
"Halo Yuna."
Suara itu.
Yuna berbalik. Tampak Edward berdiri bersandar di kaca jendela.
"Mr Edward." Yuna terkejut melihat Edward berada disana dengan wajah lebih brewokan namun tidak mengurangi ketampanannya.
"Apa kabar Yuna" tanya Edward tanpa mendekati nya.
"Alhamdulillah baik." Harus jawab apa lagi kan selain itu. "Mr Edward bagaimana?"
"Tidak baik."
Yuna memundurkan langkahnya dan memutuskan duduk di sebuah kursi disana menjauhi Edward.
"Apa ada masalah di perusahaan?" tanya Yuna basa basi.
"Tidak. Perusahaan baik-baik saja." Edward melangkah pelan menuju tempat Yuna duduk namun tetap ada jarak diantara mereka.
"Syukurlah."
Edward menatap dandanan Yuna yang chic. "Kamu semakin cantik."
Yuna hanya tersenyum tipis. "Terimakasih."
"Bisakah kamu tidak formal kepadaku?"
"Maaf tidak bisa."
Edward tersenyum smirk. Gadis ini memang antik. Edward semakin mendekati Yuna, lalu berlutut di depan gadis yang sedang duduk itu.
"I'm sorry. I'm really sorry kamu harus merasakan bahwa kejadian kita berdua itu kesalahan tapi menurutku itu bukan suatu kesalahan. That was something beautiful."
"Berciuman dengan mantan itu something beautiful?" tanya Yuna sarkasme.
Edward tertawa kecil. "Kalau itu big mistake."
"Hhhmmm." Wajah Yuna tampak datar.
"Kamu tidak bertanya kenapa tidak ikut makan malam dengan kalian?"
"Penting kah?"
Edward terbahak. "Penting bagiku, darling."
Yuna menaikkan salah satu alisnya. "Darling?"
"Kenapa? Tidak suka?"
"Bukannya kalian selalu mengucapkan kata 'darling' atau 'babe' seperti kita disini 'say' atau 'cinta' kepada teman atau keluarga?"
Edward hanya melongo mendengarkan penjelasan Yuna. Padahal aku serius manggil dia darling.
"Tidak selalu, Yuna."
"Hhhmmm. Baiklah."
Edward gemas dengan Yuna yang dingin dan datar seperti ini.
"Benar kamu tidak mau bertanya kenapa aku tidak ikut makan malam dengan kalian?"
Yuna menggeleng. "Bukan hal yang penting buat saya."
"Karena aku tidak mau mengganggu kalian, tidak mau membuatmu tidak nyaman."
"Oh."
Edward tergelak. "Hanya 'oh' saja?"
"Haruskah saya bilang 'wow gitu'?"
Edward mendekatkan wajahnya ke Yuna. "Kamu menggemaskan."
"Anda maju lebih dekat lagi, jangan salahkan jika wajah anda besok bengkak."
Edward tersenyum smirk. "Kamu tidak mungkin berani melakukannya." sembari semakin dekat ke bibir Yuna.
BUGH!
Edward terjatuh dan memegangi pipi kirinya. "For God's sake! Yuna!"
Yuna tersenyum dingin. "Kan saya sudah memperingatkan anda, Mr Edward. Jadi jangan salahkan saya." Gadis itu pun berdiri meninggalkan Edward yang masih jatuh terduduk di teras belakang.
Stephen yang mendengar suara teriakan Edward segera menuju halaman belakang dan melihat kakaknya jatuh terduduk sedangkan Yuna berjalan santai masuk ke dalam rumah.
"Apa yang terjadi?" tanya Stephen.
"Saya hanya menghajar orang yang ngeyel" ucap Yuna meninggalkan Stephen.
Stephen menghampiri Edward yang masih mengusap-usap pipinya yang mulai tampak membiru. Sontak pria berambut coklat itu tertawa terbahak-bahak.
"Kau kena tinju bro? Sama Yuna?" gelaknya.
"Shut up! Bantu aku berdiri!"
Stephen pun membantu Edward untuk bangun meskipun masih dengan tawa tertahan.
"Baru kali ini, pemimpin MB Ent ditonjok oleh seorang gadis kurus!" gelak Stephen. "Harusnya kubuat viral!."
Aku akan lihat di kamera CCTV tersembunyi dan kukirimkan ke tuan Mike dan tuan Duncan.
