Love In Bet

Love In Bet
Bule Gemblung



Setelah dua Minggu berada di Jakarta, Edward dan Yuna lalu berpamitan kepada kedua orangtua Yuna karena mereka akan kembali ke London. Perusahaan Edward yang ditinggal cukup lama karena pria itu memilih mengejar Yuna, sudah waktunya dia handle sendiri meskipun selama ini Jack dan Bryan mengurusnya dengan baik.


"Kalian tinggal di London tapi kalau misal papa butuh Yuna untuk mengurus acara lelang amal lagi, kamu mengijinkan kan Ed?" tanya papa Aryanto.


"Aku ijinkan pa, kan Yuna juga bekerja di perusahaannya lagipula aku tidak melarang Yuna bekerja kok" ucap Edward sembari mengambil pisang goreng.


Edward dan Yuna sengaja menginap di mansion sebelum besok terbang ke London dengan pesawat pribadi pria itu.


"Soalnya papa mengira bahwa kamu akan melarang Yuna bekerja."


"Pa, aku nggak sekaku itu istri harus di rumah saja menjadi ibu rumah tangga meskipun kalau Yuna memilih seperti itu aku lebih bahagia. Namun aku juga tidak mau egois. Yuna sangat suka seni, suka pekerjaannya sebagai kurator dan aku tidak akan melarangnya jika berhubungan dengan PRC group. Hanya saja jika Yuna seperti dulu pergi kemana-mana sendirian untuk mengurus museum, aku akan bernegosiasi dengannya karena pasti aku akan menemaninya jika dia harus pergi."


Papa Aryanto mengangguk. "Papa setuju dengan mu Ed. Wait, kamu kok sekarang jadi ngerti bahasa Jawa?"


"Biar aku tahu kalau lagi dirasani sama papa dan Yuna" jawab Edward cuek.


Papa Aryanto terbahak. "Ya Allah, aku punya mantu begini amat ya."


"Kenapa pa? Aku kan menantu limited edition" senyum Edward.


"Lama-lama kamu dimasukkan Yuna ke museum saking antiknya."


Edward menatap wajah mertuanya. "Mending aku dimasukkan berdua dengan Yuna lalu misi membuat cucu buat papa daripada dipajang di museum."


Papa Aryanto menepok jidatnya. "Ya ampun Edward! Lambemu pancen turah tenan!"


"Hah? Bentar pa, aku Googling dulu!" Edward mengambil ponselnya lalu mencari arti kalimat yang diucapkan oleh mertuanya.


Papa Aryanto tertawa terbahak-bahak. "Ya Allah Gusti! Dasar bule gendeng!"


***


Yuna dan mama Rani mendengar suara ayah dan suaminya tertawa terbahak-bahak di halaman belakang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kedua ibu dan anak itu sedang memasak di dapur dan sengaja mereka memasak sendiri meskipun chef keluarga Pratomo sempat memprotes.


"Kapan lagi pak Yanto saya memasak buat Yuna sebelum dia pergi ke London" alasan mama Rani. Akhirnya pak Yanto hanya membantu kedua majikannya.


"Papamu itu sebenarnya termasuk susah lho bisa menerima orang baru di keluarga tapi sama Edward bisa lepas begitu" komentar mama Rani.


"Mungkin karena Edward slengean ma" ucap Yuna. "Tahu nggak ma, aku pernah mergoki Edward belajar bahasa Jawa."


Mama Rani mendelik. "Yang bener Na?"


Yuna mengangguk. "Serius ma. Terus aku tanya 'Ngapain belajar bahasa Jawa?' jawabnya 'Biar aku ngerti kalau dirasani sama kalian'. Aku bengong dong ma."


Mama Rani tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun mantuku gemblung tenan."


"Itulah ma, aku juga bingung punya suami absurd bener!"


"Tapi mama salut sama Edward, dia mau belajar bahasa kita meskipun tujuannya ya gitu deh! Kalau mama boleh memilih, mama lebih suka Edward daripada cucunya nyonya Tiar."


Yuna menatap mamanya dengan wajah tak suka. "Kok malah bawa-bawa orang itu?"


Mama Rani hanya mengusap bahu Yuna lembut. "Maaf mama membandingkan tapi kami berdua bisa menilai mana pria yang melihat kamu sebagai subyek dan mana pria yang hanya melihat embel-embel di belakangmu, sayang."


"Ma, Edward sudah kaya sangat kaya malahan makanya dia tidak melihat siapa aku."


