
Pagi-pagi Nabila sudah dibuat jengkel oleh Mike. Bagaimana tidak, Mike meminta agar Yuna tetap berada di London dalam waktu lama.
"Kalau urusannya sama Edward sudah selesai, ya sudah dong!" protes Nabila.
"Bagaimana caramu lah, Nab. Buat si Edward jatuh cinta sama Yuna. Aku belum mau kehilangan Lamboku" keluh Mike.
"Kehilangan Lambomu? Maksudmu apa?" Nabila menatap wajah kekasihnya tajam karena keduanya sedang melakukan panggilan video.
Mike menceritakan soal taruhan itu dan dia tidak rela kalau Lamborghini Aventador kesayangannya terlepas.
"Michael James Cahill McGregor!"
"Iya sayangku." Mike tidak berani menatap wajah kekasihnya.
"Kamu GILA! Bisa-bisanya aku harus mengorbankan adikku untuk pria Casanova itu demi mobil?" Nabila tidak habis pikir apa yang berada di otak kaum pria.
"Please sayang, bujuk adikmu kalau sudah selesai di London jangan sampai pergi dulu" rayu Mike penuh harap.
"Kok bisa aku punya kekasih gila sepertimu Mike!" Nabila memijit pelipisnya.
"Karena aku mencintaimu dan kamu mencintaiku." Mike memberikan senyum manis.
"Gombal!"
***
Yuna masuk ke dalam kantor Edward dan seketika para pegawai disana langsung membuat gosip tentang gadis yang berada di halaman depan semua tabloid dan koran gosip di Inggris.
Penampilan Yuna yang berbeda dengan banyak perempuan yang datang ke perusahaan Edward, membuat para pegawai auto berharap agar boss mereka insyaf karena mereka semua jengah harus mengusir para mantan.
Keduanya pun masuk ke dalam lift dan menuju lantai sepuluh. Yuna mengikuti Edward sembari melihat interior perusahaan Edward yang didominasi warna kayu dan warna hitam.
"Ayo masuk." Edward menghela Yuna dan mempersilahkan gadis itu masuk dengan menyentuh punggungnya.
Yuna terkagum-kagum melihat cara Edward menata ruangannya. Pria bule itu tampaknya sangat menyukai kayu.
"Beautiful room Mr Edward" puji Yuna tulus.
"Terimakasih. Silahkan duduk nona Yuna."
Yuna pun duduk di sofa bewarna putih itu. Ruang kerja Edward jauh lebih mewah dibanding ruang kerja papanya yang lebih suka minimalis dan tidak terlalu banyak barang.
"Aku ambilkan lukisan Degas dulu." Edward pun menuju ke sebuah lemari yang ternyata sebuah lemari besi yang sangat canggih, harus dengan telapak tangan, sidik jari dan angka kode untuk membukanya.
Ketika terbuka, Yuna bisa melihat tumpukan uang dan beberapa batangan emas disana.
Pantas dia seorang Casanova, semua perempuan pasti ngiler kalau melihat isi lemari seperti itu.
"Kamu nggak tertarik sama isi lemari besiku?" tanya Edward tanpa menoleh.
"Untuk apa? Keluarga ku sudah kaya jadi buatku itu biasa saja" ucap Yuna lugas.
Edward tertawa. "Biasanya kaum wanita langsung ngiler melihat isi lemariku."
"Saya lebih ngiler kalau ada lukisan Salvador Dali atau Leonardo da Vinci di lemarimu."
Edward tersenyum mendengarnya.
"Ini lukisannya."
Yuna mengambil sarung tangan lateks yang selalu dia bawa dan kaca pembesar. Melihat lukisan balerina itu masih dalam plastik, Yuna bersyukur karena tidak banyak bekas tangan disana.
"Boleh saya pinjam meja kerja Anda?" tanya Yuna meminta ijin.
Edward hanya mengangguk.
Yuna membawa lukisan itu ke meja besar milik bule tampan itu. Pelan dia mengeluarkan lukisannya dan mulai meneliti. Lukisan yang tanpa pigura tampak polos kanvas pinggirannya dan kayunya pun tidak luput dari pemeriksaan Yuna.
"Kalau Mr Edward membutuhkan mejanya, tolong kasih tahu saya" ucap Yuna tanpa mengalihkan dari lukisan itu.
"Gampang. Aku masih bisa memakai meja itu" sahut Edward sembari mengambil beberapa berkas di mejanya dan membawanya ke meja depan sofa.
