Love In Bet

Love In Bet
Edinburgh



Yuna terbangun di rumah milik keluarga Neville yang sedang ada bisnis di Edinburgh. Semalam dia diantar Mike Cahill di rumah tantenya yang menyambutnya dengan senang hati. Vivienne pun tidak kalah antusiasnya bertemu kakak sepupunya yang sok cool tapi aslinya bisa ramai dan receh.


"Mbak Yunaaaa! Ayo bangun! Sholat subuh bareng yuuukkk!" suara cempreng Vivienne terdengar di depan pintu kamar Yuna. Tidak sabaran, gadis berusia 13 tahun itu membuka pintu kamar kakaknya.


"Astaghfirullah! Viveeeettt! Mbak Yuna lagi nyatuin nyawa iniii!" hardik Yuna kesal.


"Ayo sholat bareng, udah ditunggu mama tuuuhhhh!" rengek Vivienne sembari menarik Yuna.


"Iya iyaaaa!" Yuna pun bangun dari tempat tidurnya sembari jalan terhuyung karena ditarik adiknya.


"Duasar Vivet!"


Vivienne hanya nyengir tanpa dosa.



***


"Jadi kamu sekarang home schooling?" tanya Yuna ketika mereka sarapan bersama Tante Adinda.


"Iya. Aku kan habis dikeluarkan lagi" sahut Vivienne tanpa beban.


"Astaga! Tante, dia berulah apa lagi?" tanya Yuna ke tantenya.


"Membuat kaki temannya patah!" jawab Tante Adinda sembari menghela nafas panjang.


"Kemarin Shanum, sekarang kamu. Apa yang terjadi dengan kaum perempuan Pratomo?" keluh Yuna.


"Mbak Yuna belum membuat ulah kan?" tanya Vivienne sembari memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Be.. belum" jawab Yuna gugup. Menonjok pria yang hendak main cium itu termasuk nggak ya.


Vivienne menatap Yuna dengan tatapan menyelidik. "Yakin belum?"


"Belum" jawab Yuna pelan.


"Aku nggak percaya!" kekeh Vivienne.


Yuna hanya melengos dan menatap piring makannya.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu di London? Apa sudah selesai?" tanya Tante Adinda.


"Sudah Tante. Malah rencananya Minggu depan aku kembali ke Jakarta karena ditunggu papa buat melihat karya lukis anak-anak difabel dari yayasan mama."


"Apa mas Aryanto mau melelang lukisan-lukisan itu?"


"Iya Tante. Papa minta aku menentukan harganya karena uangnya itu untuk mereka juga."


"Mbak, aku ikut ke Jakarta ya. Siapa tahu ada lukisan yang menarik hati, aku beli sekalian. Boleh ya ma?" Vivienne menatap ibunya dengan wajah memohon.


"Minta ijin sama papa dulu. Kalau boleh, baru ikut sama mbakmu" jawab Tante Adinda.


"Pasti diijinin, kan demi amal" ucap Vivienne percaya diri.


"Selama kamu nggak bikin ulah saja" gumam Yuna yang didengar Vivienne.


"Iisshhhh, emangnya aku suka bikin ulah?"


"Memang!" ucap Yuna dan Tante Adinda bersamaan.


"Ya Allah, nasib-nasib. Anak baik hati tidak sombong cantik paripurna ini selalu dinistakan."


"Dasar tukang drama!" ledek Yuna.


***


Setelah mengantarkan Tante Adinda ke lokasi yang hendak dijadikan hotel di bawah bendera PRC group, Vivienne mengajak Yuna ke Holyrod Park dimana terdapat reruntuhan St. Anthony's chapel. Vivienne tahu kalau kakaknya satu ini sangat suka sejarah dan benda seni.



Yuna sangat semangat melihat reruntuhan kapel yang diperkirakan dibangun pada tahun pada abad ke 12 meskipun harus berjalan kaki. Kedua gadis itu sangat menikmati udara segar apalagi disana terdapat bukit tertinggi yang disebut Arthur's seat yang bisa melihat kota Edinburgh dengan jelas.



Setelah puas hampir setengah hari menikmati pemandangan dan foto-foto, kedua gadis itu kembali ke mobil bersama dengan dua orang pengawal yang satunya bertindak sebagai sopir.


Vivienne mengajak Yuna untuk makan siang di sebuah restauran bernama Dishoom.



"Disini, domba panggangnya enak!" promo Vivienne.


"Kamu udah pernah kesini?" tanya Yuna ketika mereka sudah sampai.


"Udah, diajak bang Mike, bang Brandon sama Kak Sean."


Yuna melongo. "Brandon dan Sean disini?"


"Iya. Kan kak Sean menggantikan mbak Nabila, kalau bang Brandon dikirim sama Pakdhe Adrian bantu mama."


