
"What?" Edward menatap Yuna tidak percaya.
"Jangan pernah muncul di hadapan saya lagi" ulang Yuna dengan wajah datar.
Edward mengusap wajahnya kasar lalu dia mendorong Yuna hingga menempel di dinding lift dan mengungkungnya.
"Anything but that!" desisnya menatap Yuna dengan wajah frustasi.
"Mr Blair..."
"Edward!"
"Mr Edward. Tolong singkirkan tubuh anda dari saya."
"Kalau aku tidak mau?"
"Anda saya hajar lagi." Yuna menatap tajam Edward.
"Aku tidak peduli kamu hajar berapa kali asalkan kamu memberikan maaf untukku" bisik Edward.
Yuna menatap wajah Edward dengan tatapan tak pervaya. Sebegitu relanya kah demi kata maaf dariku?
"Baik. Saya maafkan anda" ucap Yuna.
Edward tidak percaya mendengarnya. "Really?"
"Iya. Saya memaafkan anda. Jadi sekarang tolong singkirkan tubuh anda dari hadapan saya."
Edward pun menjauh dari Yuna lalu keduanya berdiri bersisian hingga lift pun terbuka di lantai 28, Yuna pun keluar dengan cepat sedangkan Edward lagi-lagi tidak bisa menarik Yuna karena ada beberapa tamu masuk ke dalam lift.
Once again I lost her.
***
Yuna berlari ke pojok dekat tangga darurat dan disana dia menetralisir nafasnya yang memburu.
Ya Allah... Kenapa ini jantungku? Kenapa aku nggak bisa membencinya seperti yang aku harapkan. Kenapa nggak semudah aku membuang seperti yang kulakukan kepada yang lain? Apa aku sudah jatuh cinta dengan Casanova brengsek itu? Haduh, haduh... Jangan. Bisa sesuai omongan mama, Ojo dumeh mengko tresno.
Sekitar sepuluh menit dia berada disana sampai papanya menelpon.
"Sayang, kamu dimana? Kok di kamar nggak ada?" tanya sang papa.
"Aku perjalanan pulang pa, tadi ke PS beli baju ganti."
"Ya sudah, segera kesini."
"Baik pa."
***
Yuna tiba di kamar papanya yang membuka dengan kunci cadangan dari pihak hotel karena Yuna membawa card key nya. Setelah mengetuk, dia membuka pintu kamar dan tampak kedua orangtuanya sedang asyik makan beberapa pastry sisa dari acara lelang di sofa.
"Kamu pulang tadi Na?" tanya sang mama.
"Nggak ma, tadi aku ke PS beli baju ganti. Gerah pake gaun." Yuna duduk di sebelah mamanya.
"Sama Edward ke PS?" tanya papanya.
Yuna tidak terkejut papanya tahu dia sama siapa tadi karena beberapa panitia lelang adalah pegawai PRC group yang sedang ada di lobby.
"Edward yang memakasa ikut" jawab Yuna apa adanya.
"Kenapa pakai ojek online? Kan sopir papa ada, sayang."
Yuna mencomot brownies kecil dan melahapnya. "Repot nunggu mobil keluar dari parkiran jadi pesan sajalah. Yuna kan ga suka ribet."
"Iya kamu ga suka ribet, tapi hubungan kamu sama Edward itu ribet" kekeh papa Aryanto.
"Astaga papa!" seru Yuna. "Apa maksud papa?"
"Kalian sudah baikan?" selidik papa Aryanto.
"Baikan dari Monas! Orang reseh itu ngejar Yuna melulu! Capek Yuna!"
"Kalau capek, istirahat dalam arti kamu ikuti maunya dia apa."
Yuna melongo. "Jangan bilang papa memberikan maaf dan lampu hijau buat bule brengsek itu?"
Papa Aryanto dan mama Rani hanya tersenyum.
"Edward sudah bertemu dengan papa dan dia meminta maaf. Dia juga mengatakan bahwa dia menyesal membuat taruhan seperti itu."
"Kapan dia bertemu papa?" tanya Yuna kesal.
"Dua hari sebelum lelang."
Duasar Casanova satu itu! Langsung gercep nemuin papa!
"Dia nggak bilang apa-apa kan pa?"
