Love In Bet

Love In Bet
What Have You Done?



Hati Edward panas juga kena ledekan adiknya ditambah hatinya masih kesal mengingat Omelan Brandon dan Vivienne tempo hari.


"Udah bro. Kau lihat Yuna itu berbeda dengan cewek-cewek yang pernah dekat denganmu. She's limited edition. Kejar dia kalau memang kamu tertarik padanya!" Stephen tetap mengompori kakaknya.


Edward akhirnya jengah juga lalu meninggalkan Stephen mencari Yuna. Pria itu akhirnya menemukan gadis yang dicarinya berada di pojok tempat es krim bersama dengan Diana.


"Di, kamu dicari Stephen" ucap Edward dingin.


"Oh? Baiklah, aku ke tempat Stephen dulu. Titip Yuna ya mas." Diana pun berjalan meninggalkan Yuna dan Edward yang berdiri berdampingan.


"Aku mau bicara denganmu, pribadi" bisik Edward.


"Bisakah nanti Mr Edward? Masih ada..."


"Nona Yuna!" sebuah suara membuat Yuna menghentikan ucapannya.


"Tuan Aji, nyonya Tiar" sapa Yuna ramah kepada pasangan manula yang masih tampak energik.


"Wah, Aryanto memang pintar mendidik putrinya. Aku senang tadi acara lelang, bagus-bagus lukisannya membuat aku tidak sayang keluar uang apalagi untuk amal juga" ucap Nyonya Tiar.


"Saya berterima kasih tadi nyonya Tiar membeli tiga lukisan dengan harga yang sangat bagus" sahut Yuna ramah.


"Yuna, panggil aunty saja. Kalau nyonya malah nggak enak di telinga ini" gurau nyonya Tiar.


"Baik aunty" jawab Yuna dengan tersenyum manis.


"Maaf saya ngobrol dulu sama Yuna ya Mister...?" nyonya Tiar menatap Edward yang masih berada di sebelah Yuna.


"Blair. Edward Blair" jawab Edward.


"Anda apanya Stephen Blair?" tanya tuan Aji yang merupakan suami nyonya Tiar.


"Saya kakaknya."


Tuan Aji lalu mendekati Edward. "Apakah anda juga pengacara?"


"No Sir. Saya pengusaha restauran di Inggris dan Skotlandia."


Setelahnya Tuan Aji dan Edward terlibat pembicaraan tentang bisnis walaupun melalui sudut matanya Edward tetap mengawasi Yuna yang masih ngobrol dengan nyonya Tiar.


"Yuna, aunty senang bisa ketemu kamu. Soalnya selama ini seringnya ketemu dengan Aryanto dan Rani."


"Iya aunty, saya lebih sering jalan-jalan keliling dunia menjadi kurator" jawab Yuna.


"Kamu masih single kan?" goda nyonya Tiar.


"Sampai detik ini, masih sih" kekeh Yuna.


"Pria bule tadi apanya kamu?" tanya nyonya Tiar kepo.


"Oh Mr Edward itu salah satu klien saya. Kami berkenalan karena sebuah lukisan milik Edgar Degas."


"Sayang, bagaimana kalau besok Senin kita makan siang bareng. Aunty pengen ngobrol banyak sama kamu."


"Saya cek jadwal saya dulu aunty" Yuna mengeluarkan ponselnya mencari agenda. "Besok Senin saya ada kosong jam 12 sampai 2 siang."


"Bagus. Kita lunch di RR's meal ya."


"Baik aunty."


"Aunty jemput ke kantor papamu atau gimana?"


"Nggak usah aunty, saya kesana sendiri saja."


"Aunty tunggu ya neng geulis" senyum nyonya Tiar.


"Baik aunty."


"Wanita itu mau apa sama kamu?" tanya Edward kepo.


"Besok Senin mengajakku makan siang" jawab Yuna apa adanya.


Entah kenapa Edward tidak suka mendengar Yuna hendak makan siang dengan nyonya Tiar.


"Mr Edward ada perlu apa dengan saya?" tanya Yuna sembari menatap Edward dengan wajah bertanya.


