Love In Bet

Love In Bet
Ojo Dumeh! Mengko Tresno, Kasus



"Bukan. Saya ibunya."


Krisna Adhitya terkejut mendengar bahwa yang menerima telponnya adalah nyonya Rani Pratomo, ibu dari Yuna.


"Maafkan saya Tante. Apakah saya bisa berbicara dengan nona Yuna?"


"Tampaknya Yuna tidak ingin berbicara dengan anda, nak Krisna. Jadi Tante minta pengertiannya ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Krisna ingin membanting ponselnya ketika tahu ibunya sendiri menutup akses untuk bisa berbicara dengan gadis itu. Semenjak pertemuan yang tidak menyenangkan, sang Oma selalu menyindir dirinya sebagai cucu tidak tahu diri, tidak bisa menghargai orang dan berbagai sindiran lainnya.


Tampaknya sang Oma masih penasaran dengan gadis itu ditambah sang Opa bercerita mengenai banyak koleganya yang tertarik dengan Yuna untuk dijadikan menantu semakin membuat omanya jengkel dia sudah mengacaukan semua rencana menjodohkan keduanya.


Dan kini, dia benar-benar tidak ada akses untuk bisa berbicara dengan Yuna sendiri. Krisna tidak menyangka bahwa gadis cantik itu ternyata keras hati dan kepala.


***


"Ngapain tuh orang hubungi aku? Tahu dari mana nomor ponselku?" gerutu Yuna sebal.


"Omanya kan punya nomormu sayang" ucap mama Rani. "Tampaknya dia akan kapok menghubungi kamu lagi."


"Semoga karena aku tidak mau berhubungan dengan orang sepicik dia meskipun omanya baik dan menyenangkan."


"Mama juga heran, dia kok langsung berpikir bahwa kamu seharusnya ambil perusahaan papa. Wong papamu sendiri tidak meminta kamu atau Akira mengambil alih, membiarkan kalian bekerja dengan passion masing-masing, eh ini ada orang baru ketemu pertama kali langsung bilang gitu. Ampun deh!"


"Aku nggak kebayang kalau yang dihadapinya adalah mbak Nabila atau mbak Alexa, bisa habis dia!" kekeh Yuna.


"Sayang, mama minta kamu jangan seperti para sepupu perempuan yang lain ya. Kalian pada bisa bela diri bukan berarti bebas menghajar siapa saja" pinta mama Rani.


"Yuna kan hanya menghajar siapa yang pantas dihajar."


Mama Rani memang tidak mengetahui bahwa selama Yuna pergi keliling menjadi kurator, beberapa kali dia menghajar orang yang ingin melecehkannya. Hanya papanya yang tahu karena laporan pengawal bayangannya.


"Kamu tuh" kekeh mama Rani sembari mencubit pipi Yuna.


"Lho kalian masih disini?" tanya Papa Aryanto yang datang bersama Edward.


"Sudah selesai sesi curhatnya?" sindir Yuna ke Edward yang hanya memberikan senyum manis.


"Ya ampun kalian berdua tuh" kekeh mama Rani. "Ojo dumeh Na, mengko nek tresno kasus lho."


Yuna melongo. "Astaga, mama! Kok malah kayak doain ya."


Mama Rani dan papa Aryanto tertawa meninggalkan Edward yang terbengong-bengong.


"Tante ngomong apa sih?" tanya Edward bingung.


"Cari aja di Google!" jawab Yuna ketus.


***


Yuna mengantarkan Edward ke halaman depan menuju Mercedes G65 milik Stephen yang dipinjam sang kakak mengantarkan gadis judes itu pulang.


"Apakah aku boleh mengajakmu berkencan?" tanya Edward tanpa basa basi.


"Hah? Bukannya saya sudah mengatakan kemarin? Saya..."


Edward menempelkan telunjuknya di bibir Yuna.


"Aku ingin memperbaiki semuanya. Lagipula papamu juga memberikan ijin kok untuk berkencan dengan anaknya."


Mata indah Yuna membulat tidak percaya.