"Baguslah! Biar tahu rasa!"
Papa Aryanto dan mama Rani hanya tersenyum melihat anak gadisnya marah.
Sayang, kamu marah tapi matamu sendu. Mama tahu sebenarnya kamu suka sama Edward tapi lebih besar kecewanya. Benar-benar Edward harus kerja keras mengembalikan perasaan Yuna.
***
Edward mondar mandir di dalam kamarnya. Dia benar-benar tidak bisa tidur padahal jam tangannya sudah menunjukkan pukul satu malam.
"Brengsek Yuna! Gara-gara tadi memeluk dan mencium aroma tubuhnya bikin aku nggak bisa tidur!" omel Edward.
Edward pun mengambil minuman di kulkas dan menemukan sebuah bir disana yang langsung dibukanya. Segera habis separuh dalam sekejap.
Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya.
Oom Aryanto?
Edward membuka pesan yang diberikan oleh papa Yuna itu. Ternyata link yang diberikan rekaman video Yuna menyanyi saat acara lelang tadi.
Suaramu kalau menyanyi ternyata serak-serak gimana gitu. Apa kalau berc**inta? Pasti seksih sekali...
Wajah Edward memerah. Bisa-bisanya berpikir seperti itu sekarang?
"Haaaahhhh nampaknya aku harus mandi air dingin malam-malam untuk mendinginkan otakku!"
***
Yuna sudah bersiap untuk ke kantor papanya guna membereskan semua hasil lelang kemarin. Papanya menyerahkan semua urusannya kepada putrinya setelah pengalaman kemarin yang membuat semua orang puas dengan kinerjanya.
Mengendarai mini Cooper merahnya, Yuna berangkat sendirian ke kantor karena papa dan mamanya masih ingin beristirahat di hotel Mulia, jadi semalam dia pulang bersama dengan sopir papanya ke mansion.
Sesampainya di kantor PRC group, Yuna tertegun melihat mobil pakdhenya sudah ada di tempat parkir khusus CEO yang biasanya kosong. Di perusahaan memang tersedia tempat parkir khusus Pakdhe Adrian, papanya dan dua parkir milik keluarga Pratomo yang bisa dipakai siapa saja asal masih Keluarga.
Tumben pakdhe Adrian ada di kantor.
Yuna pun berjalan menuju lift dan memencet lantai ruangannya. Ketika dia keluar, tampak Karen sudah menunggunya.
"Selamat pagi Bu Yuna" sapa Karen.
"Selamat pagi, Karen. Ada apa pagi-pagi sudah menunggu saya di depan lift" kekeh Yuna.
"Hahahaha, ibu bisa saja. Saya menjemput ibu untuk bertemu dengan bapak Adrian. Beliau sudah menunggu di ruangannya."
Yuna terkejut mendengar pakdhenya sudah menunggu.
"Baiklah, kita ke ruangan pak Adrian."
Kedua wanita itu pun kembali masuk lift dan menuju ke lantai tempat ruang kerja Adrian Pratomo.
***
Sasha, sekretaris Adrian Pratomo, melihat Yuna dan Karen keluar dari lift langsung tersenyum.
"Aih, kalian tuh kalau nggak ada urusan kesini, mana mau tengok aku" kekeh Sasha yang memang dikenal ceria.
"Lha kan urusannya beda mbak Sasha" ucap Karen.
"Bu Yuna, sudah ditunggu bapak di dalam." Sasha menunjuk pintu ruang kerja Adrian Pratomo.
"Oke. Makasih mbak Sasha, Karen. Udah kalian sok kangen-kangenan sana" goda Yuna sambil berjalan menuju ruang pakdhenya.
"Ih Bu Yuna tahu aja deh" gelak Sasha.
Yuna mengetuk pintu dan terdengar suara mengijinkan dia masuk dan gadis itu pun membuka pintunya.
"Assalamualaikum Pakdhe" sapa Yuna.
"Wa'alaikum salam. Ayo masuk Na" sapa Adrian Pratomo ramah.
Yuna pun masuk dan betapa terkejutnya ada tiga orang bule duduk di sofa ruangan Adrian Pratomo.
"Halo Yuna."
Astaghfirullah.
***
Yuhuuu Up pagi dulu Yaaaa
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️