Love In Bet

Love In Bet
Manchester tapi bukan United atau City



Yuna dan Vivienne sampai di mansion Neville yang semuanya terbuat dari batu bata. Sudah lama sekali Yuna tidak kemari, terakhir sekitar tiga tahun lalu karena dia lebih sibuk kuliah dan bekerja di galeri, pula Oom dan Tantenya juga sering ke London.



"Home sweet home!" serunya ketika seorang kepala pelayan membuka pintu depan rumahnya.


"Assalamualaikum" sapa Yuna seperti kebiasaannya setiap masuk rumah.


"Wa'alaikum salam" jawab Vivienne. "Nora, papa kemana?" tanyanya kepada kepala pelayan berwajah seperti ibu Ronald Weasley.


"Mr. Neville sedang di kantor PRC group miss."


"Baiklah. Tolong siapkan makan siang buat kami ya Nora. Ohya Duo Dalton itu juga dikasih makan juga."


"Duo Dalton?" tanya Yuna.


"Kedua pengawal kita itu kakak adik Howard dan Harry Dalton."


"Oh."


"Yuk mbak, kita ke kamarmu. Nanti ke kantor papa trus ke museum."


Yuna mengerenyitkan dahinya. "Kamu tuh apa nggak capek?"


"Demi bisa ke Jakarta, apapun aku lakoni mbak" cengirnya.


***


Edward sudah sampai ke Manchester dan langsung menuju restauran yang dimilikinya dibawah naungan McGregor-Blair. Semenjak Duncan McGregor memutuskan pensiun seperti saran calon menantunya, semua yang berhubungan dengan bisnis ilegal, diserahkan kepada ketua klan selanjutnya. Klan McGregor pun mundur dari dunia hitam meskipun mereka masih memiliki hubungan baik.


Semua pegawai di restauran mengangguk hormat kepada Edward. Manajer restauran, Phil Benson menyambut bossnya.


"Selamat siang boss" sapa Phil.


"Phil." Edward hanya mengangguk lalu menuju ruangan manajernya.


"Tumben boss kemari dalam waktu kurang dari dua bulan sudah nengok kami" komentar Phil yang kemudian terdiam setelah mendapatkan tatapan horor dari John yang ada di belakang Edward.


*Apa yang terjadi John?


Don't ask just be quiet*!


Phil sendiri sudah lama ikut Keluarga McGregor-Blair jadi memahami kode tanpa suara yang dilakukan oleh para petinggi klan.


"Mana laporan pembukuan?" tanya Edward dingin ketika sudah duduk di kursi milik Phil.


Phil mengambil sebuah buku besar dan meletakkannya di depan Edward. Meskipun semuanya sudah terkomputerisasi, kebiasaan selalu ada buku besar manual harus tetap dilakukan.


Edward membaca dengan teliti semua laporan disana dan kelebihannya adalah Edward hapal di luar kepala semua buku besar restaurannya. Tak heran jika dia menjadi tangan kanan Duncan McGregor karena kecerdasannya.


Tiba-tiba suara ponsel milik John berbunyi lalu pria itu menerimanya.


"Sebentar, kuberikan pada boss." John menyerahkan ponselnya. "Boss."


Edward menerimanya "Gimana?"


" ... ".


"Oke. Aku akan kesana." Edward mematikan ponselnya lalu mengembalikan ke John.


"Lho boss. Ponsel boss kemana?" tanya Phil kepo.


Edward menatap dingin ke arah Phil yang tanpa takut menatap bossnya.


"Bukan urusanmu Phil!" ucapnya dingin.


"Wow boss! Aku tahu sebentar lagi musim gugur tapi boss jangan dingin-dingin dong" sahut Phil cuek. Diantara semua anak buahnya, Phil memang yang paling cuek dan tidak takut dengan Edward.


"Ayo John!" Edward pun berdiri.


"Lho boss! Kalian belum makan. Kasihan tuh J mukanya kelaparan" kekeh Phil lagi.


*Kamu minta digorok Boss, Phil?


Tapi kamu memang kelaparan kan J*?


"Ya sudah kita makan dulu. Aku juga lapar." Edward menatap John yang hanya bisa nyengir kikuk.


"Gitu dong boss! Kalau J pingsan, boss juga berabe nggak bakalan bisa angkat badan dia yang segedhe gajah! Bisa-bisa nanti boss manggil escavator buat angkat dia!" kekeh Phil sambil keluar ruangannya.


