Love In Bet

Love In Bet
Astoge Edward!



Yuna hanya tersenyum sopan melihat tiga orang eh dua orang durjana disana. Duncan McGregor, Mike Cahill dan Edward Blair duduk dengan santainya di sofa sambil melihat dirinya.


"Na, kalau mau menghajar Mike, ijin sama mbakmu dulu" goda Adrian sambil tertawa.


"Aku tinggal request saja sama mbak Nabila minta dihajar model apa" ucap Yuna dingin yang membuat para pria disana tergelak.


"Resiko kamu menikah sama keluarga bar-bar, Son" kekeh Duncan.


Adrian mengajak Yuna duduk berseberangan dengan klan Gesrek itu.


"Maaf Oom Duncan. Oom manggil bang Mike apa? Son? Yakin artinya bukan sontoloyo?" ledek Yuna sarkasme.


"Hah?" Duncan melongo. "Bukannya Son maksudnya boy?"


"Dad, maksud Yuna beda lagi itu!" ucap Mike sambil membrowsing arti kata yang diucapkan adik iparnya. "Hah? Aku tukang angon eh penggembala bebek, Na?"


Adrian terbahak. "Arti aslinya memang itu tapi yang dimaksud Yuna itu plesetannya yang artinya brengsek."


Mike hanya tersenyum kecut. "Manut Wis!"


Adrian dan Yuna terbahak. "Dapat bahasa dari mana itu Mike?" tanya mertuanya.


"Nabila lah pa. Kalau kami berdebat dan biasanya dia sudah malas, pasti kalimat itu yang keluar."


"Astoge, bule bisa bahasa Jawa" gumam Yuna.


"Aku juga bisa bahasa Jawa, Na" sahut Edward sambil memandang Yuna.


"Yang nanya ke Anda siapa?" tanya Yuna dingin.


"Eh serius. Aku bisa bahasa Jawa." Edward tetap mode ngeyel.


"Apaan Ed?" tanya Adrian ke Edward. Namun Edward hanya berjalan menuju ke Yuna dan langsung berlutut di depannya dan membuka sebuah kotak kecil dan tampak sebuah cincin yang cantik disana.


"Yuna Indira Pratomo, aku tresno Karo Kowe. Will you marry me?" ucap Edward dengan yakin.


Yuna membelalakkan matanya. "AAAPPAA???"


***


Yuna berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Setelah adegan yang mendadak dan membuat Yuna kaget, bukannya menjawab, gadis itu langsung berdiri lalu meninggalkan ruangan Adrian Pratomo dan menutup pintunya dengan keras.


"Astaga bule satu itu!" ucap Yuna berulang.


"Lamaran model apa itu?"


"Sok yakin aku bakalan menerima!"


"Astaga! Astagaaaaa!"


***


Ruangan Kerja Adrian Pratomo


Adrian melongo setelah melihat adegan yang menurutnya saingan dengan film India nggak jelas itu.


"Astaga Ed! Kau langsung di auto tolak sama Yuna" kekeh Mike.


Edward berdiri dari posisi berlututnya. Ada rasa kecewa melihat gadis itu langsung meninggalkannya namun disisi lain dia juga sudah siap resiko tadi.


Duncan mengeplak kepala Edward.


"Kamu tuh! Jangan samakan Yuna dengan Nabila!"


Edward mengelus kepalanya yang lumayan dikeplak oleh bossnya.


"Mike dan Nabila memang kayak Tom and Jerry tapi saling sayang, lha kamu? Kamu tuh kayak Sanji dihajar Nami tahu nggak?" ucap Duncan.


Mike dan Edward melongo. "Dad, sejak kapan nonton One Piece?"


"Salahkan anaknya Tristan yang nonton itu ketika nyasar ke ruangan dad. Jadi nonton deh!" jawab Duncan cuek.


Mike menepok jidatnya sedangkan Adrian tertawa terbahak-bahak.


"D, kenapa kamu ikutan Gesrek seperti keluargaku?" kekeh Adrian.


"Anakmu itu yang membawa virus ke klan kami, Ad. Jadi semua bermula dari anakmu!" ucap Duncan sambil meresap kopinya.


***


Papa Aryanto dan mama Rani yang datang ke ruangan kakaknya, hanya bengong mendengar penjelasan Adrian Pratomo.


