Love In Bet

Love In Bet
Ketemu Camer...Kayaknya



Bukan ku memaksa oh, Tuhan


Tapi kucinta dia (kucinta dirinya)


Kumau dia (kumau dirinya)


Hanyalah dia


Tuhan, kucinta dia...


Edward mengerenyitkan dahinya mendengar lagu dari Andmesh Kamaleng yang diputar dari radio di mobilnya. Setelah acara drama di rumah Stephen, akhirnya Edward berhasil meyakinkan untuk mengantar Yuna pulang.


"Ini lagu apa?" tanya Edward.


"Lagu cinta" jawab Yuna masih sibuk dengan ponselnya membalas semua kolega papanya yang menanyakan kapan diadakan lelang amal lagi.


"Soal apa?"


"Soal cinta lah!" kekeh Yuna.


Edward mengusap wajahnya kasar tapi sejurus kemudian meringis. Pipi kirinya masih terasa nyeri.


"Aku tahu soal cinta tapi definisi cinta itu kan luas. Aku kan hanya mendengar lirik terakhir."


Yuna pun menghentikan membalas pesan di ponselnya.


"Lagu itu menceritakan sepasang kekasih yang sudah berhubungan lama tapi memiliki banyak perbedaan. Kalau menilik dari video klipnya, perbedaan agama yang membuat mereka sulit bersatu."


"Seperti kita kan?" cetus Edward asal.


"Kita?" tanya Yuna. "Memang kita punya hubungan?"


"Semenjak aku mencuri ciuman pertamamu, aku anggap kita mempunyai hubungan spesial."


Yuna mendelik. "Kita tidak ada hubungan, Mr Edward." tegasnya.


"Aku menganggap begitu" eyel Edward.


"Astaga! Mr Edward Blair, bukankah saya sudah mengatakan pada anda, bahwa saya tidak mau berbagi ciuman dengan pria yang tidak bisa melepaskan diri dari mantan tidak terindah. Jadi saya minta, setelah mengantarkan saya, jangan pernah menemui saya kembali."


"Aku sudah putus dengan Michelle lama."


"Kalau memang sudah putus, kenapa anda diam saja ketika dicium? Apa anda masih ada perasaan dengannya? Karena kalau saya pribadi, jika saya menerima dicium oleh seseorang berarti saya ada masih perasaan khusus dengan orang itu."


Edward bersorak dalam hati. Berarti Yuna sebenarnya ada perasaan padaku karena itu dia diam saja ketika kucium!


"Apakah kamu sekarang jika aku cium, akan menerimanya?" tanya Edward memastikan perasaan Yuna yang sebenarnya.


"Bukankah semalam anda sudah berusaha mencium saya kembali? Apa yang anda dapatkan Mr Edward?" senyum Yuna manis.


Sial! Dia masih marah!


***


Edward kembali lagi ke mansion yang mulai dia hapal semua interiornya. Yuna sudah turun dengan membawa duffle bag Louis Vuitton miliknya.


"Anda mau langsung pulang atau mau mampir dulu?" tanya Yuna.


"Menurutmu?" Sungguh Edward kesal tapi juga gemas dengan gadis ini. Perasaanku kacau balau setiap bersama Yuna.


"Sebagai tuan rumah yang baik, pasti saya akan mempersilahkan mampir tapi saya sedang tidak ingin berbasa basi dengan anda..."


"Yuna! Siapa itu?" suara seorang wanita terdengar dari dalam rumah.


"Assalamualaikum ma" sapa Yuna sambil mencium punggung tangan dan pipi mamanya.


"Lho ada bule ganteng gini kok nggak kamu ajak masuk. Ayo masuk mas" ajak mama Rani.


"Mas?" celetuk Yuna. "Mama, dia bule kok dipanggil 'mas' sih?"


"Lha harus manggil apa? Le? Londo Dingdong?" kekeh mama Rani. "Ohya mas, perkenalkan saya mamanya Yuna. Mas nya bisa manggil saya Tante Rani" ucap mama Rani sambil mengulurkan tangannya dan Edward pun meniru Yuna mencium punggung tangan wanita berusia pertengahan 40an itu.


"Saya Edward Blair." Edward memperkenalkan dirinya dengan hormat.


"Oh apanya Stephen Blair?"


"Saya kakaknya, Tante."


"Pantes matanya sama-sama biru. Ayo, masuk, silahkan duduk. Mau minum apa mas?" tanya mama Rani sambil menuju ke arah ke dalam rumah.