"Phil!"


"Yes boss?" tanyanya polos.


"Kamu mau aku kirim ke Antartika?" tanya Edward dingin.


Edward mengusap wajahnya kasar.


"Untung kamu anak buahku yang loyal, kalau nggak..."


"Kalau nggak, boss pasti akan kehilanganku" ucapnya dengan tergelak.


***


Yuna dan Vivienne sekarang berada di Manchester Museum menikmati karya seni disana setelah tadi bertemu dengan Oom Alex yang dengan berat hati mengijinkan putri bandelnya terbang ke Jakarta bersama Yuna.


"Ingat Na, kalau adikmu itu buat ulah, saat itu juga masukkan dia ke kotak kirim langsung ke Manchester!" ancam Oom Alex ke putrinya yang hanya melengos melihat pemandangan dari jendela kantor papanya.


"Siap Oom. Kalau Vivet bikin ulah, langsung aku deportasi!" kekeh Yuna dengan muka jahil.


"Mbak Yuna kan bukan bagian imigrasi?" cebik Vivienne.


"Selama kamu nakal, mbakmu bakalan jadi bagian imigrasi setiap saat."


Vivienne cemberut.



Kini kedua gadis itu menikmati isi Manchester Museum. Yuna sangat menikmati acara jalan-jalan seperti ini. Seperti masuk ke dunia lain yang dia belum pernah mengalaminya.


Dibanding belanja di mall atau toko-toko branded, Yuna lebih suka berada di museum ataupun situs arkeologi, menilai sebuah karya seni.



"Mbak, kamu tuh memang beda deh!" komentar Vivienne.


"Kenapa?" tanya Yuna sambil melihat bagian Living World.


"Dengan duit yang kita miliki dari saham perusahaan keluarga, mbak Yuna harusnya ke mall atau beli barang-barang branded. Tapi ini nggak, malah ke museum."


Yuna tertawa pelan karena mereka sekarang di museum yang agak sepi.


"Kita sudah terlalu banyak memiliki dan bisa ke titik jenuh karena akan selalu merasa kurang. Kamu sendiri lebih suka berbuat ulah karena mencari perhatian kan? Oom Alex dan Tante Adinda memang tidak kekurangan kasih sayang kepadamu, Viv tapi kamu sendiri merasa ada yang kosong disana."


Vivienne terdiam.


Yuna mengajak Vivienne duduk di sebuah tempat yang disediakan.


"Begitu pula dengan mbak. Kenapa sejak kecil mbak mulai bekerja karena mbak ingin tahu rasanya sulitnya mencari uang. Kamu kira Pakdhe Aryanto nggak protes? Wow protes! Tapi mbak dapat dukungan dari mas Akira karena dia pun merasakan hal yang sama. Kita terlahir sudah dalam keadaan memiliki sendok perak begitu membuka mata tanpa harus bekerja keras. Itulah kenapa mbak nggak pernah mengambil uang yang dikirimkan ke rekening mbak dari perusahaan keluarga. Mbak lebih suka menggunakan uang yang mbak hasilkan sendiri."


Vivienne menatap Yuna tidak percaya. Kakaknya yang selalu anggun itu ternyata memiliki perasaan kurang diantara gelimang harta yang dimiliki oleh keluarga mereka. Bersyukur kakaknya memilih pekerjaan yang dia sukai sehingga menikmati hidupnya.


"Halo Ladies."


Kedua gadis itu menoleh.



Tampak Edward berdiri di belakang mereka mengenakan jas bewarna krem. Kedua gadis itu pun berdiri menghadap pria itu.


"Ngapain kesini bang?" tanya Vivienne judes.


"Nemenin kalian lah!"


"Gadha kerjaan ya bang?"


"Udah. Kan aku barusan memeriksa pembukuan restauran milik MB dan sekarang jalan-jalan lah."


"Jalan-jalan apa nguntit kami?" tanya Vivienne sarkasme.


"Nguntit!" jawab Edward gamblang.


"Astaga! Kayaknya aku harus telpon polisi deh kalau kita dikuntit!" Vivienne pun mengambil ponselnya.


"Apa mau anda?" tanya Yuna dingin sambil menatap Edward tanpa takut sedikitpun.


"Menemanimu."


***


Yuhuuu


Up waktu brunch Yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️