***
Diana yang baru datang dari rumah sakit pada jam hampir tengah malam, bingung melihat kakak iparnya memegang kantong buncis beku yang ditempelkan di pipi kirinya duduk di sofa tengah.
"Kenapa mas?" tanya Diana kepada suaminya.
"Kena tonjok tuh si Casanova. Heran aku, langsung hilang jiwa Casanova nya kalau bertemu gadis satu itu."
"Hah? Maksudnya gimana?"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi di halaman belakang, tahu-tahu kakakku satu ini sudah terkapar memegangi pipinya dan Yuna pun berjalan masuk ke rumah tanpa mengatakan apa-apa."
Diana hanya menghela nafas panjang.
"Aku lihat dulu mas pipinya" bujuk Diana ke Edward.
Edward membuka kantong buncis beku itu dan tampaklah pipi pria berambut pirang itu mulai membiru.
"Seberapa kuat Yuna memukulnya?" tanya Diana sembari membuka tas dokternya untuk mengambil salep pereda memar.
"Tampaknya sangat kuat!" sahut Stephen sambil nyengir.
"Keluarga Pratomo memang bar-bar" kekeh Diana.
"Memang kapan kamu bertemu dengan keluarga Pratomo yang lain?" tanya Stephen.
"Minggu lalu aku berada di rumah sakit tempat mbak Nabila bekerja karena ada join tindakan. Disana aku melihat bagaimana mbak Nabila menghajar seorang anak yang mencekik ibunya sendiri karena sang ibu terlalu membebani biaya rumah sakitnya."
Stephen ikut duduk di sebelah Edward.
"Bagaimana bisa rumah sakit hampir kecolongan akan hal itu?" tanya Edward.
"Kan setahu suster memang masih jam besuk dan suster tidak terlalu memperhatikan CCTV kamar. Mbak Nabila ternyata waktunya visite pasien dan melihat kejadian itu. Tanpa basa basi, dia langsung membanting anak durhaka itu dan mencekiknya" papar Diana sembari mengoleskan salep di pipi Edward.
"Nabila mencekiknya?" Edward dan Stephen melongo.
"Hu um. Karena dia pengen kasih tahu ini rasanya dicekik hampir mati." Diana kemudian menutup salepnya.
"Astaga."
"Tenang, dia nggak mati kok!" kekeh Diana. "Cuma mbak Nabila kena tuntut dari anak itu tapi kesaksian si ibu memberatkan anaknya ditambah bukti dari CCTV. Akhirnya mbak Nabila lolos deh."
"Astaga! Bro, yakin kamu tabah menghadapi keluarga bar-bar?" Stephen menatap Edward.
"Mike saja betah, kenapa aku nggak?" sahut Edward kalem.
"Biarpun wajahmu biru-biru begitu?"
"Yup."
***
Kedua pasangan itu duduk berhadapan di meja makan dengan Stephen dan Diana bersebrangan dengan Edward dan Yuna.
Yuna hanya melirik pipi kiri Edward yang mulai bewarna ungu. Merasa dilirik oleh Yuna, Edward hanya menoleh sambil tersenyum.
"Sudah diobati Diana kok. Nggak papa, besok sudah hilang memarnya."
Yuna hanya mengangguk. "Maaf" bisiknya.
Edward tertegun. "Apa Yuna?"
"Maaf memukul Anda lagi."
Klontang!
Suara sendok dan garpu terjatuh di piring Stephen dan Diana.
"Lagi? Lagi?" seru Stephen.
Diana langsung memegang pelipisnya.
"Iya, ini kedua kalinya aku dipukul oleh Yuna" jawab Edward kalem.
"Astaga!" bisik Diana tidak percaya.
"Apakah sekeras semalam pukulanmu Na?" tanya Stephen.
"Sekitar itu" jawab Yuna yang langsung membuat Diana dan Stephen tertawa.
"Wah kacau! Bro, sekarang aku tahu kenapa kamu bisa tabah karena kamu baru kali ini bertemu dengan wanita yang berbeda dengan selama ini hanya bisa menampilkan tubuh tapi tidak otak." Stephen menatap Yuna. "You're so unlimited edition."
Yuna tertawa. "Kamu kira aku mobil apa dibilang unlimited edition?"
Mobil? Porsche ku apa kabar?
***
Yuhuuu Up siang yaaaa
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️