"Nggak usah repot-repot Tante" tolak Edward halus.


"Ah santai saja. Na, kamu temani tamunya dulu ya." Mama Rani pun meninggalkan putrinya yang melongo.


"Mama! Ma! Haiissshh si mama nih!" omel Yuna.


"Kamu memang harus menemani aku, Na seperti perintah mamamu" cengir Edward yang menurut Yuna seperti minta ditonjok ulang.


"Siapa itu Na?" suara bariton terdengar dari lantai dua.


"Pa, perkenalkan itu kakaknya Stephen Blair" jawab Yuna cuek lalu menuju ke kamarnya di lantai dua untuk meletakkan tasnya.


"Lho, papa turun kok kamu malah naik tangga? Nggak ditemenin dulu tamunya?" tanya papa Aryanto.


"Mau taruh tas dulu pa."


Papa Aryanto hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Putrinya kalau sudah kumat keras kepalanya memang antik.


"Nggak papa Oom. Perkenalkan, saya Edward Blair, kakak dari Stephen Blair."


"Nak Edward pengacara juga?" tanya papa Aryanto.


Tadi mas, sekarang nak. Keluarga mu memang menyenangkan, Yuna.


"Bukan Oom, saya pengusaha restauran di Inggris dan Skotlandia."


"Inggris? Skotlandia? Apa hubungannya dengan Duncan McGregor?"


"Dia boss saya Oom."


"Ini dalam rangka apa ke Jakarta?"


Masa aku harus bilang mengejar anakmu?


"Saya ada urusan di Jakarta soal bisnis."


Kedua pria itu kemudian membicarakan soal bisnis hingga seorang pelayan datang membawakan minuman teh panas dan jajanan pasar.



***


Yuna keluar dari kamarnya dan tertegun mendengar kedua orangtuanya malah asyik ngobrol dengan Edward.


Bule satu itu kenapa nggak pulang-pulang?


"Nak Edward, makan siang disini saja sekalian. Sekali-sekali cobain masakan Tante"


Astaghfirullah mama! Malah ajak bule itu maksi disini? Tambah besar kepala dong tuh bule!


Yuna berdiri di tangga sambil menatap tajam Edward.


"Terimakasih Tante, dengan senang hati saya akan mencicipi masakan Tante" jawab Edward manis dengan tatapan mengejek Yuna yang melengos.


Baru kali ini aku melihat Yuna berbeda jika ada orangtuanya.


"Mr Edward sudah mau pulang ma. Kan dia besok sudah kembali ke Inggris" sahut Yuna datar.


"Eh nggak boleh gitu. Makan siang dulu, baru boleh pulang! Kamu tuh jangan judes-judes ah jadi cewek" tegur mama Rani yang membuat Yuna tidak bisa membantah omongan mamanya.


"Ayo Nak Edward, kita makan siang bersama" ajak papa Aryanto.


"Apa pa? 'Nak'?" desis Yuna kaget.


Ya ampun susahnya punya orang tua Jawa buangets ya begini ini!


"Lha kenapa? Daripada 'son' entar dikira kependekan dari sontoloyo" gelak papa Aryanto.


"Tapi dia memang sontoloyo sih" ucap Yuna asal.


"Hah? Maksudnya apa ya?" tanya Edward tidak mengerti mengikuti keluarga Pratomo itu.


"Nggak usah paham Mr Edward. Bukan hal yang penting" ucap Yuna dingin.


Papa Aryanto dan mama Rani hanya menatap keduanya bingung.


Keempatnya pun sudah sampai di meja makan dan lagi-lagi Yuna harus bersebelahan dengan Edward. Menu makan siang kali ini adalah sop buntut dan iga goreng.



"Nak Edward, Tante mau tanya boleh?" mama Rani menatap Edward.


"Silahkan Tante."


"Apa yang terjadi dengan pipi nak Edward?"


Yuna terhenyak mendengar pertanyaan mamanya.


"Oh ini? Saya kena tonjok."


"Oleh siapa?" tanya papa Aryanto.


Edward melirik ke arah Yuna lalu tersenyum.


"Oleh putri Oom dan Tante."


Mama Rani dan Papa Aryanto menatap tajam Yuna.


"Yuna Indira Pratomo!"


Yuna hanya melengos sembari memakan iga gorengnya sementara Edward tersenyum geli melihat gadis itu sebal.


***


Yuhuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️