"Oke. Maafkan kalau saya sudah bekerja akan sering lupa waktu."
"It's okay."
Edward dan Yuna masing-masing sibuk dengan kesibukannya. Suara ketukan di pintu membuat keduanya menghentikan pekerjaannya.
Tak lama masuk seorang wanita cantik berbaju seksi dan menyapa Edward dengan suara manja.
"Anda tidak makan siang tuan Blair?"
"Pesankan untukku dan untuk nona Yuna. Oh, harus restauran halal karena nona Yuna seorang muslim."
Wajah wanita itu langsung masam.
"Baik tuan."
Dengan langkah sedikit dihentakkan, wanita itu keluar dari ruangan Edward dan menutup pintunya agak keras.
"Sekretarismu?" tanya Yuna sembari melanjutkan pekerjaannya.
"Bisa dibilang begitu" sahut Edward cuek.
"Apakah dia sudah tidur denganmu?"
Edward mendongakkan kepalanya lalu menoleh ke arah Yuna yang masih menunduk bekerja. Seketika dia mempunyai ide untuk menggoda adik sepupu Nabila itu. Edward berdiri dan berjalan ke arah Yuna dan berdiri di belakangnya. Perlahan dia membungkukkan badannya hingga kepalanya dekat dengan wajah Yuna.
"Kalau aku sudah tidur dengannya, apa kamu akan cemburu?" bisiknya dengan menyeringai.
Yuna mengangkat wajahnya.
"Apa untungnya untukku? Anda bukan siapa-siapa saya hanya sekedar klien saja. Kehidupan anda di ranjang itu urusan anda. Jadi buat apa aku cemburu?"
Edward terkekeh. "Yakin kamu tidak jatuh ke pesona ku nona Pratomo?"
Yuna tersenyum smirk. "Percaya diri sekali anda! FYI, mbak Nabila sudah memperingatkan saya tentang anda, Mr Edward." Yuna memalingkan wajahnya dah keduanya saling berhadapan.
"Saya bukan tipe anda, Mr Edward" bisik Yuna dingin.
"Seperti apa tipe saya?" Edward ingin tahu apa yang ada di otak gadis bermata coklat ini.
"Blonde, tinggi, big ***** dan dumb" ucap Yuna lugas.
Edward tertawa terbahak-bahak. Dia kemudian berjalan ke seberang meja kerjanya.
"Apa? Ada yang salah?" tanya Yuna tenang.
"Nope, aku hanya geli tentang definisi dumb."
"Iya dumb dalam arti terlalu berharap kepada seorang Casanova seperti anda yang seperti tembok China yang bisa ditaklukkan."
"Kamu pikir aku tidak bisa ditaklukkan?" Edward menyipitkan matanya ke Yuna.
"If you find the right girl." Yuna kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Apa kamu tidak ingin menaklukkan diriku?"
Yuna menatap Edward yang kini duduk di hadapannya.
"Untuk apa? Apa anda ada misi terselubung meminta saya kemari?" Yuna meletakkan semua peralatannya dan mulai menatap intens pria bermata biru.
"No. Aku hanya ingin tahu apa kamu ingin mencoba menaklukkan hatiku?" senyum Edward.
Yuna tertawa. "Pertama, aku tidak menyukai dirimu tuan. Kedua, kita berbeda profesi. Ketiga, aku mencari pria yang seiman sedangkan anda tidak."
"Apa aku harus seperti Mike untuk menjadi mualaf agar kamu tertarik?"
"Mike pindah agama karena memang pada awalnya dia ingin bersama dengan mbak Nabila dan dia sudah mendapatkan hidayah nya hingga sekarang pun tetap menjalani kehidupan sebagai seorang muslim. Kalau anda, pindah agama karena misi untuk mencoba bisa menarik perhatian saya, anda malah membuat saya lebih mudah meninggalkan anda. Jika anda menjadi muslim karena memang dari lubuk hati anda dan memang semata-mata karena Allah, itu jauh lebih baik dan mengagumkan karena anda berani berhijrah."
Edward hanya terdiam mendengarkan penjelasan Yuna.
"Jadi Mr Edward, sebelum Anda bertindak di luar kebiasaan anda, banyaklah berpikir panjang."
Yuna lalu kembali melakukan pekerjaannya meninggalkan Edward yang masih tercenung.
***
Yuhuuu
Up siang dulu Yaaaa
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️