
"Edward!" panggil Yuna dari lantai satu sedangkan suaminya masih asyik di depan laptop duduk diatas tangga.
"Astaga! Kamu tuh kayak anak kecil main laptop di tangga" gerutu Yuna.
"Sebentar sayang, lagi tanggung ini!" ucap Edward yang langsung mengklik sesuatu sebelum Yuna melihatnya. Ketika istrinya sudah dekat dengan dirinya, buru-buru dia menutup laptopnya.
"Kamu ngapain sih?"
"Biasa, kirim pesan ke Bram."
"Ayo sarapan. Aku hari ini masak fuyung hai dan tumis sayuran."
***
Hari Minggu ini Yuna dan Edward menghabiskan waktu di rumah saja dengan menonton film klasik Singin' in the Rain yang dibintangi oleh Gene Kelly dan Debby Reynolds.
"Ed"
"Hhmmm."
"Boleh nggak aku ke area latihan tembak milik klan McGregor?" tanya Yuna. Posisi kepalanya berada di atas dada Edward.
"Darimana kamu tahu area latihan tembak milik klan McGregor?" Edward balik bertanya.
"Rita yang bilang" jawab Yuna. Rita adalah istri Bryan Smith, mantan pengawal Nabila Pratomo.
"Hah? Jadi si Bryan sudah pernah mengajak Rita kesana" gumam Edward. "Kenapa kamu ingin menembak?"
"Melihat koleksimu kemarin, jadi pengen menembak lagi." Yuna menatap wajah suaminya dengan tatapan memohon.
"Astaga Mrs Blair. Ada kejutan apa lagi setelah aku tahu kamu paham soal senjata dan bisa menembak?"
Yuna tersenyum. "Apakah disana ada busur dan panah?
Edward tercengang. "Whoah! Seriously Mrs Blair? Kamu bisa memanah?"
Yuna mengangguk.
"Aku menikah dengan wanita yang sangat spesial." Edward menindih istrinya. "Love you so much Mrs Blair."
"Love you too Mr Blair. So, kapan kita kesana?" tanya Yuna penuh harap.
"Minggu depan. Karena aku harus membereskan semuanya dulu agar tampak bersih."
"Memang kenapa?"
"Kamu tahu sendiri kan pria, berantakan" cengir Edward sembari mencium ceruk leher Yuna.
"Hhhmmm."
***
"Sorry boss soalnya kemarin Rita ngidamnya itu boss. Pengen nembak" ucap Bryan takut-takut. "Terus Rita bercerita kepada nyonya Yuna."
Rita memang sedang hamil muda dan menurut Bryan, ngidamnya memang aneh-aneh termasuk ingin menembak dan makan steak setiap hari.
"Gara-gara Rita, sekarang Yuna ribut pengen menembak dan memanah. Ada apa sih dengan istri-istri kita?" gerutu Edward.
"Tandanya istri-istri kita memang spesial boss" cengir Bryan.
"Tolong selama seminggu ini tempat latihan menembak kita dibersihkan karena tepat Minggu besok, istriku ulang tahun. Aku ingin memberikan surprise untuknya."
"Mau makan apa boss untuk acara ulang tahun nyonya?"
"Yuna sangat suka mashed potatoes. Pesankan yang enak-enak dari restauran kita Bry."
"Siap boss. Berarti acara ulang tahun nyonya Yuna di arena nembak kita ya boss."
"Yup!"
"Segera dilaksanakan boss!"
***
"Kira-kira bisa selesai di hari Sabtu?" tanya Edward. "Bagus. Saya ambil besok Sabtu."
Edward lalu menelpon seseorang lagi. "Bagus. Saya ambil besok."
"Boss."
"Masuk Jack" ucap Edward.
"Ini hasil laporan dari cabang Manchester."
Semenjak Phil pindah ke Wales, Edward memperkerjakan Stuart Hughes, salah satu anak buahnya yang juga seorang bartender dan sering membuat minuman jika Duncan McGregor ingin sesuatu yang berbeda.
Edward pun memeriksa laporan yang diserahkan Jack.
"Boss, kata Bryan, nyonya Yuna berulang tahun besok Minggu?"
"Yup."
"Boss mau adakan di tempat menembak kita?"
"Yup."
"Nyonya Yuna mau menembak dan memanah?"
"Yup."
"Whoah! She's just like you boss!" kekeh Jack.
"She's more special than me" kekeh Edward.
***
Yuna sedang asyik melukis di halaman belakang rumah Edward ketika ponselnya berbunyi.
"Assalamualaikum ma" sapa Yuna.
"Wa'alaikum salam. Anak mama yang cantik, sedang apa?" tanya mama Rani.
"Kamu melukis apa?"
"Edward dalam bentuk Picasso nggak jelas" gelak Yuna.
