnya terdapat nama Yuna Indira Pratomo sebagai manajer bagian art. Dia lalu mencari kegiatan PRC group baru-baru ini dan tampak Yuna memimpin acara lelang amal beserta Aryanto Pratomo yang memperkenalkan Yuna sebagai putrinya.
Wajah James memucat karena secara langsung dia menghina terang-terangan perusahaan keluarga Yuna di depan salah satu pemilik saham sendiri.
Mati aku!
***
Edward menatap wajah cantik di sebelahnya yang sedang menikmati pemandangan di luar melalui kaca mobil.
"Lega bisa mengatai orang seperti itu?" tanya Edward sambil tersenyum.
"Lumayan. Aku memang hampir dua tahun ini berteman dengan James dan selama ini dia pria yang cerdas soal arkeologi namun ternyata cerdas teori tidak berbanding lurus dengan cerdas otak dan cerdas emosional."
Edward menggenggam tangan Yuna. "Apa benar kamu akan menikah denganku, Miss Yuna?"
Yuna menoleh. "Hah?"
Edward kemudian menangkup wajah cantik itu di kedua tangannya.
"Aku mendengarnya lho, katanya besok kamu akan mengundurkan diri karena akan menikah dengan pria yang masih berbisnis ilegal." Edward tertawa melihat wajah Yuna yang semula memucat lalu memerah karena malu.
"Will you marry me miss Yuna Indira Pratomo?" Edward memindahkan kedua tangannya untuk menggenggam kedua tangan Yuna.
"Ya ampun, sangat tidak romantis Mr Edward" kekeh Yuna. "Kita masih di mobil hanya mengenakan kaos putih tanpa lilin, bunga atau musik."
Edward tidak menjawab tapi tetap menatap Yuna dengan mesra.
Yuna menatap manik biru yang warnanya semakin biru akibat rasa cinta yang tampak disana.
"I will marry you Mr Edward Jonathan Blair."
"Alhamdulillah." Edward langsung mencium bibir Yuna tanpa memedulikan sopir di depan.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaakkk
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️