Tanpa basa basi, Edward menarik tangan kiri Yuna dan membawanya menuju ke sebuah ruangan kecil yang dekat dengan tempat peralatan IT dan pengatur layar proyektor disaat lelang tadi. Tidak ada orang disana karena semua orang sedang mengisi perut.


Yuna yang langkahnya tadi kesulitan karena gaunnya ditambah rasa terkejutnya ditarik oleh Edward dengan kasar, membuatnya hendak meninju Edward namun tangan kanannya ditahan pria bermata biru itu. Kini kedua tangannya ditahan oleh Edward.


"Mr Edward! Apa yang anda lakukan?" desis Yuna yang tidak berani bersuara keras karena pasti akan terdengar banyak orang.


Mereka berdua terhalang sebuah layar hitam dan yang tampak hanyalah kedua kaki mereka.


Edward tidak menjawab namun mendorong Yuna hingga ke dinding membuat gadis itu terjepit diantara pria itu dan dinding dingin yang terasa di punggungnya yang mulus karena hari ini dia mengenakan gaun pesta yang sedikit terbuka.


Yuna menatap Edward yang pandangan matanya berubah menjadi sayu setelah tadi seperti menahan kesal. Netra coklatnya memindai wajah Edward yang tampan dengan sedikit brewok di rahangnya. Yuna tidak suka pria memiliki rambut halus di rahangnya namun Edward tampak pantas dengan gaya seperti itu.


Semakin Edward dekat dengan dirinya, semakin Yuna bisa mencium aroma maskulin musk dan kayu manis yang membuatnya agak pusing. Baru kali ini Yuna berdekatan dengan pria secara intimate karena selama ini, dia selalu menjaga dirinya.


Edward sendiri baru kali ini merasakan harum Jasmine lembut yang membuatnya mabuk kepayang. Wajah Yuna yang cantik dan dia melihat sendiri bagaimana gadis itu menjadi tuan rumah untuk acara papanya, dengan luwesnya menemui semua kolega papanya membuat Edward semakin kagum.


Keduanya masih dalam posisi saling berdekatan hanya dihalangi kedua tangan Yuna yang ditahan oleh tangan Edward di dada gadis itu.


Ternyata badan kurus begitu, dua aset depan dan belakang gadis ini sangat bagus.


Sebagai seorang Casanova, Edward tahu mana yang asli dan mana yang berisikan silikon dan semua milik Yuna asli.


"Mr Edward" suara Yuna terdengar lirih.


"Jangan bicara apapun, Yuna" bisik Edward yang kemudian menempelkan dahinya ke dahi Yuna.


Yuna bisa mencium harum mint dari nafas Edward. Jantung gadis itu berdetak sangat keras dan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Meskipun ruangan ini ber AC, tapi baik Yuna dan Edward terasa panas.


"Damn it Yuna! Aku nggak tahan lagi!" umpat Edward lalu menyatukan bibirnya ke bibir merah Yuna.


Gadis itu terkejut atas penyatuan bibir mereka. Bukan hanya ini adalah ciuman pertamanya, tapi juga pria yang mengambilnya adalah orang yang berusaha dia hindari.


Edward tahu gadis ini belum pernah berciuman dan hanya menutup bibirnya.


"Buka bibirmu Yuna" bisiknya parau dan kemudian dengan lidahnya, Edward berhasil membuka mulut gadis itu dan **********.


Yuna yang terkejut ingin menendang Edward tiba-tiba menjadi lemas setelah merasakan sensasi dari lidah Edward yang bermain di dalam mulutnya. Kedua tangan Edward melepaskan tangan Yuna berpindah untuk memegang wajah gadis yang masih dipagutnya. Tangan Yuna tampak gemetar dan mencengkeram kerah jas Edward.


Entah berapa lama keduanya berciuman hingga akhirnya suara MC membuat mereka tersentak. Nafas keduanya memburu, rambut Yuna dan Edward sama-sama berantakan.


Wajah Yuna memerah dan Edward memeluk gadis itu yang menyembunyikan wajahnya di dada pria tampan tersebut.


Edward sendiri belum pernah merasakan sensasi seperti ini meskipun dia sudah banyak pengalaman dengan wanita.


"Shiiiittt Yuna! What have you done to me!" bisik Edward parau.


***


Yuhuuu Up pagi Yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️