"Ya ampun. Kamu tuh masih saja ngerjain suamimu" kekeh mama Rani. "Ohya, besok Minggu putri mama ulang tahun. Apa Edward tahu?"
"Entahlah ma. Aku tidak cerita aku akan berulang tahun besok Minggu. Kalau Edward tidak tahu bukan masalah" jawab Yuna.
"Nggak boleh begitu sayang. Kalau Edward nggak tahu, berarti sama kayak papamu. Paling nggak hapal ulang tahun istrinya" kekeh mama Rani.
"Serius ma?"
"Dulu sewaktu pak Setyo sekretaris papamu masih ada, dia yang mengingatkan. Sekarang kalau nggak Karen ya ponselnya."
Yuna terbahak. Pria dimana-mana sama.
"Besok Minggu mama dan papa telpon kamu lagi. Happy painting."
***
"Darling! Kamu dimana?" teriak Edward. Semenjak menikah, mansion ramai dengan teriakan Edward mencari Yuna.
"Belakang tuan. Nyonya sedang. melukis." Maria yang menjawab.
"Sayang" sapa Edward setelah melihat istrinya sedang melukis.
"Ya ampun Mr Blair. Kenapa kamu tampan sekali" goda Yuna begitu melihat suaminya.
"Baru sadar kalau suamimu ini tampan?" kekeh Edward sambil mencium bibir istrinya. "Apa yang kamu lukis?"
Yuna menunjukkan hasil lukisannya.
"Wow! That's so me" ucap Edward. "Terimakasih istriku."
"Sama-sama Mr Edward Blair."
***
Hari Minggu, sesuai dengan janjinya Edward membawa Yuna ke tempat latihan menembak milik klan McGregor. Pagi tadi kedua orangtuanya sudah mengucapkan selamat ulang tahun kepada Yuna termasuk semua keluarga besarnya. Hanya Edward yang tidak dan Yuna tidak mempermasalahkan karena tahu pria suka lupa tanggal ulang tahun pasangannya.
"Wah, aku nggak sabar melihat tempat latihan menembak nya" ucap Yuna yang hari ini memakai baju hitam.
"You will see" senyum Edward.
Mereka sampai ke sebuah gedung dengan bangunan dan halaman luas di pinggiran kota London. Edward memakai kode tertentu untuk masuk kesana.
Setelah memarkirkan Range Rover nya, Edward menggandeng Yuna. Ketika pintu dibuka, semua orang berteriak.
"SURPRISE!!! HAPPY BIRTHDAY MRS BLAIR!!!"
Yuna terharu melihat semua anak buah Edward disana termasuk Rita dan Dian pun hadir.
"Mr Edward?" bisik Yuna kepada suaminya.
"Kamu kira aku melupakan ulang tahun mu, darling? No way! Bisa disuruh tidur di sofa seminggu aku nanti" kekeh Edward yang langsung tergagap ketika Yuna mencium bibirnya dengan French Kiss membuat semua orang disana bersorak.
Edward menatap Yuna dengan wajah yang tidak bisa dijabarkan. "Aku ingin nanti malam kita habis-habisan" bisiknya parau.
Yuna hanya tersenyum nakal membuat Edward ingin pulang saja kalau begini.
"Ayo nyonya, kita lihat hidangannya" ajak Bryan.
"Whoah! Kalian" Yuna menitikkan air matanya terharu. "Terimakasih."
Semua memberikan hadiah untuk istri bossnya yang membuat Yuna bingung membawanya nanti.
"Boss! Ayo mana hadiah dari boss?" goda Jack.
Edward menuju pintu tempat biasa dia menyimpan senjatanya untuk latihan dan membawa dua bungkusan.
"Baby, aku tahu kamu sudah punya banyak perhiasan tapi aku ingin memberikan mu lagi." Edward membuka kotak perhiasan dari Cartier. Sepasang anting trinity tampak disana.
"Wow, Edward. Cantik sekali." Yuna menyimpan kotak perhiasan itu di tas Louis Vuitton nya.
"Ini belum seberapa." Edward membawa dua bungkusan dan membukanya di sebuah meja panjang disana.
Yuna terbelalak melihat hadiah dari suaminya.
"Oh my God! Edward! I do really like your presents!" Yuna langsung Melu*mat bibir penuh suaminya.
Semua orang disana terbengong-bengong melihat kado yang diberikan oleh boss nya selain perhiasan.
"Astagaaaaa si boss!" seru Jack sambil menepok jidatnya.
Dua kado Edward untuk Yuna. Busur dan panah beserta pistol Glock 43 9mm bewarna rose gold.
"Benar-benar pasangan anti-mainstream" kekeh Bryan.
***
Yuhuuu Up Sore menjelang Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️