Love In Bet

Love In Bet
Galau Gak Jelas



"Apa yang hendak kamu lakukan Ed? Mau Mencium Yuna dari belakang? Apa kamu sudah bosan hidup?" cecar Brandon kepada Edward.


"Aku tidak hendak mencium Yuna!" bantah Edward.


"Look! I'm not an idiot! Aku tahu tanda-tanda orang mau melakukan itu karena aku sudah menikah Ed! Sean selalu begitu jika dia rindu padaku!"


Edward menahan diri untuk tidak menghajar pria culun itu.


"Kalau kamu memang suka sama Yuna, lepaskan Porsche mu!"


Mata biru Edward membola, seketika dia teringat dengan Porsche nya.


"Jangan sekali-kali kamu memberikan harapan palsu kalau kamu masih ingin hidup!" ancam Brandon. "Karena bukan Mike yang akan menghabisi mu, tetapi Nabila!"


***


Edward melampiaskan emosinya di gym hotel Mulia. Hatinya benar-benar kesal. Tepatnya lebih kesal pada dirinya sendiri yang tidak tahu perasaannya yang jelas kemana. Satu sisi dia mulai tertarik dengan Yuna, sisi lain dia tidak mau kalah taruhan karena bakal menjadi bulan-bulanan Duncan dan Mike.



John dengan setia menunggu bossnya yang tadi keluar ballroom dengan wajah kusut dan memintanya membelikan baju olahraga.


Diam-diam dia mengirimkan pesan kepada tuan mudanya.


Tuan, boss tampaknya habis berantem.


***


Mike hanya tertawa membaca pesan dari John. Dia sudah tahu soal Edward karena Brandon langsung menelpon Sean dan menceritakan kejadiannya.


Sembari masih tersenyum, Mike menelpon ayahnya.


"Halo Mike."


"Halo Dad. Sibuk?"


"Tidak terlalu. Ada apa son? Apa terjadi sesuatu pada Nabila?"


Mike mendengus kasar. Ayahnya terlalu menyayangi calon menantunya dibanding anaknya sendiri.


"Nabila baik-baik saja Dad. Ini tentang Edward."


"Tampaknya menarik."


"Sangat!" ucap Mike yang lalu menceritakan apa yang terjadi selama Edward di Jakarta.


"Biarkan Edward memantapkan hatinya, Mike. Tapi jika dia mempermainkan Yuna, bukan hanya Nabila yang berhak menghajarnya, tapi Dad juga!"


"Aku serahkan pada Dad kalau Edward berani macam-macam."


"Don't worry about that!" ucap Duncan McGregor.


***


Hari Sabtu ini menjadi hari yang sibuk bagi Yuna dan timnya di PRC group milik Aryanto Pratomo. Banyaknya tamu kelas VVIP datang, membuat Yuna harus bekerja lebih keras untuk membuat para kolega papanya puas dengan kinerja PRC group.


Vivienne dan Brandon tampak serasi. Vivienne mengenakan gaun merah sederhana, sedangkan Brandon mengenakan jas warna gelap.



Keduanya pun turun dari mobil milik Aryanto Pratomo lalu masuk bersama ke hotel Mulia. Para pihak pers yang mengetahui kalau Vivienne salah satu anggota keluarga Pratomo, sontak memburu gadis bule bermata biru itu. Kebanyakan mengira Brandon adalah kekasihnya namun Vivienne mengatakan pria itu adalah kakak angkatnya.


Stephen dan Diana pun datang bersama dengan Edward dan John. Keempatnya datang menggunakan Range Rover milik Stephen.


Di dalam ballroom, Stephen dan Diana bertemu dengan beberapa kolega sampai mereka melihat seorang gadis cantik yang dengan luwesnya bercakap-cakap dengan banyak orang penting disana.


"Tampaknya itu yang namanya Yuna Pratomo" bisik Stephen.


"Darimana kau tahu?" balas Diana.


"Coba lihat Edward. Dia terbengong melihat gadis itu."


Diana menoleh dan melihat kakak iparnya menatap gadis cantik itu nyaris tanpa berkedip. Sampai gadis itu menghampiri Stephen dan Diana.


"Selamat siang. Selamat datang di acara charity auction. Saya Yuna Pratomo" sapa Yuna ramah.