"Tidak semua orang yang sudah kaya tidak pedulian macam Edward yang hanya melihat Yuna Indira tanpa Pratomo di belakangnya. Orang itu sendiri meremehkan kamu kan saat tahu pekerjaanmu kurator tanpa tahu siapa dirimu sebenarnya."


Yuna terdiam mengingat James juga hanya mengira dia hanya wanita biasa bukan anggota keluarga konglomerat.


"Papamu belum tentu bisa ngobrol santai macam dengan Edward seperti itu."


Yuna hanya manggut-manggut sembari menyiapkan masakan untuk makan siang. Mama Rani dan Yuna memutuskan untuk memasak tengkleng kambing setelah kemarin mama Rani mendapatkan kiriman daging kambing banyak.


"Acarnya sudah Na?" tanya mama Rani.


"Sudah ma." Yuna meletakkan tengkleng di atas meja makan.


"Papamu harus dikontrol ini kalau makan kambing. Tahu sendiri kan kolesterol papamu harus dijaga." Mama Rani meletakkan jus semangka di dekat piring papa Aryanto.


"Aku bikin jus alpukat dulu buat Edward." Yuna segera masuk ke dapur membuat minuman sehat setelah makan kambing.


"Mama titip buatkan jus tomat ya sayang."


"Baik ma."


***



"Sayang, aku kamu suruh makan daging kambing supaya hor*ny seharian?" bisik Edward yang mendapat pelototan dari Yuna.


"Kamu nggak usah makan daging kambing juga hor**ny melulu!" umpat Yuna.


"Soalnya kamu memang bikin aku hor*ny" kekeh Edward yang langsung mendapat keplakan di bahu oleh istrinya.


"Ini berdua kenapa sih malah ribut sendiri di meja makan?" tanya mama Rani.


"Yuna tuh ma. Kalau nggak KDRT aku sehari kayaknya ada yang kurang" adu Edward licik.


"Yuna, kamu tuh jangan suka KDRT ke Edward. Dia itu suami kamu, imam kamu" tegur mama Rani.


"Nah tuh dengerin!" seringai Edward yang mendapat lirikan judes Yuna.


"Edward juga! Jangan suka usil sama Yuna nanti kamu dibanting lagi" kekeh papa Aryanto.


"Saya sih nggak masalah dibanting sama Yuna apalagi diatas tempat tidur... Adduuhhh!" Edward mengusap lengannya yang mendapat tinju dari istrinya.


"Ya Allah itu mulut lemes banget ya!" Yuna melotot ke suaminya.


"Lho kan bener darling, paling enak dibanting di kasur biar nggak patah tulang!"


Papa Aryanto dan mama Rani hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar keributan putri dan menantunya.


"Dasar bule gemblung!" umpat papa Aryanto sambil tertawa.


***


Yuna sedang membereskan semua bawaannya untuk dibawa besok ke London ketika Edward keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk di bawah pinggangnya. Melihat bajunya sudah disiapkan oleh istrinya, Edward pun memakainya.



"Baby, kamu ngapain?" tanya Edward sembari duduk di sofa melihat istrinya sibuk di walk in closet kamarnya.


"Beresin baju yang mau aku bawa ke London."


"Nggak usah bawa banyak-banyak. Beli saja disana!" ucap Edward.


"Ini aku bawa yang aku suka aja kok."


"Ya udah, nggak usah repot-repot bawa baju banyak-banyak."


Edward membuka ponselnya tanpa melihat istrinya yang berdiri di depan pintu walk in closet.


"Kalau ini suka nggak?" tanya Yuna. Edward menoleh dan melongo hingga ponselnya jatuh. Gimana tidak, tampak Yuna memakai kemeja putih milik Edward berdiri dengan pose menggoda suaminya.



"Kalau ini suka bangets sayang!" Edward pun menghampiri Yuna dan langsung menggendong istrinya.


"Whoah! Slow down Mr Edward Blair" kekeh Yuna.


"Salahkan tengkleng kambing yang bikin aku begini!" Edward meletakkan tubuh istrinya dan mulai mencum***bunya.


"Kambing disalahin!" gelak Yuna sambil ikut membalas perlakuan suaminya.


***


Yuhuuu Up pagi Yaaaa


Happy New Year semuanyaaaaa


Semoga di tahun yang baru ini semakin lebih baik dari tahun kemarin, Corona ilang, banyak barokah buat kita semua. Aamiin.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️