"Papa bukan pria model itu! Papa tahu sekali aku gimana."


"Kau bisa tanyakan sendiri pada papamu. Aku mundurkan jadwal pulangku, besok siang kamu aku jemput dan kita berkencan, makan siang bersama. Oke?"


"Oh tidak perlu Mr Edward. Pulang saja ke London karena saya tidak ingin berkencan dengan anda."


Edward hanya tertawa. "Kamu tidak mau, tapi aku tetap mau berkencan denganmu. Bye Yuna." Edward mencium pipi Yuna sekilas. "See you tomorrow." Edward bergegas masuk ke dalam mobilnya sebelum dirinya kena tonjok lagi dan meninggalkan halaman rumah Yuna.


"Damn it Edward!" maki Yuna kesal karena pria itu berhasil mencuri ciuman di pipnya.


***


Pagi ini Yuna dan papa Aryanto berangkat ke kantor bersama ke kantor PRC group. Selama ini ada dua CEO disana, Adrian dan Aryanto namun selama Adrian masih melebarkan sayap ke Australia, Aryanto yang memegang selama ini dengan dibantu asisten-asistennya yang terpercaya.


Sesampainya di gedung, Yuna dan Aryanto langsung masuk ke ruangan masing-masing yang berbeda lantai. Pagi ini Yuna tampak cantik mengenakan Coat biru muda, kaus putih dan celana jeans. Rambutnya hanya diikat keatas sebagian.



I paint a picture of the days gone by


When love went blind and you would make me see


I'd stare a lifetime into your eyes


So that I knew that you were there for me


Time after time you there for me


Remember yesterday, walking hand in hand


Love letters in the sand, I remember you


Through the sleepless nights through every endless day


I'd want to hear you say, I remember you oh oh


We spent the summer with the top rolled down


Wished ever after would be like this


You said I love you babe, without a sound


I said I'd give my life for just one kiss


I'd live for your smile and die for your kiss


Remember yesterday, walking hand in hand


Love letters in the sand, I remember you


Through the sleepless nights through every endless day


I'd want to hear you say, I remember you


Yuna bersenandung mendengarkan lagu lama milik Skid Row yang berjudul I remember you. Tanpa menyadari ada seseorang yang berdiri di pintu ruangannya.


"Ehem!"


"EHEM!"


Yuna membalikkan tubuhnya ke arah suara di belakangnya karena posisinya sedang berada di atas karpet yang tebal sedang melakukan kurator lukisan yang belum dia kerjakan kemarin Sabtu dan tampak Edward berdiri disana mengenakan suit biru dan kemeja putih sembari memasukkan kedua tangannya di saku celananya.



"Hello Darling. Aku tidak menyangka kalau kamu pecinta lagu rock."


Yuna membalikkan kembali tubuhnya ke posisi semula lalu mulai bekerja kembali.


Edward hanya tersenyum diacuhkan oleh gadis itu lalu berjalan dan duduk di samping Yuna setelah melepaskan sepatunya.


"Suara mu bagus."


Yuna hanya diam saja.


"Tampaknya kita berjodoh, karena warna baju kita hari ini sama-sama biru" lanjut Edward lagi santai seolah sudah bisa diacuhkan.


"Kita jadi berkencan hari ini kan? Makan siang bersama?" Edward menatap wajah cantik di sampingnya dan harum Jasmine dari tubuh Yuna semakin membuatnya kepayang.


"Silahkan anda menunggu di ruang tunggu, Mr Edward. Saya masih menyelesaikan pekerjaan saya dan anda sangat menggangu" jawab Yuna dingin.


"Ohya aku sudah Googling apa yang mamamu ucapkan kemarin. Itu bahasa Jawa kan?"


Yuna menoleh menatap Edward.


"Jangan benci padaku, nona Yuna, nanti akan menjadi kasus lho kalau jatuh cinta padaku" cengir Edward yang membuat Yuna mendelik.


"Ap..." bibir Yuna ditutup oleh Edward dengan bibirnya.


***


Yuhuuu Up pagi Yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️