"Jadi kamu melamar Yuna?" tanya papa Aryanto memastikan lagi.


"Hah? Gimana?" tanya mama Rani. Adrian menjelaskan kepada adik iparnya yang membuat Mama Rani dan papa Aryanto tertawa terbahak-bahak.


"Kan Oom sudah bilang, Yuna bukan tipe seperti itu! Semakin kamu mengejar, semakin dia menjauh!" kekeh papa Aryanto yang terbayang wajah merah padam putrinya.


"Sekarang Yuna kemana?" tanya mama Rani.


"Entah, anakmu langsung keluar dan membanting pintu" kekeh Adrian santai.


"Jadwalnya sih dia mengurus hasil penjualan lelang kemarin karena dalam Minggu ini harus segera disalurkan semua uangnya kepada para kaum difabel" gumam papa Aryanto.


"Coba aku telpon Karen. Kan dia bekerja dengan Yuna pagi ini." Mama Rani pun menelpon Karen.


"Maaf Bu Rani tapi Bu Yuna tadi langsung pergi setelah marah-marah di ruangannya lalu keluar dan tidak tahu kemana." terdengar suara Karen yang sengaja di loud speaker oleh mama Rani.


Semua orang di sana saling berpandangan.


"Oke, makasih Karen."


"Sama-sama Bu." mama Rani mematikan panggilannya.


"Kabur lagi kan Ed!" goda Mike dengan wajah jahil.


Edward hanya terdiam. Kabur lagi kemana itu anak?


"Edward Blair, apakah kamu yakin mau menikahi Yuna?" tanya papa Aryanto.


"Yakin Oom."


"Apa bukan karena merasa bersalah dengan Yuna?" tanya mama Rani.


Edward terdiam.


"Jangan campur adukkan rasa bersalah dengan rasa yang kamu kira itu cinta, Ed." tegur Duncan.


"Benar Ed. Yakinkan dirimu sendiri dulu dan yakinkan Yuna bahwa dia memiliki perasaan yang sama. Apakah dia masih ada rasa denganmu atau sudah hilang setelah tahu tentang taruhan itu." Kali ini Adrian yang berbicara.


Edward hanya terdiam. Tapi Yuna berapa kali diam saja bahkan sempat membalas ciumanku. Tidak mungkin gadis polos itu tidak ada perasaan padaku karena dia tidak menolak juga.


"Bang Duncan dalam rangka apa kesini?" tanya papa Aryanto ke besan kakaknya.


"Ngeplak anak durjana yang bikin perkara sama ponakanku yang cantik."


Keluarga Pratomo hanya bisa tersenyum. Datang lagi Keluarga Gesrek di keluarga kami.


***


Yuna berada di sebuah Dojo Judo yang dulu adalah tempatnya berlatih. Setelah menyapa para orang yang dulu mengenalnya, Yuna mencari seseorang yang dia butuhkan sekarang ini.


"Sensei!" panggil Yuna kepada seorang pria berumur 40 tahun yang sedang mengajar.


"Yuna!" senyum pria yang dipanggil. "Tumben kemari. Ada apa?" Pria itu datang menghampiri Yuna.


"Aku butuh sparring partner. Butuh menyalurkan emosi."


Pria itu tertawa. "Pasti parah ini sampai bikin kamu pengen banting orang."


"Come on Sensei Rafael. Please?" Yuna mengerjap-kerjapkan matanya.



Pria bernama Rafael itu hanya tertawa. "Ya udah, ganti baju sana!"


"Yess! You're the best Raf sensei!" teriak Yuna yang bergegas menuju tempat ganti.


Rafael Costa adalah orang Brazil yang membuka Dojo Judo dimana Yuna berlatih disana sejak usia sepuluh tahun. Hubungan keduanya bagaikan kakak dan adik. Rafael sudah menikah dengan wanita Indonesia bernama Shinta dan memiliki seorang putra bernama Rolland. Shinta pun mengenal Yuna dan menganggap gadis itu sebagai adiknya.


Di kamar ganti, Yuna seolah mendapatkan semangatnya lagi agar bisa menyalurkan emosinya agar bisa kembali berpikir rasional dan bekerja seperti biasa tanpa memikirkan lamaran tadi pagi.


***


Yuhuuu Up pagi Yaaaa


Thank you for reading and your support


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


*insyaallah siang nanti lagi kalo Eike khilaf*