Kedua gadis itu duduk di meja dan segera memesan makanan rekomendasi Vivienne. Para pengawal pun sudah memesan makan siang mereka namun duduk terpisah dari kedua gadis itu.



"Akhirnya datang juga!" seru Vivienne sumringah melihat pesanannya datang.


"Wow! Looks delicious!" seru Yuna.


"Memang!"


Suara ponsel Vivienne membuat dirinya mengurungkan untuk memotong daging domba yang sudah membuatnya ngiler dari tadi.


"Assalamualaikum bang Mike ku sayang" sapa Vivienne lebay.


Yuna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Vivienne memang suka manja kalau bersama orang yang cocok dengannya.


"Kami di Dishoom."


" ... "


"Oke, kami tunggu. Wa'alaikum salam."


"Bang Mike dan duo reseh mau kesini."


"Maksudnya Sean dan Brandon?"


"Hu um. Lumayan ada yang bayarin nanti. Hahahaha." Vivienne tertawa licik.


Duasaarrr!


"Lho mbak, ada sultan harus dimanfaatkan dong!"


"Kamu tuh juga punya black card Vivet!"


"Ditahan papa" ucapnya sendu. "Aku cuma dikasih kartu gold."


Yuna tertawa terbahak-bahak. "Kasihan."


"Padahal aku belum pakai buat beli Ferrari."


"Astaga adikkuuu!" kekeh Yuna.


***


Edward sudah sampai di Edinburgh dan langsung menuju Royal Infirmary hospital tempat Mike bekerja sebagai kepala bedah.


Ketika hendak masuk ke lobby rumah sakit, tampak Mike berjalan bersama Sean dan Brandon hendak ke pintu rumah sakit.


"Lhoooo, Edward. Sama siapa?" tanya Mike.


"Sendiri. Kalian mau kemana?"


"Lunch. Mau ikut?" tanya Sean.


"Dimana?"


"Dishoom." Kali ini Brandon yang menjawab.


"Ayolah!" Edward pun mengikuti ketiga pria itu.


Keempatnya lalu masuk ke dalam Range Rover Mike menuju Dishoom, sebuah restauran favorit mereka.


***


Yuna terbelalak ketika melihat Edward berada dalam rombongan Mike.



Sean dan Brandon langsung heboh melihat Yuna yang sudah lama tidak bertemu. Tanpa sungkan, kedua pasangan belok itu ( baca Just The Way You Are chapter Welcome Dokter Sean ) langsung memeluk dan mencium pipi Yuna seperti adik mereka sendiri.


"Lama banget nggak ketemu kamu, Nana" sapa Sean sengaja duduk di sebelah gadis itu.


"Nana?" tanya Edward.


"Itu panggilan kami kepada Yuna" sahut Brandon yang berada di sisi lain Yuna.


"Wah, aku berada di tengah-tengah kedua kakakku yang antik" kekeh Yuna sembari menggamit lengan keduanya.


"Bagaimana China? Provinsi Henan kan?" tanya Sean.


Edward dan Mike pun duduk di seberang ketiga orang itu mengapit Vivienne.


"Berdebu." Sean dan Brandon tertawa.


"Situs arkeologi mana yang nggak berdebu Nana" kekeh Sean.


Obrolan mereka terhenti ketika seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka. Setelahnya, mereka melanjutkan obrolannya.


"Kapan kamu kembali ke Jakarta?" tanya Mike.


"Minggu depan" jawab Yuna. "Papa minta tolong aku untuk mengkurator lukisan anak-anak difabel dari yayasan mama."


"Aku juga mau ikut mbak Yuna ke Jakarta" sahut Vivienne.


"Yang tanya kamu siapa Blue?" Sean selalu memanggil Vivienne blue sesuai warna matanya.


"Iiihhh kak Sean ketularan bang Brandon nistain aku!" cebik Vivienne sambil cemberut.


"Karena kamu emang enak dinistain" celetuk Brandon.


"Bang Miiikkeee" rengek Vivienne manja.


"Udah ah! Kalian tuh kalau ketemu berantem, nggak ketemu nyariin!" omel Mike jengah.


"Oh jadi lukisan dari anak-anak itu mau dinilai olehmu Na?" tanya Sean.


"Iya, mau dilelang oleh papa. Uang hasil lelang buat mereka."


"Kayaknya asyik ya kalau kita sama-sama ke Jakarta ikut lelang." Brandon menatap Sean.


"Aku nggak bisa. Pasienku banyak!" keluh Sean.


"Aku akan menemanimu ke Jakarta nona Yuna."


Kelima orang itu menatap Edward.


"Haaaahhhh?"


***


Yuhuuu


Up malam Yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️