"Selamat siang nona Yuna, saya Stephen Blair dan ini istri saya Diana." Stephen menyambut uluran tangan Yuna begitu juga dengan Diana.


"Kalau pria yang ada di sebelah kami tampaknya tidak harus diperkenalkan lagi ya" kekeh Stephen yang mendapatkan tatapan tajam dari Edward.


Diana mengakui bahwa Yuna Pratomo memang cantik jadi tidak heran kakak iparnya sampai terkesima seperti itu.


"Mari silahkan duduk di kursi yang sudah kami persiapkan sesuai dengan nomor undangan anda."


"Anda tidak masuk, Mr Edward?"


"You're so beautiful" bisik Edward.


"Excuse me?" tanya Yuna.


"Ah tidak. Saya akan masuk sekarang." Edward pun berjalan masuk ke dalam ballroom setelah undangannya discan oleh pihak security.


Yuna hanya mengedikkan bahunya lalu menyambut para tamu yang datang.


***


Acara lelang siang menjelang sore ini berjalan lancar dengan pendapatan yang diluar ekspektasi Yuna. Para tamu undangan tampak tidak sayang membeli lukisan-lukisan itu dengan harga diatas penilaian Yuna. Vivienne sendiri membeli dua lukisan yang salah satunya memang sudah dia incar meskipun harus bersaing dengan seorang ibu-ibu berdandan menor.


"Aduh, uang jajanku berkurang deh!" keluh Vivienne setelah membayar lukisan yang sudah dibelinya.


"Tinggal minta Oom Alex kan gampang. Buat amal juga" goda Brandon yang sore itu membeli sebuah lukisan juga.


"Hu um. Nanti aku minta dobel" cengirnya tanpa bersalah.


"Dasar rampok!" umpat Brandon sembari tertawa.


"Punya orang tua kaya itu harus dimanfaatkan."


Keduanya pun menikmati acara makan yang sudah disediakan oleh panitia.


***


Edward mencari-cari gadis berambut coklat mengenakan gaun putih yang setiap saat menghantui dirinya. Wajahnya yang datar setiap menatapnya membuat Edward bingung atas perasaan dirinya dan perasaan gadis itu. Tampak Yuna tidak terlalu berkesan mau bagaimana penampilannya.


Gadis itu memang susah didekati!


Stephen mendekati Edward yang masih memegang minuman.


"Mencari Yuna?" tanya adiknya.


Edward hanya diam saja dan meminum cocktail nya.


"Dia sedang ngobrol dengan Diana."


Edward menoleh ke arah Stephen.


"Bro, dia wanita yang luar biasa. Kamu dan aku sama, sama-sama menyukai wanita mandiri dan kuat. Sama-sama suka wanita berambut panjang meskipun aku tahu seleramu dulu wanita berambut pirang."


Edward hanya mendengus kasar. "Aku sudah lama tidak bersama dengan perempuan. Semenjak Voldemort memintaku untuk shettle down dari para mantan ku, aku menjauhi berdekatan dengan wanita manapun."


"Kecuali Yuna" ucap Stephen.


"Kecuali... Damn it Steve! Kamu mencoba menjebakku!" umpat Edward.


Stephen terbahak. "Tampaknya kamu jatuh cinta serius ini bro."


Edward tertegun. Jatuh cinta? Really?


***


Yuna dan Diana menikmati acara lelang dan Yuna berterimakasih atas pembelian dua buah lukisan oleh Stephen dengan harga tinggi.


"Aku menyukai lukisan abstrak itu Na, makanya aku merayu Stephen untuk membelinya" ucap Diana.


"Terimakasih. Kami sangat berterima kasih atas amal kalian buat para penderita difabel dan sumbangan kalian sangat berarti bagi mereka." Yuna tersenyum kepada Diana.


"Sekarang aku tahu kenapa kakak iparku galau."


"Maksudnya gimana?"


"Apakah kamu tahu kalau kakak iparku sebenarnya sudah jatuh cinta padamu tapi tidak mau mengakuinya?" ucap Diana lugas.


Yuna hanya terpana mendengar ucapan Diana.


"Tidak mungkin!"


***


Yuhuuu Up malam Yaaaa


Besok di lanjutkan lagi


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️